Beasiswa Multiple Intelligence UCJ Resmi Diluncurkan, Akui 8 Jenis Kecerdasan
Jum'at, 17 Oktober 2025 - 11:45 WIB
loading...
Universitas Ciputra Jakarta (UCJ) meluncurkan Beasiswa Multiple Intelligence dan peresmian topping off gedung kampus UC Jakarta. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Universitas Ciputra Jakarta (UCJ) menandai babak baru dalam dunia pendidikan Indonesia dengan dua momentum bersejarah: peluncuran Beasiswa Multiple Intelligence dan peresmian topping off gedung kampus UC Jakarta, sebuah program inovatif yang menghargai berbagai bentuk kecerdasan dan talenta anak muda Indonesia di era transformasi digital dan kecerdasan buatan.
Director, Board of Executive Yayasan Ciputra Pendidikan Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus memperkenalkan Beasiswa Multiple Intelligence, program beasiswa yang berpijak pada teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner (Harvard University).
Baca juga: MNC University Hadir di Edu-Fair SMAN 94 Jakarta, Disambut Antusias dengan Program Beasiswa Hingga 100%
Beasiswa ini mengakui delapan bentuk kecerdasan yang berbeda — Visual–Spatial, Linguistic–Verbal, Logical–Mathematical, Bodily–Kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, dan Naturalistic — sekaligus menandai UC Jakarta sebagai salah satu universitas pertama di Indonesia yang resmi menerapkan konsep ini dalam pemberian beasiswa.
“Selama ini beasiswa sering hanya diberikan bagi mereka yang unggul di nilai akademik atau olahraga populer. Namun bagaimana dengan siswa yang memainkan alat musik dengan indah, meski tak pernah ikut lomba? Atau mereka yang berempati tinggi, mencipta dalam diam, dan memimpin dengan hati? Mereka pun layak dihargai,” ungkap Prof. Denny, melalui siaran pers, Jumat (17/10/2025).
Beasiswa Multiple Intelligence dikembangkan dengan semangat co-creation — kolaborasi antara universitas dan mahasiswa.
Siswa SMA dan sederajat diajak untuk menunjukkan bakat unik mereka serta menjelaskan bagaimana potensi tersebut dapat berkontribusi bagi UC Jakarta dan program studi yang dipilih.
Tim panelis akan menilai kontribusi, orisinalitas, dan nilai kemanfaatan bakat peserta, kemudian menentukan bentuk dukungan beasiswa yang paling sesuai. Skemanya dapat berupa pembebasan biaya kuliah sebagian atau penuh, pendampingan akademik, hingga peluang mentoring bersama dosen dan praktisi industri.
“Kami percaya bahwa kecerdasan bukan satu dimensi. Kecerdasan itu beragam, dinamis, dan sangat manusiawi. Beasiswa ini adalah cara kami menghormati berbagai cara menjadi cerdas,” tambah Prof. Denny.
Selain program beasiswa, UC Jakarta juga menegaskan posisinya sebagai kampus masa depan berbasis entrepreneurship yang telah mengadopsi teknologi Generative AI (Gen-AI) ke dalam proses pembelajaran dan pengembangan kewirausahaan mahasiswa.
Kurikulum UC Jakarta dirancang untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya entrepreneurial-minded dan tech-literate, tetapi juga mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam bisnis, desain, dan inovasi sosial.
“Dengan fondasi entrepreneurship dan pemanfaatan Gen-AI, UC Jakarta ingin menumbuhkan generasi yang tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan, berkarya, dan memberi dampak bagi sekitarnya,” jelas Prof. Denny.
Sementara terkait topping off menegaskan bahwa makna dari acara topping off ini tidak hanya pada selesainya pembangunan gedung, melainkan pada “jiwa” yang akan menghidupinya — para generasi muda dengan impian dan potensi yang beragam.
“Setiap universitas memiliki momen yang mencerminkan jiwanya. Bagi UC Jakarta, momen itu bukan semata pada beton dan baja yang berdiri, tetapi pada pemikiran dan mimpi yang akan menghidupi kampus ini,” ujar Prof. Denny.
Menutup pidatonya, Prof. Denny menyampaikan pesan inspiratif bahwa gedung UC Jakarta yang baru bukan hanya simbol kemegahan arsitektur, melainkan tempat berseminya ide, kreativitas, dan karakter.
“Bangunan ini akan menjadi rumah bagi semua mimpi — akademik, kreatif, kewirausahaan, maupun spiritual.
Semoga setiap bakat yang dulu tak terlihat akhirnya menemukan cahayanya.”
Director, Board of Executive Yayasan Ciputra Pendidikan Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus memperkenalkan Beasiswa Multiple Intelligence, program beasiswa yang berpijak pada teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner (Harvard University).
Baca juga: MNC University Hadir di Edu-Fair SMAN 94 Jakarta, Disambut Antusias dengan Program Beasiswa Hingga 100%
Beasiswa ini mengakui delapan bentuk kecerdasan yang berbeda — Visual–Spatial, Linguistic–Verbal, Logical–Mathematical, Bodily–Kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, dan Naturalistic — sekaligus menandai UC Jakarta sebagai salah satu universitas pertama di Indonesia yang resmi menerapkan konsep ini dalam pemberian beasiswa.
“Selama ini beasiswa sering hanya diberikan bagi mereka yang unggul di nilai akademik atau olahraga populer. Namun bagaimana dengan siswa yang memainkan alat musik dengan indah, meski tak pernah ikut lomba? Atau mereka yang berempati tinggi, mencipta dalam diam, dan memimpin dengan hati? Mereka pun layak dihargai,” ungkap Prof. Denny, melalui siaran pers, Jumat (17/10/2025).
Beasiswa Multiple Intelligence dikembangkan dengan semangat co-creation — kolaborasi antara universitas dan mahasiswa.
Siswa SMA dan sederajat diajak untuk menunjukkan bakat unik mereka serta menjelaskan bagaimana potensi tersebut dapat berkontribusi bagi UC Jakarta dan program studi yang dipilih.
Tim panelis akan menilai kontribusi, orisinalitas, dan nilai kemanfaatan bakat peserta, kemudian menentukan bentuk dukungan beasiswa yang paling sesuai. Skemanya dapat berupa pembebasan biaya kuliah sebagian atau penuh, pendampingan akademik, hingga peluang mentoring bersama dosen dan praktisi industri.
“Kami percaya bahwa kecerdasan bukan satu dimensi. Kecerdasan itu beragam, dinamis, dan sangat manusiawi. Beasiswa ini adalah cara kami menghormati berbagai cara menjadi cerdas,” tambah Prof. Denny.
Selain program beasiswa, UC Jakarta juga menegaskan posisinya sebagai kampus masa depan berbasis entrepreneurship yang telah mengadopsi teknologi Generative AI (Gen-AI) ke dalam proses pembelajaran dan pengembangan kewirausahaan mahasiswa.
Kurikulum UC Jakarta dirancang untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya entrepreneurial-minded dan tech-literate, tetapi juga mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam bisnis, desain, dan inovasi sosial.
“Dengan fondasi entrepreneurship dan pemanfaatan Gen-AI, UC Jakarta ingin menumbuhkan generasi yang tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan, berkarya, dan memberi dampak bagi sekitarnya,” jelas Prof. Denny.
Sementara terkait topping off menegaskan bahwa makna dari acara topping off ini tidak hanya pada selesainya pembangunan gedung, melainkan pada “jiwa” yang akan menghidupinya — para generasi muda dengan impian dan potensi yang beragam.
“Setiap universitas memiliki momen yang mencerminkan jiwanya. Bagi UC Jakarta, momen itu bukan semata pada beton dan baja yang berdiri, tetapi pada pemikiran dan mimpi yang akan menghidupi kampus ini,” ujar Prof. Denny.
Menutup pidatonya, Prof. Denny menyampaikan pesan inspiratif bahwa gedung UC Jakarta yang baru bukan hanya simbol kemegahan arsitektur, melainkan tempat berseminya ide, kreativitas, dan karakter.
“Bangunan ini akan menjadi rumah bagi semua mimpi — akademik, kreatif, kewirausahaan, maupun spiritual.
Semoga setiap bakat yang dulu tak terlihat akhirnya menemukan cahayanya.”
(nnz)
Lihat Juga :