Doktor IPB Beberkan Pentingnya Jejaring dan Komunikasi dalam Penguatan Korporasi Petani
Selasa, 09 September 2025 - 17:55 WIB
loading...
Shinta Anggreany resmi meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan usai menjalani sidang terbuka di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Foto/Ist.
A
A
A
JAKARTA - Kabar membanggakan datang dari IPB University. Shinta Anggreany resmi meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan usai menjalani sidang terbuka di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA).
Penelitiannya tentang jaringan komunikasi dalam korporasi petani mengungkap faktor penting yang selama ini luput dari perhatian: kekuatan petani ternyata bukan semata soal modal dan teknologi, melainkan ada di cara mereka berkomunikasi dan berjejaring.
Selain berkiprah di dunia akademik, Shinta juga aktif sebagai penyuluh pertanian di Kementerian Pertanian, sehingga risetnya berpijak pada pengalaman langsung mendampingi petani.
Baca juga: Mensos: Siswa Sekolah Rakyat Dapat Laptop Akhir September
Dalam risetnya, Shinta meneliti program korporasi petani di Karawang yang sudah berjalan sejak 2018. Hasilnya cukup mengejutkan bahwa hambatan terbesar ada pada arus informasi yang lemah antarpetani dan minim koordinasi antar petani dan antar pertani dengan stakeholders di mana dukungan teknologi belum cukup kuat jika tanpa keterlibatan aktif para stakeholders eksternal.
Pertukaran informasi antarpelaku terbukti mendorong koordinasi, inovasi, dan partisipasi anggota dan sebaliknya, pertukaran materi yang hanya bersifat transaksi tidak banyak berpengaruh pada keberlanjutan korporasi petani.
Untuk itu, terang Shinta, strategi komunikasi merupakan hal urgen untuk memperkokoh struktur internal melalui pembentukan unit komunikasi khusus, optimalisasi peran opinion leaders, bridging actor forum komunikasi rutin, dan kanal digital internal. Shinta menegaskan bahwa strategi komunikasi yang inklusif dan partisipatif adalah kunci untuk memperkokoh kelembagaan petani.
Beberapa langkah yang ia tawarkan antara lain membentuk unit komunikasi khusus dalam korporasi petani; memperkuat peran opinion leaders dan aktor penghubung melalui forum rutin, memanfaatkan kanal digital internal dan meningkatkan literasi digital petani, membina kolaborasi formal dengan pemerintah, swasta, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi.
Jika strategi ini dijalankan, Shinta meyakini partisipasi petani akan meningkat, solidaritas antaranggota makin kuat sehingga pengembangan korporasi petani bisa berkelanjutan.
Keberhasilan Shinta meraih gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga harapan baru bagi dunia pertanian Indonesia.
Ia menegaskan komitmennya untuk terus meneliti dan mengadvokasi model komunikasi pertanian yang mampu memberdayakan petani.
“Petani kita kuat, hanya saja seringkali terhambat karena tidak ada alur komunikasi yang jelas. Riset ini saya dedikasikan untuk membantu mereka membangun jejaring yang lebih solid baik internal maupun dengan stakeholders,” ujarnya selepas sidang.
Dengan gagasan segar ini, Dr. Shinta Anggreany layak disebut sebagai salah satu pakar muda yang akan berperan besar dalam pembangunan pertanian dan pedesaan berkelanjutan di Indonesia.
Penelitiannya tentang jaringan komunikasi dalam korporasi petani mengungkap faktor penting yang selama ini luput dari perhatian: kekuatan petani ternyata bukan semata soal modal dan teknologi, melainkan ada di cara mereka berkomunikasi dan berjejaring.
Selain berkiprah di dunia akademik, Shinta juga aktif sebagai penyuluh pertanian di Kementerian Pertanian, sehingga risetnya berpijak pada pengalaman langsung mendampingi petani.
Baca juga: Mensos: Siswa Sekolah Rakyat Dapat Laptop Akhir September
Dalam risetnya, Shinta meneliti program korporasi petani di Karawang yang sudah berjalan sejak 2018. Hasilnya cukup mengejutkan bahwa hambatan terbesar ada pada arus informasi yang lemah antarpetani dan minim koordinasi antar petani dan antar pertani dengan stakeholders di mana dukungan teknologi belum cukup kuat jika tanpa keterlibatan aktif para stakeholders eksternal.
Pertukaran informasi antarpelaku terbukti mendorong koordinasi, inovasi, dan partisipasi anggota dan sebaliknya, pertukaran materi yang hanya bersifat transaksi tidak banyak berpengaruh pada keberlanjutan korporasi petani.
Untuk itu, terang Shinta, strategi komunikasi merupakan hal urgen untuk memperkokoh struktur internal melalui pembentukan unit komunikasi khusus, optimalisasi peran opinion leaders, bridging actor forum komunikasi rutin, dan kanal digital internal. Shinta menegaskan bahwa strategi komunikasi yang inklusif dan partisipatif adalah kunci untuk memperkokoh kelembagaan petani.
Beberapa langkah yang ia tawarkan antara lain membentuk unit komunikasi khusus dalam korporasi petani; memperkuat peran opinion leaders dan aktor penghubung melalui forum rutin, memanfaatkan kanal digital internal dan meningkatkan literasi digital petani, membina kolaborasi formal dengan pemerintah, swasta, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi.
Jika strategi ini dijalankan, Shinta meyakini partisipasi petani akan meningkat, solidaritas antaranggota makin kuat sehingga pengembangan korporasi petani bisa berkelanjutan.
Keberhasilan Shinta meraih gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga harapan baru bagi dunia pertanian Indonesia.
Ia menegaskan komitmennya untuk terus meneliti dan mengadvokasi model komunikasi pertanian yang mampu memberdayakan petani.
“Petani kita kuat, hanya saja seringkali terhambat karena tidak ada alur komunikasi yang jelas. Riset ini saya dedikasikan untuk membantu mereka membangun jejaring yang lebih solid baik internal maupun dengan stakeholders,” ujarnya selepas sidang.
Dengan gagasan segar ini, Dr. Shinta Anggreany layak disebut sebagai salah satu pakar muda yang akan berperan besar dalam pembangunan pertanian dan pedesaan berkelanjutan di Indonesia.
(nnz)
Lihat Juga :