Kisah Amanda Eka Lupita, Wisudawan Termuda S2 UGM di Usia 22 Tahun
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 08:35 WIB
loading...
Dari total 2.028 lulusan magister, nama Amanda Eka Lupita menjadi sorotan karena berhasil meraih gelar Magister Ilmu Hama Tanaman di usia 22 tahun 6 bulan. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melahirkan lulusan berprestasi di program pascasarjana. Dari total 2.028 lulusan magister, nama Amanda Eka Lupita menjadi sorotan karena berhasil meraih gelar Magister Ilmu Hama Tanaman di usia 22 tahun 6 bulan, menjadikannya lulusan termuda di antara rekan-rekannya. Sebagai perbandingan, rata-rata usia lulusan program magister UGM adalah 30 tahun 6 bulan.
Amanda menyelesaikan studinya di Fakultas Pertanian UGM melalui skema fast track, yang memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan S1 dan S2 dalam waktu yang lebih singkat. Hebatnya, ia berhasil menuntaskan studi magisternya hanya dalam 1 tahun 11 bulan.
Baca juga: Kisah Sabrina dan Davina, 2 Mahasiswi Jurusan Teknik yang Jadi Wisudawan Termuda ITS
Meski awalnya tidak menargetkan untuk lulus cepat, Amanda mengaku tak menyangka akan menjadi lulusan termuda di jenjang S2. Menurutnya, program fast track sangat membantu mempercepat proses belajar tanpa mengurangi kualitas akademik.
“Saya tidak menyangka bisa secepat ini, tapi program fast track membuat perjalanan studi saya lebih efisien,” ujarnya, mengutip laman UGM, Sabtu (25/10/2025).
Baca juga: Cita-cita Jadi Notaris, Duiddo Imani Muhammad Jadi Wisudawan Termuda FH UGM 2025
Perjalanan akademik Amanda tentu tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat merasa kewalahan saat menyusun tesis. Namun, pengalaman tersebut justru mengajarkannya tentang ketekunan, berpikir kritis, dan menghargai proses belajar. “Awalnya saya hanya ingin cepat selesai, tapi sekarang saya menikmati setiap prosesnya,” kata Amanda.
Bagi Amanda, pendidikan adalah bentuk investasi jangka panjang. Ia selalu memegang pesan keluarganya: “Jangan lihat gunung dari puncaknya, terus melangkah saja pelan-pelan.” Prinsip itu membantunya menghadapi tantangan selama penelitian.
Kecintaannya terhadap dunia riset juga membuat Amanda tetap aktif dalam berbagai proyek penelitian dosen. Ia bahkan tengah mempersiapkan manuskrip publikasi ilmiah berdasarkan hasil tesisnya yang mengangkat tema “Keberagaman Bakteri Endosimbion pada Kutu Kebul (Bemisia tabaci) di Tanaman Terinfeksi Begomovirus.”
Menurut Amanda, riset ini berangkat dari ketertarikannya pada makhluk kecil yang berdampak besar bagi ekosistem, seperti serangga dan bakteri. “Serangga tidak hidup sendiri, mereka berinteraksi dengan bakteri yang bisa menularkan virus dan beradaptasi dengan lingkungan,” jelasnya.
Amanda menyelesaikan studinya di Fakultas Pertanian UGM melalui skema fast track, yang memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan S1 dan S2 dalam waktu yang lebih singkat. Hebatnya, ia berhasil menuntaskan studi magisternya hanya dalam 1 tahun 11 bulan.
Baca juga: Kisah Sabrina dan Davina, 2 Mahasiswi Jurusan Teknik yang Jadi Wisudawan Termuda ITS
Meski awalnya tidak menargetkan untuk lulus cepat, Amanda mengaku tak menyangka akan menjadi lulusan termuda di jenjang S2. Menurutnya, program fast track sangat membantu mempercepat proses belajar tanpa mengurangi kualitas akademik.
“Saya tidak menyangka bisa secepat ini, tapi program fast track membuat perjalanan studi saya lebih efisien,” ujarnya, mengutip laman UGM, Sabtu (25/10/2025).
Baca juga: Cita-cita Jadi Notaris, Duiddo Imani Muhammad Jadi Wisudawan Termuda FH UGM 2025
Perjalanan akademik Amanda tentu tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat merasa kewalahan saat menyusun tesis. Namun, pengalaman tersebut justru mengajarkannya tentang ketekunan, berpikir kritis, dan menghargai proses belajar. “Awalnya saya hanya ingin cepat selesai, tapi sekarang saya menikmati setiap prosesnya,” kata Amanda.
Bagi Amanda, pendidikan adalah bentuk investasi jangka panjang. Ia selalu memegang pesan keluarganya: “Jangan lihat gunung dari puncaknya, terus melangkah saja pelan-pelan.” Prinsip itu membantunya menghadapi tantangan selama penelitian.
Kecintaannya terhadap dunia riset juga membuat Amanda tetap aktif dalam berbagai proyek penelitian dosen. Ia bahkan tengah mempersiapkan manuskrip publikasi ilmiah berdasarkan hasil tesisnya yang mengangkat tema “Keberagaman Bakteri Endosimbion pada Kutu Kebul (Bemisia tabaci) di Tanaman Terinfeksi Begomovirus.”
Menurut Amanda, riset ini berangkat dari ketertarikannya pada makhluk kecil yang berdampak besar bagi ekosistem, seperti serangga dan bakteri. “Serangga tidak hidup sendiri, mereka berinteraksi dengan bakteri yang bisa menularkan virus dan beradaptasi dengan lingkungan,” jelasnya.
(nnz)
Lihat Juga :