Pakar IPB Ungkap Dampak Buruk Remaja yang Lebih Nyaman Curhat ke AI
Kamis, 25 September 2025 - 21:00 WIB
loading...
Ketersediaan AI selama 24 jam membuatnya seolah menjadi ‘teman virtual alami’ bagi generasi Z dan Alpha. Foto/Freepik.
A
A
A
JAKARTA - Teknologi semakin berubah. Remaja yang biasanya curhat ke teman sebaya atau orang tua kini malah lebih nyaman berbagi cerita dengan kecerdasan buatan atau AI.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany urun pendapat mengenai hal ini. Tren ini, katanya, perlu dipahami secara kritis karena menyimpan peluang sekaligus tantangan bagi tumbuh kembang remaja.
Baca juga: Rektor Arif Satria: Orientasi pada Target Jadi DNA Utama Mahasiswa IPB University
“Bagi remaja, AI dianggap netral dan tidak menghakimi. Mereka merasa lebih aman mengungkapkan perasaan tanpa takut dimarahi, disalahkan, atau diejek,” katanya, melalui siaran pers, Kamis (25/9/2025).
Ia menambahkan, ketersediaan AI selama 24 jam membuatnya seolah menjadi ‘teman virtual alami’ bagi generasi Z dan Alpha.
Namun, di balik sisi positif sebagai penyalur emosi, fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan komunikasi antara remaja dengan orang tua maupun jejaring sosialnya.
Menurut Dr Yulina, jika tidak dikelola dengan baik, curhat kepada AI dapat menimbulkan risiko serius, mulai dari privasi data hingga dampak psikologis.
Baca juga: Ahli Gizi: Makanan Rumahan Hanya Aman di Suhu Ruang Maksimal 4 Jam
“Remaja bisa saja mengalami kebocoran data pribadi karena interaksi mereka tersimpan di server penyedia layanan AI,” ujarnya.
Selain itu, ketergantungan emosional pada AI berpotensi menghambat keterampilan sosial remaja. AI yang selalu memberi respons instan membuat remaja kurang belajar mengelola frustasi, menunggu, atau bernegosiasi dengan orang lain.
“Keterampilan empati, membaca ekspresi wajah, dan komunikasi nyata bisa tereduksi jika semua curhat digantikan AI,” tambahnya.
Ia menekankan peran orang tua dan sekolah sangat penting. Orang tua perlu membangun komunikasi dua arah, mendengarkan tanpa menghakimi, sekaligus memberikan literasi digital tentang risiko berbagi data pribadi.
“Sesekali tanyakan kepada anak, dengan cara suportif, apa yang ia bicarakan dengan AI. Pendampingan aktif ini krusial agar remaja tidak salah langkah,” tutur Dr Yulina.
Bagi sekolah, integrasi literasi digital dan emosional dalam kurikulum menjadi kebutuhan mendesak. Guru bimbingan konseling (BK) juga perlu memahami fenomena ini agar remaja tetap nyaman berbicara dengan manusia.
“Sekolah dapat membentuk peer support system, yakni kelompok teman sebaya terlatih untuk mendengarkan. Dengan begitu, remaja tidak hanya bergantung pada AI,” jelasnya.
Fenomena remaja curhat ke AI, lanjut Dr Yulina, harus dijadikan momentum memperkuat komunikasi sehat dalam keluarga dan lingkungan sekolah. Terakhir, ia menyarankan agar platform AI sebaiknya menerapkan moderasi konten ketat, transparansi data, serta safeguard otomatis untuk merespons kata kunci berbahaya.
“AI sebaiknya diposisikan sebagai pendamping, bukan pengganti psikolog atau konselor. AI hanyalah alat, bukan pengganti relasi manusia,” pungkasnya.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany urun pendapat mengenai hal ini. Tren ini, katanya, perlu dipahami secara kritis karena menyimpan peluang sekaligus tantangan bagi tumbuh kembang remaja.
Baca juga: Rektor Arif Satria: Orientasi pada Target Jadi DNA Utama Mahasiswa IPB University
“Bagi remaja, AI dianggap netral dan tidak menghakimi. Mereka merasa lebih aman mengungkapkan perasaan tanpa takut dimarahi, disalahkan, atau diejek,” katanya, melalui siaran pers, Kamis (25/9/2025).
Ia menambahkan, ketersediaan AI selama 24 jam membuatnya seolah menjadi ‘teman virtual alami’ bagi generasi Z dan Alpha.
Namun, di balik sisi positif sebagai penyalur emosi, fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan komunikasi antara remaja dengan orang tua maupun jejaring sosialnya.
Menurut Dr Yulina, jika tidak dikelola dengan baik, curhat kepada AI dapat menimbulkan risiko serius, mulai dari privasi data hingga dampak psikologis.
Baca juga: Ahli Gizi: Makanan Rumahan Hanya Aman di Suhu Ruang Maksimal 4 Jam
“Remaja bisa saja mengalami kebocoran data pribadi karena interaksi mereka tersimpan di server penyedia layanan AI,” ujarnya.
Selain itu, ketergantungan emosional pada AI berpotensi menghambat keterampilan sosial remaja. AI yang selalu memberi respons instan membuat remaja kurang belajar mengelola frustasi, menunggu, atau bernegosiasi dengan orang lain.
“Keterampilan empati, membaca ekspresi wajah, dan komunikasi nyata bisa tereduksi jika semua curhat digantikan AI,” tambahnya.
Ia menekankan peran orang tua dan sekolah sangat penting. Orang tua perlu membangun komunikasi dua arah, mendengarkan tanpa menghakimi, sekaligus memberikan literasi digital tentang risiko berbagi data pribadi.
“Sesekali tanyakan kepada anak, dengan cara suportif, apa yang ia bicarakan dengan AI. Pendampingan aktif ini krusial agar remaja tidak salah langkah,” tutur Dr Yulina.
Bagi sekolah, integrasi literasi digital dan emosional dalam kurikulum menjadi kebutuhan mendesak. Guru bimbingan konseling (BK) juga perlu memahami fenomena ini agar remaja tetap nyaman berbicara dengan manusia.
“Sekolah dapat membentuk peer support system, yakni kelompok teman sebaya terlatih untuk mendengarkan. Dengan begitu, remaja tidak hanya bergantung pada AI,” jelasnya.
Fenomena remaja curhat ke AI, lanjut Dr Yulina, harus dijadikan momentum memperkuat komunikasi sehat dalam keluarga dan lingkungan sekolah. Terakhir, ia menyarankan agar platform AI sebaiknya menerapkan moderasi konten ketat, transparansi data, serta safeguard otomatis untuk merespons kata kunci berbahaya.
“AI sebaiknya diposisikan sebagai pendamping, bukan pengganti psikolog atau konselor. AI hanyalah alat, bukan pengganti relasi manusia,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :