Sejarah Hari Sumpah Pemuda yang Diperingati Tiap 28 Oktober
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 11:23 WIB
loading...
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebuah momen bersejarah yang menjadi tonggak persatuan nasional. Foto/Kemenpora.
A
A
A
JAKARTA - Setiap tanggal 28 Oktober , bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda , sebuah momen bersejarah yang menjadi tonggak persatuan nasional.
Peringatan ini bukan hanya seremonial belaka, tetapi juga momentum refleksi atas perjuangan para pemuda yang pada tahun 1928 menyatukan tekad dan identitas kebangsaan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
Baca juga: Anak Pemulung Ini Raih Penghargaan dari Kemenpora di Momen Sumpah Pemuda, Berikut Kisahnya
Semangat persatuan yang lahir dari perbedaan tersebut menjadi dasar kuat dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda adalah simbol kesadaran kolektif generasi muda untuk menanggalkan ego kedaerahan dan bersatu dalam satu tujuan, yakni membangun tanah air yang merdeka.
Nilai-nilai yang diwariskan dari peristiwa ini terus hidup hingga kini, menginspirasi generasi muda untuk menjaga keutuhan NKRI, memperkuat rasa cinta tanah air, dan berperan aktif dalam kemajuan bangsa di berbagai bidang kehidupan.
Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan hasil dari proses panjang perjuangan dan kesadaran nasional yang tumbuh secara bertahap di kalangan generasi muda Indonesia. Kesadaran ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari semangat pergerakan yang mulai berkembang sejak awal abad ke-20.
Saat itu, berbagai organisasi pemuda bermunculan dengan tujuan memperjuangkan kepentingan rakyat serta menumbuhkan rasa kebangsaan di tengah penjajahan Belanda. Beberapa organisasi yang memiliki pengaruh besar antara lain Budi Utomo, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, serta Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Baca juga: Menpora Dito Berikan Apresiasi, Puncak Peringatan HSP ke-96 Dihadiri 25 Menteri dan Wakil Menteri
Keberadaan organisasi-organisasi ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya semangat persatuan di kalangan pemuda. Tokoh-tokoh muda seperti Mohammad Yamin, Soegondo Djojopoespito, dan Amir Sjarifuddin berperan besar dalam menyatukan berbagai organisasi tersebut.
Ketiganya merupakan anggota aktif PPPI yang memiliki visi membentuk organisasi pemuda berskala nasional yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Melalui berbagai diskusi dan pertemuan, mereka mengupayakan agar semangat persatuan dapat menjadi dasar perjuangan menuju kemerdekaan.
Kongres pertama ini menjadi langkah awal dalam upaya menyatukan organisasi-organisasi pemuda yang masih berorientasi pada daerah dan suku masing-masing. Walaupun belum menghasilkan ikrar resmi, kongres ini berhasil menanamkan semangat kerja sama antar pemuda serta menegaskan cita-cita bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia. Dari sinilah lahir kesadaran kolektif untuk membangun fondasi persatuan di antara pemuda Nusantara.
Puncak dari perjuangan tersebut terjadi ketika PPPI berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda II di Batavia (sekarang Jakarta) pada 27–28 Oktober 1928. Kongres ini dihadiri sekitar 200 delegasi dari 59 organisasi pemuda yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pada hari pertama, para peserta membahas berbagai isu penting yang dihadapi bangsa, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hingga politik.
Hari kedua menjadi momen bersejarah ketika kongres menghasilkan dua keputusan penting: pertama, pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai wadah koordinasi antarorganisasi pemuda; dan kedua, pengikraran teks Sumpah Pemuda sebagai pernyataan persatuan bangsa. Teks tersebut dirumuskan oleh Mohammad Yamin, kemudian dibacakan secara lantang oleh Soegondo Djojopoespito, dan diikuti oleh seluruh peserta kongres.
Isi ikrar tersebut berbunyi:
1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar inilah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, simbol persatuan bangsa yang menjadi titik balik dalam sejarah perjuangan menuju kemerdekaan.
Tiga butir ikrar Sumpah Pemuda memiliki makna mendalam yang menegaskan pentingnya persatuan dalam keberagaman.
1. Satu Tanah Air bermakna pengakuan bahwa seluruh wilayah Nusantara adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
2. Satu Bangsa menggambarkan tekad untuk membentuk identitas nasional yang melampaui perbedaan etnis dan budaya.
3. Satu Bahasa Persatuan menunjukkan komitmen menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa tanpa meniadakan bahasa daerah.
Untuk peringatan ke-97 tahun 2025, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengusung tema: “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.” Tema ini menekankan pentingnya aksi nyata dan kolaborasi generasi muda dalam memperkuat persatuan nasional di era modern.
Logo resminya mengandung makna filosofis mendalam:
1. Sayap Burung Garuda melambangkan semangat kebangsaan.
2. Empat Sayap Membentuk Tangan menandakan kerja sama dan kolaborasi.
3. Panah ke Kanan mencerminkan kemajuan dan semangat progresif.
4. Besi dan Cahaya melambangkan keteguhan, kerja keras, serta sinar kemajuan bangsa.
Secara keseluruhan, logo ini menggambarkan perjalanan Indonesia yang kuat, berjiwa besar, dan berempati, hasil dari semangat juang yang diwariskan sejak Sumpah Pemuda 1928.
M/G Nabila Sahrani Isrofaatin
Peringatan ini bukan hanya seremonial belaka, tetapi juga momentum refleksi atas perjuangan para pemuda yang pada tahun 1928 menyatukan tekad dan identitas kebangsaan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
Baca juga: Anak Pemulung Ini Raih Penghargaan dari Kemenpora di Momen Sumpah Pemuda, Berikut Kisahnya
Semangat persatuan yang lahir dari perbedaan tersebut menjadi dasar kuat dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda adalah simbol kesadaran kolektif generasi muda untuk menanggalkan ego kedaerahan dan bersatu dalam satu tujuan, yakni membangun tanah air yang merdeka.
Nilai-nilai yang diwariskan dari peristiwa ini terus hidup hingga kini, menginspirasi generasi muda untuk menjaga keutuhan NKRI, memperkuat rasa cinta tanah air, dan berperan aktif dalam kemajuan bangsa di berbagai bidang kehidupan.
Sejarah Hari Sumpah Pemuda yang Diperingati Tiap 28 Oktober
Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan hasil dari proses panjang perjuangan dan kesadaran nasional yang tumbuh secara bertahap di kalangan generasi muda Indonesia. Kesadaran ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari semangat pergerakan yang mulai berkembang sejak awal abad ke-20.
Saat itu, berbagai organisasi pemuda bermunculan dengan tujuan memperjuangkan kepentingan rakyat serta menumbuhkan rasa kebangsaan di tengah penjajahan Belanda. Beberapa organisasi yang memiliki pengaruh besar antara lain Budi Utomo, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, serta Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Baca juga: Menpora Dito Berikan Apresiasi, Puncak Peringatan HSP ke-96 Dihadiri 25 Menteri dan Wakil Menteri
Keberadaan organisasi-organisasi ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya semangat persatuan di kalangan pemuda. Tokoh-tokoh muda seperti Mohammad Yamin, Soegondo Djojopoespito, dan Amir Sjarifuddin berperan besar dalam menyatukan berbagai organisasi tersebut.
Ketiganya merupakan anggota aktif PPPI yang memiliki visi membentuk organisasi pemuda berskala nasional yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Melalui berbagai diskusi dan pertemuan, mereka mengupayakan agar semangat persatuan dapat menjadi dasar perjuangan menuju kemerdekaan.
Kongres Pemuda I (30 April–2 Mei 1926)
Kongres pertama ini menjadi langkah awal dalam upaya menyatukan organisasi-organisasi pemuda yang masih berorientasi pada daerah dan suku masing-masing. Walaupun belum menghasilkan ikrar resmi, kongres ini berhasil menanamkan semangat kerja sama antar pemuda serta menegaskan cita-cita bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia. Dari sinilah lahir kesadaran kolektif untuk membangun fondasi persatuan di antara pemuda Nusantara.
Kongres Pemuda II (27–28 Oktober 1928)
Puncak dari perjuangan tersebut terjadi ketika PPPI berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda II di Batavia (sekarang Jakarta) pada 27–28 Oktober 1928. Kongres ini dihadiri sekitar 200 delegasi dari 59 organisasi pemuda yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pada hari pertama, para peserta membahas berbagai isu penting yang dihadapi bangsa, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hingga politik.
Hari kedua menjadi momen bersejarah ketika kongres menghasilkan dua keputusan penting: pertama, pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai wadah koordinasi antarorganisasi pemuda; dan kedua, pengikraran teks Sumpah Pemuda sebagai pernyataan persatuan bangsa. Teks tersebut dirumuskan oleh Mohammad Yamin, kemudian dibacakan secara lantang oleh Soegondo Djojopoespito, dan diikuti oleh seluruh peserta kongres.
Isi ikrar tersebut berbunyi:
1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar inilah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, simbol persatuan bangsa yang menjadi titik balik dalam sejarah perjuangan menuju kemerdekaan.
Makna dan Nilai Sumpah Pemuda
Tiga butir ikrar Sumpah Pemuda memiliki makna mendalam yang menegaskan pentingnya persatuan dalam keberagaman.
1. Satu Tanah Air bermakna pengakuan bahwa seluruh wilayah Nusantara adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
2. Satu Bangsa menggambarkan tekad untuk membentuk identitas nasional yang melampaui perbedaan etnis dan budaya.
3. Satu Bahasa Persatuan menunjukkan komitmen menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa tanpa meniadakan bahasa daerah.
Tema dan Logo Resmi Hari Sumpah Pemuda 2025
Untuk peringatan ke-97 tahun 2025, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengusung tema: “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.” Tema ini menekankan pentingnya aksi nyata dan kolaborasi generasi muda dalam memperkuat persatuan nasional di era modern.
Logo resminya mengandung makna filosofis mendalam:
1. Sayap Burung Garuda melambangkan semangat kebangsaan.
2. Empat Sayap Membentuk Tangan menandakan kerja sama dan kolaborasi.
3. Panah ke Kanan mencerminkan kemajuan dan semangat progresif.
4. Besi dan Cahaya melambangkan keteguhan, kerja keras, serta sinar kemajuan bangsa.
Secara keseluruhan, logo ini menggambarkan perjalanan Indonesia yang kuat, berjiwa besar, dan berempati, hasil dari semangat juang yang diwariskan sejak Sumpah Pemuda 1928.
M/G Nabila Sahrani Isrofaatin
(nnz)
Lihat Juga :