Generasi Muda dan Mahasiswa Dilibatkan dalam Pelestarian Habitat Monyet Bekantan
Rabu, 10 September 2025 - 14:29 WIB
loading...
Program CSR pelestarian habitat monyet bekantan di Pulau Curiak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melalui penanaman mangrove rambai serta penyelenggaraan program edukatif Sekolah Konservasi. Foto/Ist.
A
A
A
JAKARTA - Program Corporate Social Responsibility ( CSR ) PT Bridgestone Mining Solutions Indonesia (BMSI) menjalin kerja sama dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) pada pelestarian habitat monyet bekantan.
Kegiatan ini sukses digelar di Pulau Curiak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melalui penanaman mangrove rambai serta penyelenggaraan program edukatif “Sekolah Konservasi”, Kamis (4/9/2025).
Program ini melibatkan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat secara aktif melalui diskusi, penyampaian materi, dan praktik lapangan mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Dengan adanya Sekolah Konservasi, generasi muda diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap satwa endemik serta berkontribusi nyata dalam upaya konservasi lingkungan.
Baca juga: Program CSR Edukatif MNC Tourism Sukses Rangkai 3 Sekolah Sepanjang Agustus 2025
Pulau Curiak dikenal sebagai habitat alami monyet bekantan, satwa endemik Kalimantan yang saat ini berstatus terancam punah.
Melalui penanaman mangrove rambai, diharapkan kualitas ekosistem pulau ini dapat semakin terjaga dan mampu mendukung keberlangsungan populasi bekantan. Selain itu, rangkaian kegiatan juga diisi dengan program edukasi bertajuk Sekolah Konservasi.
“Sejak tahun 2018, kami secara rutin melaksanakan program CSR dengan fokus pada sektor lingkungan. Tahun ini, kami memilih pelestarian monyet bekantan karena habitatnya berada di Kalimantan, yang juga merupakan area penting bagi sektor pertambangan dan industri alat berat tempat fokus perusahaan kami. Kami percaya bahwa Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia adalah mitra yang tepat untuk merealisasikan program ini, karena mereka memiliki dedikasi dalam melindungi satwa endemik ini,” ujar Ina Rosalinda, General Manager Administrative Division PT BMSI, melalui siaran pers, Rabu (10/9/2025).
Pemilihan Pulau Curiak sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna khusus. Pulau kecil di Sungai Barito ini telah lama dikenal sebagai rumah alami bekantan, namun ekosistemnya mengalami tekanan akibat aktivitas manusia dan degradasi lingkungan. Dengan menanam mangrove rambai, PT BMSI bersama SBI berupaya memperkuat ketahanan ekosistem sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Dari sisi mitra, Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia melihat program ini sebagai langkah kolaboratif yang strategis.
Amalia Rezeki, Ketua Yayasan SBI, menegaskan, pihaknya sangat mengapresiasi kepercayaan PT BMSI untuk menjadikan mereka mitra dalam program konservasi ini. Pulau Curiak merupakan salah satu benteng terakhir bagi populasi bekantan, sehingga upaya rehabilitasi habitat dengan penanaman mangrove rambai sangat penting dilakukan.
"Melalui kolaborasi bersama dunia usaha, kami yakin dampak positif dari program ini akan lebih terasa, tidak hanya bagi keberlangsungan bekantan tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang turut merasakan manfaat dari ekosistem yang sehat," ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, BMSI berharap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan serta keberlanjutan kehidupan satwa liar di Indonesia, khususnya bekantan sebagai ikon fauna Kalimantan.
Dengan dukungan semua pihak, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Kegiatan ini sukses digelar di Pulau Curiak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melalui penanaman mangrove rambai serta penyelenggaraan program edukatif “Sekolah Konservasi”, Kamis (4/9/2025).
Program ini melibatkan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat secara aktif melalui diskusi, penyampaian materi, dan praktik lapangan mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Dengan adanya Sekolah Konservasi, generasi muda diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap satwa endemik serta berkontribusi nyata dalam upaya konservasi lingkungan.
Baca juga: Program CSR Edukatif MNC Tourism Sukses Rangkai 3 Sekolah Sepanjang Agustus 2025
Pulau Curiak dikenal sebagai habitat alami monyet bekantan, satwa endemik Kalimantan yang saat ini berstatus terancam punah.
Melalui penanaman mangrove rambai, diharapkan kualitas ekosistem pulau ini dapat semakin terjaga dan mampu mendukung keberlangsungan populasi bekantan. Selain itu, rangkaian kegiatan juga diisi dengan program edukasi bertajuk Sekolah Konservasi.
“Sejak tahun 2018, kami secara rutin melaksanakan program CSR dengan fokus pada sektor lingkungan. Tahun ini, kami memilih pelestarian monyet bekantan karena habitatnya berada di Kalimantan, yang juga merupakan area penting bagi sektor pertambangan dan industri alat berat tempat fokus perusahaan kami. Kami percaya bahwa Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia adalah mitra yang tepat untuk merealisasikan program ini, karena mereka memiliki dedikasi dalam melindungi satwa endemik ini,” ujar Ina Rosalinda, General Manager Administrative Division PT BMSI, melalui siaran pers, Rabu (10/9/2025).
Pemilihan Pulau Curiak sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna khusus. Pulau kecil di Sungai Barito ini telah lama dikenal sebagai rumah alami bekantan, namun ekosistemnya mengalami tekanan akibat aktivitas manusia dan degradasi lingkungan. Dengan menanam mangrove rambai, PT BMSI bersama SBI berupaya memperkuat ketahanan ekosistem sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Dari sisi mitra, Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia melihat program ini sebagai langkah kolaboratif yang strategis.
Amalia Rezeki, Ketua Yayasan SBI, menegaskan, pihaknya sangat mengapresiasi kepercayaan PT BMSI untuk menjadikan mereka mitra dalam program konservasi ini. Pulau Curiak merupakan salah satu benteng terakhir bagi populasi bekantan, sehingga upaya rehabilitasi habitat dengan penanaman mangrove rambai sangat penting dilakukan.
"Melalui kolaborasi bersama dunia usaha, kami yakin dampak positif dari program ini akan lebih terasa, tidak hanya bagi keberlangsungan bekantan tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang turut merasakan manfaat dari ekosistem yang sehat," ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, BMSI berharap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan serta keberlanjutan kehidupan satwa liar di Indonesia, khususnya bekantan sebagai ikon fauna Kalimantan.
Dengan dukungan semua pihak, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
(nnz)
Lihat Juga :