LSP Untar Diresmikan, Perkuat Daya Saing Lulusan di Pasar Kerja Global
Kamis, 20 November 2025 - 19:35 WIB
loading...
Rektor Untar: Prof. Dr. Amad Sudiro pada peresmian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Untar. Foto/Untar.
A
A
A
JAKARTA - Universitas Tarumanagara (Untar) resmi memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). LSP ini diwujudkan sebagai respons atas kebutuhan kompetensi profesional yang semakin tinggi di era persaingan global.
Peresmian LSP Untar ini dilakukan di Auditorium Untar, Rabu (19/11/2025), dibarengi dengan seminar yang mengusung tema “Meningkatkan Daya Saing Lulusan Perguruan Tinggi melalui Sertifikasi Profesi di Pasar Kerja Nasional & Global”.
Rektor Untar Prof. Dr. Amad Sudiro, dalam peresmian LSP menyampaikan bahwa pendirian LSP merupakan langkah strategis Untar dalam menghadapi tuntutan industri.
Baca juga: Lisensi Sertifikasi Profesi ke LSP Global Otomotif Dorong Kualitas SDM dan Industri
“Launching LSP ini merupakan salah satu langkah penting dalam upaya Untar untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Dengan adanya LSP Untar, kami berharap Untar dapat meningkatkan kompetensi lulusannya sesuai dengan standar industri,” ungkapnya, melalui siaran pers, Kamis (20/11/2025).
Prof. Amad menjelaskan bahwa pemberlakuan kewajiban sertifikasi akan dimulai pada awal tahun mendatang, khususnya bagi program studi yang sudah memiliki skema sertifikasi. Saat ini, terdapat sembilan skema awal yang berasal dari empat fakultas, yaitu:
Fakultas Teknik (Arsitektur)
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)
Untar memiliki total 32 program studi, dan seluruhnya akan dikembangkan agar memiliki skema sertifikasi masing-masing. Kampus juga sudah menyiapkan 24 asesor kompetensi untuk mendukung pelaksanaan sertifikasi.
Menurutnya, kehadiran LSP tidak hanya menjadi fasilitas tambahan, tetapi akan menjadi persyaratan wajib bagi mahasiswa sebelum lulus. Untar bahkan sedang menyiapkan Peraturan Rektor yang mewajibkan setiap mahasiswa mengambil minimal satu skema sertifikasi kompetensi sesuai program studi. “Istilah saya, lulusan Untar harus menjadi sarjana plus, yaitu sarjana yang memiliki sertifikasi dari BNSP,” jelasnya.
Ketua BNSP, Syamsi Hari menyatakan dukungannya kepada Untar untuk terus memperluas cakupan skema sertifikasi.
“LSP berfungsi untuk menjembatani lulusan kepada profesi yang ada di lapangan saat ini. Harapan saya adalah kembangkan terus skema-skema tersebut, bahkan hingga tingkat internasional kedepannya,” ujarnya.
Selain itu, Kepala Sekretariat BNSP, Moh. Amir Syarifuddin yang menjadi Keynote Speaker menekankan pentingnya sertifikasi profesi sebagai instrumen penguatan kualitas tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di skala internasional.
Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan MoU antara Ketua BNSP dan Sekretaris Pengurus Yayasan
Tarumanagara, Vedrych J. Kusnanto, disaksikan oleh seluruh peserta yang hadir.
Sekretaris Pengurus Yayasan Tarumanagara, Vedrych J. Kusnanto, menjelaskan bahwa yayasan sepenuhnya mendukung inisiatif Rektor Untar dalam menghadirkan LSP dengan menyiapkan fasilitas khusus yang representatif. “Dari pihak yayasan, kami mendukung penuh inisiatif Pak Rektor. Kami bahkan menyiapkan ruangan yang representatif untuk mendukung operasional LSP ini,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan LSP dapat memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kualitas lulusan Untar, khususnya dalam hal daya saing di pasar kerja. “Harapan kami, LSP ini bisa membantu Untar dalam meningkatkan kompetitivitas lulusan. Sertifikasi kompetensi membuat mahasiswa kita lebih siap bersaing di pasar kerja,” lanjutnya.
Vedrych juga menyoroti pentingnya LSP sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Selama ini masih terdapat kesenjangan antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan industri. “Saya melihat ada sedikit gap antara dunia pendidikan dan industri. Dengan sertifikasi yang sesuai kebutuhan industri global, lulusan bisa lebih siap bekerja sejak hari pertama,” ujarnya.
Peresmian LSP Untar ini dilakukan di Auditorium Untar, Rabu (19/11/2025), dibarengi dengan seminar yang mengusung tema “Meningkatkan Daya Saing Lulusan Perguruan Tinggi melalui Sertifikasi Profesi di Pasar Kerja Nasional & Global”.
Rektor Untar Prof. Dr. Amad Sudiro, dalam peresmian LSP menyampaikan bahwa pendirian LSP merupakan langkah strategis Untar dalam menghadapi tuntutan industri.
Baca juga: Lisensi Sertifikasi Profesi ke LSP Global Otomotif Dorong Kualitas SDM dan Industri
“Launching LSP ini merupakan salah satu langkah penting dalam upaya Untar untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Dengan adanya LSP Untar, kami berharap Untar dapat meningkatkan kompetensi lulusannya sesuai dengan standar industri,” ungkapnya, melalui siaran pers, Kamis (20/11/2025).
Prof. Amad menjelaskan bahwa pemberlakuan kewajiban sertifikasi akan dimulai pada awal tahun mendatang, khususnya bagi program studi yang sudah memiliki skema sertifikasi. Saat ini, terdapat sembilan skema awal yang berasal dari empat fakultas, yaitu:
Fakultas Teknik (Arsitektur)
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)
Untar memiliki total 32 program studi, dan seluruhnya akan dikembangkan agar memiliki skema sertifikasi masing-masing. Kampus juga sudah menyiapkan 24 asesor kompetensi untuk mendukung pelaksanaan sertifikasi.
Menurutnya, kehadiran LSP tidak hanya menjadi fasilitas tambahan, tetapi akan menjadi persyaratan wajib bagi mahasiswa sebelum lulus. Untar bahkan sedang menyiapkan Peraturan Rektor yang mewajibkan setiap mahasiswa mengambil minimal satu skema sertifikasi kompetensi sesuai program studi. “Istilah saya, lulusan Untar harus menjadi sarjana plus, yaitu sarjana yang memiliki sertifikasi dari BNSP,” jelasnya.
Ketua BNSP, Syamsi Hari menyatakan dukungannya kepada Untar untuk terus memperluas cakupan skema sertifikasi.
“LSP berfungsi untuk menjembatani lulusan kepada profesi yang ada di lapangan saat ini. Harapan saya adalah kembangkan terus skema-skema tersebut, bahkan hingga tingkat internasional kedepannya,” ujarnya.
Selain itu, Kepala Sekretariat BNSP, Moh. Amir Syarifuddin yang menjadi Keynote Speaker menekankan pentingnya sertifikasi profesi sebagai instrumen penguatan kualitas tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di skala internasional.
Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan MoU antara Ketua BNSP dan Sekretaris Pengurus Yayasan
Tarumanagara, Vedrych J. Kusnanto, disaksikan oleh seluruh peserta yang hadir.
Sekretaris Pengurus Yayasan Tarumanagara, Vedrych J. Kusnanto, menjelaskan bahwa yayasan sepenuhnya mendukung inisiatif Rektor Untar dalam menghadirkan LSP dengan menyiapkan fasilitas khusus yang representatif. “Dari pihak yayasan, kami mendukung penuh inisiatif Pak Rektor. Kami bahkan menyiapkan ruangan yang representatif untuk mendukung operasional LSP ini,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan LSP dapat memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kualitas lulusan Untar, khususnya dalam hal daya saing di pasar kerja. “Harapan kami, LSP ini bisa membantu Untar dalam meningkatkan kompetitivitas lulusan. Sertifikasi kompetensi membuat mahasiswa kita lebih siap bersaing di pasar kerja,” lanjutnya.
Vedrych juga menyoroti pentingnya LSP sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Selama ini masih terdapat kesenjangan antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan industri. “Saya melihat ada sedikit gap antara dunia pendidikan dan industri. Dengan sertifikasi yang sesuai kebutuhan industri global, lulusan bisa lebih siap bekerja sejak hari pertama,” ujarnya.
(nnz)
Lihat Juga :