Profil Wiratni Budhijanto Dikukuhkan sebagai Guru Besar Teknik Kimia UGM dan Dedikasinya
Senin, 17 November 2025 - 15:59 WIB
loading...
Profil Prof. Ir. Wiratni Budhijanto, S.T., M.T., Ph.D., IPM, Guru Besar Teknik Kimia UGM. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencatat sejarah akademik dengan dikukuhkannya dua guru besar sekaligus dari Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, yaitu Prof. Ir. Wiratni Budhijanto, S.T., M.T., Ph.D., IPM. dan sang suami, Prof. Budhijanto. Keduanya resmi menyandang jabatan profesor dalam upacara pengukuhan yang digelar bersama pada 11 November 2025 di kampus UGM.
Dalam pidato pengukuhannya, pasangan akademisi ini menyoroti tantangan energi, pangan, dan lingkungan yang masih dihadapi Indonesia. Mereka menegaskan bahwa teknologi hanya akan memiliki makna jika memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Baca juga: Guru Besar UNJ: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Penghormatan Negara
Pendekatan kimiawi, kata mereka, harus berpadu dengan nilai sosial-humaniora agar solusi yang diciptakan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Dalam pidato berjudul “Humanitarian Bioprocess Engineering”, Prof. Wiratni menekankan pentingnya membumikan ilmu teknik bioproses agar tidak berhenti pada laboratorium atau jurnal ilmiah. Teknik bioproses, yang mengombinasikan biologi, matematika, dan rekayasa proses, dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong produksi berkelanjutan melalui pemanfaatan mikroorganisme.
Menurutnya, pendekatan ini selaras dengan agenda global menuju Net Zero Emission (NZE), terutama melalui pengembangan sumber daya terbarukan yang ramah lingkungan.
Baca juga: Aktif Riset, Profesor Muda IPB University Raih Habibie Prize 2025
Namun, Wiratni mengingatkan bahwa keberhasilan bioteknologi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis. “Rekayasa sosial” diperlukan agar masyarakat benar-benar memahami dan bersedia mengadopsi teknologi yang lahir dari riset ilmiah.
Ia mencontohkan pemanfaatan pupuk hayati, biogas, hingga teknologi pengolahan sampah yang tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku konsumsi dan pengelolaan limbah.
“Transisi menuju gaya hidup berkelanjutan memerlukan detoksifikasi sosial sebelum teknologi hijau dapat diadopsi,” tegasnya, dikutip dari laman UGM, Senin (17/11/2025).
Ia menambahkan bahwa berbagai persoalan sains tidak bisa selesai hanya dengan teknologi. Kolaborasi insinyur dan ilmuwan sosial-humaniora diperlukan untuk membangun strategi perubahan yang adil dan komprehensif.
“Konstruksi sosial adalah fondasi sebelum gedung teknologi tinggi dibangun,” ujarnya.
Pada 21 Juni 2018, media internasional Business Insider Belanda menempatkan nama Wiratni Budhijanto dalam daftar “The 39 Most Powerful Female Engineers of 2018”. Ia menjadi satu-satunya perempuan asal Indonesia yang masuk dalam daftar prestisius tersebut. Penghargaan ini mengakui kontribusinya dalam riset teknik kimia dan teknologi berkelanjutan yang berdampak luas bagi masyarakat.
Wiratni telah menjadi dosen di Departemen Teknik Kimia UGM sejak 1996, dan karya-karya ilmiahnya banyak berfokus pada bioproses, teknologi hijau, serta inovasi teknik yang relevan bagi kebutuhan masyarakat.
Prof. Wiratni Budhijanto lahir di Yogyakarta pada 7 Februari 1973 dan menempuh seluruh pendidikan tingginya di bidang teknik kimia. Perjalanan akademiknya dimulai di Universitas Gadjah Mada (UGM), tempat ia meraih gelar Sarjana Teknik Kimia (S.T.) pada tahun 1996.
Setelah itu, ia melanjutkan studi magister pada program yang sama di UGM dan menyelesaikan gelar Magister Teknik (M.T.) pada tahun 1999.
Komitmennya dalam mendalami ilmu teknik kimia membawanya ke Amerika Serikat. Dari tahun 2000 hingga 2003, ia menempuh pendidikan doktoral di West Virginia University, salah satu universitas yang dikenal kuat dalam riset teknik dan rekayasa.
Di sana, ia meraih gelar Ph.D. di bidang Chemical Engineering, yang menjadi landasan penting dalam kiprahnya sebagai peneliti dan akademisi di bidang teknik bioproses dan teknologi berkelanjutan.
Dalam pidato pengukuhannya, pasangan akademisi ini menyoroti tantangan energi, pangan, dan lingkungan yang masih dihadapi Indonesia. Mereka menegaskan bahwa teknologi hanya akan memiliki makna jika memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Baca juga: Guru Besar UNJ: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Penghormatan Negara
Pendekatan kimiawi, kata mereka, harus berpadu dengan nilai sosial-humaniora agar solusi yang diciptakan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Humanitarian Bioprocess Engineering: Gagasan Utama Wiratni
Dalam pidato berjudul “Humanitarian Bioprocess Engineering”, Prof. Wiratni menekankan pentingnya membumikan ilmu teknik bioproses agar tidak berhenti pada laboratorium atau jurnal ilmiah. Teknik bioproses, yang mengombinasikan biologi, matematika, dan rekayasa proses, dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong produksi berkelanjutan melalui pemanfaatan mikroorganisme.
Menurutnya, pendekatan ini selaras dengan agenda global menuju Net Zero Emission (NZE), terutama melalui pengembangan sumber daya terbarukan yang ramah lingkungan.
Baca juga: Aktif Riset, Profesor Muda IPB University Raih Habibie Prize 2025
Namun, Wiratni mengingatkan bahwa keberhasilan bioteknologi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis. “Rekayasa sosial” diperlukan agar masyarakat benar-benar memahami dan bersedia mengadopsi teknologi yang lahir dari riset ilmiah.
Ia mencontohkan pemanfaatan pupuk hayati, biogas, hingga teknologi pengolahan sampah yang tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku konsumsi dan pengelolaan limbah.
“Transisi menuju gaya hidup berkelanjutan memerlukan detoksifikasi sosial sebelum teknologi hijau dapat diadopsi,” tegasnya, dikutip dari laman UGM, Senin (17/11/2025).
Ia menambahkan bahwa berbagai persoalan sains tidak bisa selesai hanya dengan teknologi. Kolaborasi insinyur dan ilmuwan sosial-humaniora diperlukan untuk membangun strategi perubahan yang adil dan komprehensif.
“Konstruksi sosial adalah fondasi sebelum gedung teknologi tinggi dibangun,” ujarnya.
Diakui Dunia: Masuk Daftar 39 Most Powerful Female Engineers
Pada 21 Juni 2018, media internasional Business Insider Belanda menempatkan nama Wiratni Budhijanto dalam daftar “The 39 Most Powerful Female Engineers of 2018”. Ia menjadi satu-satunya perempuan asal Indonesia yang masuk dalam daftar prestisius tersebut. Penghargaan ini mengakui kontribusinya dalam riset teknik kimia dan teknologi berkelanjutan yang berdampak luas bagi masyarakat.
Wiratni telah menjadi dosen di Departemen Teknik Kimia UGM sejak 1996, dan karya-karya ilmiahnya banyak berfokus pada bioproses, teknologi hijau, serta inovasi teknik yang relevan bagi kebutuhan masyarakat.
Riwayat Pendidikan Wiratni Budhijanto
Prof. Wiratni Budhijanto lahir di Yogyakarta pada 7 Februari 1973 dan menempuh seluruh pendidikan tingginya di bidang teknik kimia. Perjalanan akademiknya dimulai di Universitas Gadjah Mada (UGM), tempat ia meraih gelar Sarjana Teknik Kimia (S.T.) pada tahun 1996.
Setelah itu, ia melanjutkan studi magister pada program yang sama di UGM dan menyelesaikan gelar Magister Teknik (M.T.) pada tahun 1999.
Komitmennya dalam mendalami ilmu teknik kimia membawanya ke Amerika Serikat. Dari tahun 2000 hingga 2003, ia menempuh pendidikan doktoral di West Virginia University, salah satu universitas yang dikenal kuat dalam riset teknik dan rekayasa.
Di sana, ia meraih gelar Ph.D. di bidang Chemical Engineering, yang menjadi landasan penting dalam kiprahnya sebagai peneliti dan akademisi di bidang teknik bioproses dan teknologi berkelanjutan.
(nnz)
Lihat Juga :