Kagumi Integritas Baharuddin Lopa, Rifa Okstriana Sabet Wisudawan Terbaik FH Unesa
Minggu, 23 November 2025 - 07:30 WIB
loading...
Wisudawan terbaik Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Nur Rifa Okstriana. Foto/Unesa.
A
A
A
JAKARTA - Wisudawan terbaik Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya ( Unesa ), Nur Rifa Okstriana, membuktikan bahwa ketekunan dan komitmen yang kuat mampu mengantarkan seseorang meraih prestasi tertinggi.
Perempuan asal Bojonegoro ini menuntaskan studinya dengan IPK 3,74 berpredikat sangat memuaskan dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Unesa pada wisuda ke-117 yang digelar 11 November 2025.
Rifa dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai kerja keras serta kejujuran. Putri pasangan Abdul Kamid, seorang wiraswasta, dan Sri Yuliani, seorang guru, ini mengungkapkan bahwa dua kakaknya memegang peran besar dalam perjalanan pendidikannya hingga mencapai titik tertinggi.
Baca juga: Unik, Kisah Mahasiswa Undip Bernama Z yang Lulus dengan Predikat Cum Laude
“Pada masa itu, keluarga kami sedang berada di titik terendah, tetapi kedua kakak saya berjuang keras agar saya bisa sampai di titik ini,” ungkapnya, mengutip laman Unesa, Minggu (23/11/2025).
Ia diterima sebagai mahasiswa Unesa melalui jalur SNMPTN dan memilih Program Studi S-1 Ilmu Hukum. Sosok jaksa agung legendaris Baharuddin Lopa menjadi salah satu sumber inspirasinya untuk memperdalam dunia hukum.
“Dari beliau saya belajar bahwa hukum bukan hanya soal pasal, tetapi tentang moralitas dan keberanian menjunjung kebenaran,” kata Rifa.
Baca juga: Sosok Ellana, Lulus S1 ITB dengan IPK Tertinggi yang Aktif Berorganisasi
Minatnya pada bidang Hukum Ketenagakerjaan mendorongnya menulis skripsi berjudul “Tinjauan Hukum Pemberian Upah di Bawah Upah Minimum kepada Dosen Tetap Perguruan Tinggi Swasta.” Ia mengangkat tema tersebut karena keprihatinan terhadap ketimpangan antara beban kerja dan pendapatan dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS), yang masih banyak menerima gaji di bawah Upah Minimum Provinsi, meski berstatus tenaga profesional.
Untuk meningkatkan kompetensinya, Rifa aktif sebagai bagian dari Tim Redaksi Indonesian Journal of Labor Law and Industrial Relations Fakultas Hukum Unesa. Selama menjadi editor, ia bertanggung jawab mengelola naskah, mengoordinasikan proses peer-review, serta memastikan kualitas artikel sesuai standar publikasi ilmiah.
Ia juga menulis artikel berjudul “Legal Protection of Women Workers on the Night Shift (Comparison of Indonesia and Malaysia)”, yang membahas perlindungan hukum bagi pekerja perempuan pada shift malam. Berbagai pengalaman ini menanamkan pemahaman kepadanya mengenai pentingnya ketelitian, disiplin, serta kolaborasi antara penulis dan reviewer agar karya ilmiah dapat memberi manfaat nyata.
Selain berprestasi secara akademik, Rifa juga terjun langsung mempraktikkan ilmu hukumnya. Ia pernah magang di PT Dharma Lautan Utama (DLU) untuk mendalami penerapan hukum ketenagakerjaan di perusahaan, termasuk pengelolaan data karyawan dan penyusunan dokumen perjanjian kerja.
Ia juga menjalani magang di Pengadilan Negeri Bojonegoro, di mana ia mempelajari proses administrasi perkara perdata dan pidana, pencatatan jalannya persidangan, hingga penyusunan berkas putusan.
Salah satu pengalaman kuliah yang paling membekas baginya adalah mengikuti Praktik Latihan Kemahiran Hukum (PLKH). Selama satu semester, ia dan teman-temannya melakukan simulasi persidangan dengan lengkap mulai dari peran hakim, jaksa, penasihat hukum, hingga panitera.
“Pengalaman itu sangat berharga karena benar-benar menggambarkan dunia kerja seorang praktisi hukum,” katanya.
Rifa juga aktif berkontribusi dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum. Ia pernah menjadi Staf Ahli Divisi Publikasi sebelum akhirnya dipercaya menjadi Ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan. Dalam peran itu, ia turut memimpin program Rangkul Puan, sebuah komunitas ramah gender yang menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesetaraan gender serta pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Usai lulus dan diwisuda, Rifa berkeinginan berkarier di instansi pemerintah atau lembaga peradilan, termasuk Mahkamah Agung atau BUMN. Ia juga memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) di bidang hukum untuk memperdalam keilmuan dan memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat.
Perempuan asal Bojonegoro ini menuntaskan studinya dengan IPK 3,74 berpredikat sangat memuaskan dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Unesa pada wisuda ke-117 yang digelar 11 November 2025.
Rifa dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai kerja keras serta kejujuran. Putri pasangan Abdul Kamid, seorang wiraswasta, dan Sri Yuliani, seorang guru, ini mengungkapkan bahwa dua kakaknya memegang peran besar dalam perjalanan pendidikannya hingga mencapai titik tertinggi.
Baca juga: Unik, Kisah Mahasiswa Undip Bernama Z yang Lulus dengan Predikat Cum Laude
“Pada masa itu, keluarga kami sedang berada di titik terendah, tetapi kedua kakak saya berjuang keras agar saya bisa sampai di titik ini,” ungkapnya, mengutip laman Unesa, Minggu (23/11/2025).
Ia diterima sebagai mahasiswa Unesa melalui jalur SNMPTN dan memilih Program Studi S-1 Ilmu Hukum. Sosok jaksa agung legendaris Baharuddin Lopa menjadi salah satu sumber inspirasinya untuk memperdalam dunia hukum.
“Dari beliau saya belajar bahwa hukum bukan hanya soal pasal, tetapi tentang moralitas dan keberanian menjunjung kebenaran,” kata Rifa.
Baca juga: Sosok Ellana, Lulus S1 ITB dengan IPK Tertinggi yang Aktif Berorganisasi
Minatnya pada bidang Hukum Ketenagakerjaan mendorongnya menulis skripsi berjudul “Tinjauan Hukum Pemberian Upah di Bawah Upah Minimum kepada Dosen Tetap Perguruan Tinggi Swasta.” Ia mengangkat tema tersebut karena keprihatinan terhadap ketimpangan antara beban kerja dan pendapatan dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS), yang masih banyak menerima gaji di bawah Upah Minimum Provinsi, meski berstatus tenaga profesional.
Untuk meningkatkan kompetensinya, Rifa aktif sebagai bagian dari Tim Redaksi Indonesian Journal of Labor Law and Industrial Relations Fakultas Hukum Unesa. Selama menjadi editor, ia bertanggung jawab mengelola naskah, mengoordinasikan proses peer-review, serta memastikan kualitas artikel sesuai standar publikasi ilmiah.
Ia juga menulis artikel berjudul “Legal Protection of Women Workers on the Night Shift (Comparison of Indonesia and Malaysia)”, yang membahas perlindungan hukum bagi pekerja perempuan pada shift malam. Berbagai pengalaman ini menanamkan pemahaman kepadanya mengenai pentingnya ketelitian, disiplin, serta kolaborasi antara penulis dan reviewer agar karya ilmiah dapat memberi manfaat nyata.
Selain berprestasi secara akademik, Rifa juga terjun langsung mempraktikkan ilmu hukumnya. Ia pernah magang di PT Dharma Lautan Utama (DLU) untuk mendalami penerapan hukum ketenagakerjaan di perusahaan, termasuk pengelolaan data karyawan dan penyusunan dokumen perjanjian kerja.
Ia juga menjalani magang di Pengadilan Negeri Bojonegoro, di mana ia mempelajari proses administrasi perkara perdata dan pidana, pencatatan jalannya persidangan, hingga penyusunan berkas putusan.
Salah satu pengalaman kuliah yang paling membekas baginya adalah mengikuti Praktik Latihan Kemahiran Hukum (PLKH). Selama satu semester, ia dan teman-temannya melakukan simulasi persidangan dengan lengkap mulai dari peran hakim, jaksa, penasihat hukum, hingga panitera.
“Pengalaman itu sangat berharga karena benar-benar menggambarkan dunia kerja seorang praktisi hukum,” katanya.
Rifa juga aktif berkontribusi dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum. Ia pernah menjadi Staf Ahli Divisi Publikasi sebelum akhirnya dipercaya menjadi Ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan. Dalam peran itu, ia turut memimpin program Rangkul Puan, sebuah komunitas ramah gender yang menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesetaraan gender serta pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Usai lulus dan diwisuda, Rifa berkeinginan berkarier di instansi pemerintah atau lembaga peradilan, termasuk Mahkamah Agung atau BUMN. Ia juga memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) di bidang hukum untuk memperdalam keilmuan dan memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat.
(nnz)
Lihat Juga :