Aktif Riset, Profesor Muda IPB University Raih Habibie Prize 2025
Selasa, 11 November 2025 - 10:38 WIB
loading...
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Anuraga Jayanegara (42 tahun), meraih Habibie Prize 2025. Foto/IPB.
A
A
A
JAKARTA - Habibie Prize memberikan penghargaan khusus kepada peneliti maupun ilmuwan dengan kontribusi penting bagi Tanah Air. Salah satu penerimanya adalahGuru Besar Fakultas Peternakan IPB University , Prof Anuraga Jayanegara (42 tahun).
Sosok Profesor muda ini mengaku tak menyangka ketika namanya diumumkan sebagai penerima penghargaan yang kerap disebut sebagai “Nobelnya Indonesia” tersebut.
“Saya sendiri tidak tahu prosesnya. Tiba-tiba dihubungi dan diberi kabar dapat Habibie Prize. Awalnya saya kira itu hoaks,” ujarnya, melalui siaran press, Selasa (11/11/2025).
Baca juga: Banyak Lulusan S3 Jadi Menteri, Prabowo: Kalau Enggak Bisa Perbaiki Sistem, Kelewatan
Habibie Prize 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Habibie Center dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Proses seleksi dan penilaian melibatkan berbagai institusi nasional maupun internasional, termasuk para peneliti dari luar negeri.
“Saya juga tidak tahu indikatornya apa, tapi mungkin karena riset saya berkesinambungan sejak S2 dulu sampai sekarang. Mungkin itu yang diakui,” ungkap sosok yang saat ini menjabat sebagai Direktur Kajian Strategis dan Reputasi Akadermik IPB University ini.
Baca juga: Profil Peter Berkowitz, Profesor Pembela Zionis Israel yang Diundang UI
Prof Anuraga mengurai, penelitiannya selama ini berfokus pada ilmu dan teknologi pakan, khususnya rekayasa pakan ternak untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Topik ini telah ia tekuni sejak masa studinya di Jerman dan Swiss, dan terus ia kembangkan selama lebih dari 15 tahun terakhir.
“Kami merekayasa pakan agar ternak tetap produktif, tetapi menghasilkan emisi metan yang lebih rendah. Jadi kontribusinya bukan hanya untuk sektor peternakan, tapi juga untuk mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Dalam penelitiannya, Prof Anuraga banyak memanfaatkan senyawa alami dari tanaman, seperti polifenol dan tanin—komponen yang juga terdapat pada teh dan dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan.
“Komponen sepat pada teh itu tanin. Nah, senyawa aktif itu yang kami manfaatkan dalam pakan ternak untuk menekan emisi metan,” tambahnya.
Sosok Profesor muda ini mengaku tak menyangka ketika namanya diumumkan sebagai penerima penghargaan yang kerap disebut sebagai “Nobelnya Indonesia” tersebut.
“Saya sendiri tidak tahu prosesnya. Tiba-tiba dihubungi dan diberi kabar dapat Habibie Prize. Awalnya saya kira itu hoaks,” ujarnya, melalui siaran press, Selasa (11/11/2025).
Baca juga: Banyak Lulusan S3 Jadi Menteri, Prabowo: Kalau Enggak Bisa Perbaiki Sistem, Kelewatan
Habibie Prize 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Habibie Center dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Proses seleksi dan penilaian melibatkan berbagai institusi nasional maupun internasional, termasuk para peneliti dari luar negeri.
“Saya juga tidak tahu indikatornya apa, tapi mungkin karena riset saya berkesinambungan sejak S2 dulu sampai sekarang. Mungkin itu yang diakui,” ungkap sosok yang saat ini menjabat sebagai Direktur Kajian Strategis dan Reputasi Akadermik IPB University ini.
Baca juga: Profil Peter Berkowitz, Profesor Pembela Zionis Israel yang Diundang UI
Prof Anuraga mengurai, penelitiannya selama ini berfokus pada ilmu dan teknologi pakan, khususnya rekayasa pakan ternak untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Topik ini telah ia tekuni sejak masa studinya di Jerman dan Swiss, dan terus ia kembangkan selama lebih dari 15 tahun terakhir.
“Kami merekayasa pakan agar ternak tetap produktif, tetapi menghasilkan emisi metan yang lebih rendah. Jadi kontribusinya bukan hanya untuk sektor peternakan, tapi juga untuk mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Dalam penelitiannya, Prof Anuraga banyak memanfaatkan senyawa alami dari tanaman, seperti polifenol dan tanin—komponen yang juga terdapat pada teh dan dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan.
“Komponen sepat pada teh itu tanin. Nah, senyawa aktif itu yang kami manfaatkan dalam pakan ternak untuk menekan emisi metan,” tambahnya.
(nnz)
Lihat Juga :