SGU Kenalkan Warisan Budaya Indonesia ke Mahasiswa Jerman
Jum'at, 19 September 2025 - 19:47 WIB
loading...
Swiss German University memperkenalkan beragam warisan budaya Indonesia kepada mahasiswa dari Jerman. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Lewat pertukaran pelajar, Swiss German University memperkenalkan beragam warisan budaya Indonesia kepada mahasiswa dari Jerman.
Hal itu terungkap setelah sejumlah mahasiswa ikut dalam gelaran kegiatan yang dilakukan SGU. Cara ini tidak hanya menambah ilmu pengetahuan, tetapi mempertemukan mereka dengan cerita, rasa, dan harmoni yang tumbuh dari interaksi lintas bangsa.
Baca juga: Lebih Ketat dan Transparan, Begini Ketentuan Terbaru SNBP 2026
“Setiap tahun, belasan hingga puluhan mahasiswa dari Jerman mengikuti program pertukaran pelajar di SGU. Mereka bukan hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga diajak menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia,” kata Rektor SGU Assoc. Prof. Dr. Dipl-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, Jumat (19/9/2025).
Sejak berdiri pada tahun 2000, SGU memang dikenal sebagai pionir universitas internasional di Indonesia. Berawal dari jejaring dengan mitra akademik di Jerman dan Swiss, kini kerja sama itu merambah hingga Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.
Baca juga: Mahasiswa Baru USG Didorong Jadi Problem Solver di Era AI
Dari sini, mahasiswa Indonesia punya kesempatan belajar ke luar negeri, sementara mahasiswa asing juga datang untuk merasakan pengalaman belajar di Indonesia.
Tidak heran, kata Rektor, momen-momen berharga yang tak bisa digambarkan hanya dengan angka atau sertifikat. Seperti pada 2024 lalu, misalnya, para mahasiswa Jerman diajak ke Puspo Budoyo.
“Mereka belajar tari tradisional, mencoba membuat kain jumputan, hingga memainkan gamelan. Meski awalnya canggung, perlahan irama gamelan justru menyatukan mereka dalam tawa dan rasa ingin tahu,” tambahnya.
Termasuk sajian nasi tumpeng sebagai kejutan. Bagi mereka, tumpeng bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang membuat jarak budaya seakan menghilang.
“Momen ketika mahasiswa asing dan lokal duduk melingkar, menyendok nasi kuning dari puncak tumpeng, menjadi bahasa persahabatan yang tak perlu diterjemahkan,” tambahnya.
Sementara di September 2025. Pengalaman budaya difokuskan pada musik angklung. Setiap mahasiswa hanya memegang satu atau dua nada, tetapi ketika dimainkan bersama, lahirlah harmoni yang indah.
Dari angklung, mereka belajar bahwa perbedaan justru memperkaya, karena harmoni tak mungkin tercipta bila semua memainkan nada yang sama. Selain itu, mereka mencoba membuat kerajinan tangan eco-pounding di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, memukul serat alam hingga menjadi karya seni yang sederhana namun bermakna.
“Tak hanya itu, mereka diajak berkeliling Jakarta untuk melihat landmark yang sarat simbol toleransi dan sejarah. Dari Masjid Istiqlal yang berdiri megah di seberang Gereja Katedral, hingga Monumen Nasional yang menjulang di pusat kota, setiap kunjungan menambah lapisan pemahaman mereka tentang Indonesia,” jelas Rektor.
Perjalanan ke Pecinan Jakarta membawa mereka pada jejak multikultural yang sudah berakar ratusan tahun, sementara di kawasan Kota Tua mereka menyaksikan bangunan kolonial, kerajinan wayang, hingga mencicipi jamu tradisional yang menjadi warisan tak ternilai.
Rektor melihat wisata pendidikan semacam ini menjadi esensi pendidikan internasional yang sebenarnya: bukan hanya tentang perkuliahan di ruang kelas, melainkan juga tentang merayakan keberagaman dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Di tengah arus globalisasi, SGU terus membuktikan dirinya bukan sekadar kampus berstandar internasional, tetapi juga jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.
Hal itu terungkap setelah sejumlah mahasiswa ikut dalam gelaran kegiatan yang dilakukan SGU. Cara ini tidak hanya menambah ilmu pengetahuan, tetapi mempertemukan mereka dengan cerita, rasa, dan harmoni yang tumbuh dari interaksi lintas bangsa.
Baca juga: Lebih Ketat dan Transparan, Begini Ketentuan Terbaru SNBP 2026
“Setiap tahun, belasan hingga puluhan mahasiswa dari Jerman mengikuti program pertukaran pelajar di SGU. Mereka bukan hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga diajak menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia,” kata Rektor SGU Assoc. Prof. Dr. Dipl-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, Jumat (19/9/2025).
Sejak berdiri pada tahun 2000, SGU memang dikenal sebagai pionir universitas internasional di Indonesia. Berawal dari jejaring dengan mitra akademik di Jerman dan Swiss, kini kerja sama itu merambah hingga Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.
Baca juga: Mahasiswa Baru USG Didorong Jadi Problem Solver di Era AI
Dari sini, mahasiswa Indonesia punya kesempatan belajar ke luar negeri, sementara mahasiswa asing juga datang untuk merasakan pengalaman belajar di Indonesia.
Tidak heran, kata Rektor, momen-momen berharga yang tak bisa digambarkan hanya dengan angka atau sertifikat. Seperti pada 2024 lalu, misalnya, para mahasiswa Jerman diajak ke Puspo Budoyo.
“Mereka belajar tari tradisional, mencoba membuat kain jumputan, hingga memainkan gamelan. Meski awalnya canggung, perlahan irama gamelan justru menyatukan mereka dalam tawa dan rasa ingin tahu,” tambahnya.
Termasuk sajian nasi tumpeng sebagai kejutan. Bagi mereka, tumpeng bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang membuat jarak budaya seakan menghilang.
“Momen ketika mahasiswa asing dan lokal duduk melingkar, menyendok nasi kuning dari puncak tumpeng, menjadi bahasa persahabatan yang tak perlu diterjemahkan,” tambahnya.
Sementara di September 2025. Pengalaman budaya difokuskan pada musik angklung. Setiap mahasiswa hanya memegang satu atau dua nada, tetapi ketika dimainkan bersama, lahirlah harmoni yang indah.
Dari angklung, mereka belajar bahwa perbedaan justru memperkaya, karena harmoni tak mungkin tercipta bila semua memainkan nada yang sama. Selain itu, mereka mencoba membuat kerajinan tangan eco-pounding di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, memukul serat alam hingga menjadi karya seni yang sederhana namun bermakna.
“Tak hanya itu, mereka diajak berkeliling Jakarta untuk melihat landmark yang sarat simbol toleransi dan sejarah. Dari Masjid Istiqlal yang berdiri megah di seberang Gereja Katedral, hingga Monumen Nasional yang menjulang di pusat kota, setiap kunjungan menambah lapisan pemahaman mereka tentang Indonesia,” jelas Rektor.
Perjalanan ke Pecinan Jakarta membawa mereka pada jejak multikultural yang sudah berakar ratusan tahun, sementara di kawasan Kota Tua mereka menyaksikan bangunan kolonial, kerajinan wayang, hingga mencicipi jamu tradisional yang menjadi warisan tak ternilai.
Rektor melihat wisata pendidikan semacam ini menjadi esensi pendidikan internasional yang sebenarnya: bukan hanya tentang perkuliahan di ruang kelas, melainkan juga tentang merayakan keberagaman dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Di tengah arus globalisasi, SGU terus membuktikan dirinya bukan sekadar kampus berstandar internasional, tetapi juga jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.
(nnz)
Lihat Juga :