Siasat Gizi Seimbang dan Jurus Anti-Hoaks: Panduan Penting untuk Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus
Senin, 27 Oktober 2025 - 13:13 WIB
loading...
Menjadi orang tua bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seringkali datang dengan tantangan ganda, terutama dalam urusan asupan gizi. Foto/UAI.
A
A
A
JAKARTA - Menjadi orang tua bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seringkali datang dengan tantangan ganda, terutama dalam urusan asupan gizi . ABK terus tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain, namun mereka rentan terhadap masalah gizi yang kompleks akibat tantangan sensorik, motorik, dan interaksi obat.
Sementara itu, informasi spesifik dan kredibel mengenai gizi ABK masih sulit ditemukan oleh orang tua dan guru pendamping. Lantas, bagaimana orang tua bisa memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sekaligus membentengi diri dari banjir informasi di era digital?
Baca juga: Dedikasi Guru Eti Karwati Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Triguna Subang
Edukasi yang komprehensif mengenai gizi seimbang dan literasi digital adalah kuncinya. Terinspirasi dari inisiatif Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKMPM) Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), berikut adalah lima strategi jitu yang dapat diterapkan oleh setiap orang tua ABK.
Pada dasarnya kebutuhan gizi ABK sama dengan anak pada umumnya. Sehingga, langkah pertama adalah memahami Pedoman Gizi Seimbang. Orang tua perlu memastikan semua zat gizi yang dibutuhkan anak terpenuh. Penerapan Gizi Seimbang pada anak dapat mengacu pada pedoman "Isi Piringku" dari Kemenkes.
Dalam pedoman ini, piring makan anak dibagi menjadi dua bagian:
• Setengah Piring Pertama: Diisi karbohidrat dan protein. Komposisinya adalah 2/3 makanan pokok (nasi, umbi-umbian) dan 1/3 lauk pauk berprotein tinggi (daging, ikan, telur, tahu, tempe)
• Setengah Piring Kedua: Diisi sayur dan buah. Komposisinya adalah 2/3 sayur-mayur dan 1/3 buah-buahan
Menurut Lusi Anindia Rahmawati S.Gz, M.Si, Dosen Prodi Gizi UAI, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan:
Ciptakan lingkungan dan suasana yang nyaman saat anak makan.
• Pilih makanan yang tepat, lalu lakukan modifikasi bertahap untuk memastikan asupan bergizi tinggi.
• Ciptakan kebiasaan makan yang teratur agar anak terlatih memiliki kebiasaan yang baik.
• Selalu monitor berat badan dan tinggi badan anak serta gunakan rumus Indeks Massa Tubuh untuk mengetahui status gizi anak
Terdapat empat keterampilan penting yang harus dimiliki oleh orang tua ABK terkait literasi digital:
1) kemampuan untuk mencari informasi yang tepat ;
2) kemampuan untuk memahami isi informasi yang ditampilkan;
3) kemampuan untuk mengevaluasi informasi; dan yang terakhir
4) kemampuan untuk menerapkan informasi dalam keseharian.
Pada edukasi literasi digital kepada orangtua ABK di SLB Ulaka Penca, Najwa Mathla’ dan Dera Haidar, mahasiswa Ilmu Komunikasi UAI memberikan tips terhindar dari hoaks:
1) menghindari judul berita yang bombastis;
2) mengenali website sumber informasi dan
3) cek kredibilitas narasumber tokoh penyampai pesan dalam artikel atau konten digital.
Edukasi gizi paling efektif disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh emosi orang tua. Metode yang terbukti berhasil adalah Emo-Demo (Emotional Demonstration).
Dalam Emo-Demo di SLB Ulaka Penca, mahasiswa Prodi UAI Gizi, Nisa Nurromah dan Dwi Hayuni mempraktekkan penggunaan pasir sebagai analogi camilan dan bola pingpong sebagai analogi makanan bergizi, lalu dimasukkan ke dalam gelas yang mewakili perut anak.
Kegiatan pun disertai dengan nyanyian dan tarian yang sesuai dengan pesan gizi yang disampaikan. Melalui demonstrasi visual ini, orang tua diajak berpikir tentang pilihan makanan terbaik untuk anak mereka.
Anak-anak ABK juga bisa dilibatkan sebagai peserta aktif. Kegiatan yang interaktif dan menyenangkan, seperti mewarnai gambar dengan tema makanan bergizi, adalah sarana yang baik. Keterlibatan ini membantu terjalinnya ikatan emosi antara fasilitator dengan anak dan orang tua.
Setelah sesi edukasi berakhir, orang tua tetap memerlukan panduan. Sediakan materi pendukung yang dapat diakses kapan saja. Materi ini bisa berupa booklet dan video edukatif yang merangkum pedoman gizi seimbang dan tips literasi digital. Referensi ini memastikan orang tua dapat terus mempraktikkan literasi gizi di rumah, sehingga hak gizi ABK senantiasa terpenuhi.
Mungkin ada orang tua yang awalnya merespons negatif terhadap edukasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dialogis secara bertahap agar mereka memahami urgensi gizi bagi anak. Peran mediator yang baik, seperti sekolah (contohnya SLB Ulaka Penca), sangat penting dalam menjembatani komunikasi antara fasilitator dan orang tua.
Dengan pendekatan yang kolaboratif dan berbasis literasi digital, pemenuhan gizi ABK bukan lagi beban, melainkan sebuah inspirasi bagi sekolah dan komunitas lain.
Penulis: Kevin Prasanna Andrianto dan Ruvira Arindita
Sementara itu, informasi spesifik dan kredibel mengenai gizi ABK masih sulit ditemukan oleh orang tua dan guru pendamping. Lantas, bagaimana orang tua bisa memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sekaligus membentengi diri dari banjir informasi di era digital?
Baca juga: Dedikasi Guru Eti Karwati Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Triguna Subang
Edukasi yang komprehensif mengenai gizi seimbang dan literasi digital adalah kuncinya. Terinspirasi dari inisiatif Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKMPM) Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), berikut adalah lima strategi jitu yang dapat diterapkan oleh setiap orang tua ABK.
1. Pahami "Isi Piringku": Bukan Sekadar Porsi, Tapi Keseimbangan
Pada dasarnya kebutuhan gizi ABK sama dengan anak pada umumnya. Sehingga, langkah pertama adalah memahami Pedoman Gizi Seimbang. Orang tua perlu memastikan semua zat gizi yang dibutuhkan anak terpenuh. Penerapan Gizi Seimbang pada anak dapat mengacu pada pedoman "Isi Piringku" dari Kemenkes.
Dalam pedoman ini, piring makan anak dibagi menjadi dua bagian:
• Setengah Piring Pertama: Diisi karbohidrat dan protein. Komposisinya adalah 2/3 makanan pokok (nasi, umbi-umbian) dan 1/3 lauk pauk berprotein tinggi (daging, ikan, telur, tahu, tempe)
• Setengah Piring Kedua: Diisi sayur dan buah. Komposisinya adalah 2/3 sayur-mayur dan 1/3 buah-buahan
Menurut Lusi Anindia Rahmawati S.Gz, M.Si, Dosen Prodi Gizi UAI, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan:
Ciptakan lingkungan dan suasana yang nyaman saat anak makan.
• Pilih makanan yang tepat, lalu lakukan modifikasi bertahap untuk memastikan asupan bergizi tinggi.
• Ciptakan kebiasaan makan yang teratur agar anak terlatih memiliki kebiasaan yang baik.
• Selalu monitor berat badan dan tinggi badan anak serta gunakan rumus Indeks Massa Tubuh untuk mengetahui status gizi anak
2. Bekali Diri dengan Jurus Literasi Digital Anti-Hoaks
Di tengah derasnya informasi, orang tua ABK harus menjadi penyaring informasi yang cerdas. Pelatihan literasi digital penting agar orang tua mampu membedakan informasi gizi yang akurat dari berbagai sumber di internet dan terhindar dari hoaks. Bekal pengetahuan ini krusial demi kesehatan anak.Terdapat empat keterampilan penting yang harus dimiliki oleh orang tua ABK terkait literasi digital:
1) kemampuan untuk mencari informasi yang tepat ;
2) kemampuan untuk memahami isi informasi yang ditampilkan;
3) kemampuan untuk mengevaluasi informasi; dan yang terakhir
4) kemampuan untuk menerapkan informasi dalam keseharian.
Pada edukasi literasi digital kepada orangtua ABK di SLB Ulaka Penca, Najwa Mathla’ dan Dera Haidar, mahasiswa Ilmu Komunikasi UAI memberikan tips terhindar dari hoaks:
1) menghindari judul berita yang bombastis;
2) mengenali website sumber informasi dan
3) cek kredibilitas narasumber tokoh penyampai pesan dalam artikel atau konten digital.
3. Edukasi dengan Hati: Kuasai Metode Emo-Demo
Edukasi gizi paling efektif disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh emosi orang tua. Metode yang terbukti berhasil adalah Emo-Demo (Emotional Demonstration).
Dalam Emo-Demo di SLB Ulaka Penca, mahasiswa Prodi UAI Gizi, Nisa Nurromah dan Dwi Hayuni mempraktekkan penggunaan pasir sebagai analogi camilan dan bola pingpong sebagai analogi makanan bergizi, lalu dimasukkan ke dalam gelas yang mewakili perut anak.
Kegiatan pun disertai dengan nyanyian dan tarian yang sesuai dengan pesan gizi yang disampaikan. Melalui demonstrasi visual ini, orang tua diajak berpikir tentang pilihan makanan terbaik untuk anak mereka.
4. Jangan Lupakan Anak: Libatkan dalam Kegiatan Interaktif
Anak-anak ABK juga bisa dilibatkan sebagai peserta aktif. Kegiatan yang interaktif dan menyenangkan, seperti mewarnai gambar dengan tema makanan bergizi, adalah sarana yang baik. Keterlibatan ini membantu terjalinnya ikatan emosi antara fasilitator dengan anak dan orang tua.
5. Sediakan Amunisi Belajar Jangka Panjang
Setelah sesi edukasi berakhir, orang tua tetap memerlukan panduan. Sediakan materi pendukung yang dapat diakses kapan saja. Materi ini bisa berupa booklet dan video edukatif yang merangkum pedoman gizi seimbang dan tips literasi digital. Referensi ini memastikan orang tua dapat terus mempraktikkan literasi gizi di rumah, sehingga hak gizi ABK senantiasa terpenuhi.
Kunci Komunikasi:
Mungkin ada orang tua yang awalnya merespons negatif terhadap edukasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dialogis secara bertahap agar mereka memahami urgensi gizi bagi anak. Peran mediator yang baik, seperti sekolah (contohnya SLB Ulaka Penca), sangat penting dalam menjembatani komunikasi antara fasilitator dan orang tua.
Dengan pendekatan yang kolaboratif dan berbasis literasi digital, pemenuhan gizi ABK bukan lagi beban, melainkan sebuah inspirasi bagi sekolah dan komunitas lain.
Penulis: Kevin Prasanna Andrianto dan Ruvira Arindita
(nnz)
Lihat Juga :