I Made Joni, Dosen Unpad Masuk 2% Ilmuwan Dunia Berkat Riset dan Paten Nanoteknologi
Kamis, 16 Oktober 2025 - 07:33 WIB
loading...
A
A
A
Made juga mengembangkan material nano magnetik Fe₃O₄ bersifat superparamagnetik yang berpotensi sebagai pembawa obat sekaligus untuk pencitraan medis mirip MRI, yang dikenal sebagai Magnetic Particles Imaging (MPI). Material ini bahkan pernah dipakai untuk ekstraksi DNA-RNA saat pandemi Covid-19 dan sekarang sudah dapat diproduksi dalam negeri.
Sebagai Ketua Pusat Unggulan IPTEKS Functional Nano Powder Unpad, ia berpendapat bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia seharusnya menjadi modal utama pengembangan teknologi. Namun untuk mengoptimalkannya diperlukan penguasaan teknologi “tengah”, yakni proses yang mengubah bahan mentah jadi produk bernilai tambah.
“Indonesia sebenarnya sangat kaya, tapi belum bisa secara langsung meningkatkan kesejahteraan karena teknologi tengahnya itu tidak ada. Tugas kita itu mentransformasi ini menjadi sesuatu teknologi yang bisa mensejahterakan, bukan hanya satu industri tapi berbagai sektor,” jelasnya.
Di level global, Made melihat nanoteknologi sebagai kunci untuk pembangunan berkelanjutan karena kemampuannya menangani isu strategis seperti energi, pangan, kesehatan, dan lingkungan.
“Kalau saya rangkum, nanoteknologi itu untuk teknologi yang sustainable, yang membuat kelestarian. Lingkupnya energi, lingkungan, kesehatan, dan pangan. Dan itu kadang-kadang tidak bisa dikerjakan oleh satu bidang ilmu saja, bahkan lintas negara,” jelasnya.
Perjalanan akademik Made bermula dari fisika teoretis, lalu bergeser ke arah yang lebih aplikatif sehingga memadukan teori dan praktik untuk menghadirkan penerapan sains yang nyata bagi masyarakat. Ia meraih Sarjana Fisika (S.Si.) dari Unpad pada 1998 (Instrumentasi), Magister Fisika (M.Sc.) dari Jawaharlal Nehru University, New Delhi pada 2000 (Fisika Teori), dan gelar Doktor Engineering dari Hiroshima University, Jepang pada 2011 (Rekayasa Material Nano) melalui beasiswa Doktor Luar Negeri Dikti angkatan pertama. Ia mulai mengajar di Departemen Fisika FMIPA Unpad pada 2001 dan dipromosikan menjadi Guru Besar pada 2016 karena kinerja yang unggul.
“Saya lahir dari bidang theoretical physics, tapi sekarang menggeser sedikit ke bidang yang sangat applied. Tidak mengurangi aplikasinya, justru memperluas penerapannya,” katanya.
Made menegaskan bahwa pencapaian sebagai profesor dan peneliti berkelas internasional bukan hasil instan, melainkan buah dari semangat tridarma perguruan tinggi—mengajar, meneliti, dan mengabdi.
Sebagai Ketua Pusat Unggulan IPTEKS Functional Nano Powder Unpad, ia berpendapat bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia seharusnya menjadi modal utama pengembangan teknologi. Namun untuk mengoptimalkannya diperlukan penguasaan teknologi “tengah”, yakni proses yang mengubah bahan mentah jadi produk bernilai tambah.
“Indonesia sebenarnya sangat kaya, tapi belum bisa secara langsung meningkatkan kesejahteraan karena teknologi tengahnya itu tidak ada. Tugas kita itu mentransformasi ini menjadi sesuatu teknologi yang bisa mensejahterakan, bukan hanya satu industri tapi berbagai sektor,” jelasnya.
Di level global, Made melihat nanoteknologi sebagai kunci untuk pembangunan berkelanjutan karena kemampuannya menangani isu strategis seperti energi, pangan, kesehatan, dan lingkungan.
“Kalau saya rangkum, nanoteknologi itu untuk teknologi yang sustainable, yang membuat kelestarian. Lingkupnya energi, lingkungan, kesehatan, dan pangan. Dan itu kadang-kadang tidak bisa dikerjakan oleh satu bidang ilmu saja, bahkan lintas negara,” jelasnya.
Perjalanan akademik Made bermula dari fisika teoretis, lalu bergeser ke arah yang lebih aplikatif sehingga memadukan teori dan praktik untuk menghadirkan penerapan sains yang nyata bagi masyarakat. Ia meraih Sarjana Fisika (S.Si.) dari Unpad pada 1998 (Instrumentasi), Magister Fisika (M.Sc.) dari Jawaharlal Nehru University, New Delhi pada 2000 (Fisika Teori), dan gelar Doktor Engineering dari Hiroshima University, Jepang pada 2011 (Rekayasa Material Nano) melalui beasiswa Doktor Luar Negeri Dikti angkatan pertama. Ia mulai mengajar di Departemen Fisika FMIPA Unpad pada 2001 dan dipromosikan menjadi Guru Besar pada 2016 karena kinerja yang unggul.
“Saya lahir dari bidang theoretical physics, tapi sekarang menggeser sedikit ke bidang yang sangat applied. Tidak mengurangi aplikasinya, justru memperluas penerapannya,” katanya.
Made menegaskan bahwa pencapaian sebagai profesor dan peneliti berkelas internasional bukan hasil instan, melainkan buah dari semangat tridarma perguruan tinggi—mengajar, meneliti, dan mengabdi.
Lihat Juga :