Peneliti BRIN Jelaskan Temuan Bunga Langka Rafflesia yang Didukung Oxford
Rabu, 26 November 2025 - 11:16 WIB
loading...
Dunia riset kini sedang dihebohkan dengan kecaman kepada University of Oxford yang tidak mencantumkan nama peneliti Indonesia pada temuan bunga langka Rafflesia hasseltii. Foto/BRIN.
A
A
A
JAKARTA - Dunia riset kini sedang dihebohkan dengan kecaman kepada University of Oxford yang tidak mencantumkan nama peneliti Indonesia pada temuan bunga langka Rafflesia hasseltii di Sumatera Barat.
Salah satu peneliti yang menemukan bunga tersebut adalah seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Joko Witono adalah peneliti BRIN dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi. Temuan salah satu spesies bunga langka ini sejatinya jadi bagian dari riset kolaboratif antara BRIN, Universitas Bengkulu, dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu.
Baca juga: Pesona Bunga Raflesia Merekah Merah di Hutan Kepulauan Anambas
Mereka bergabung dalam proyek The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia, yang bertujuan merekonstruksi hubungan filogenetik seluruh jenis Rafflesia di Asia Tenggara. Penelitian mendapatkan dukungan dana dari the University of Oxford Botanic Garden and Arboretum dan Program RIIM Ekspedisi dari BRIN.
Penelitian yang dimulai sejak awal 2025 ini melibatkan kolaborasi lintas negara dengan dukungan dana dari the University of Oxford Botanical Garden and Arboretum.
Tim BRIN bertanggung jawab penuh atas pengumpulan dan analisis sampel di Indonesia, sementara negara lain seperti Malaysia dan Filipina melakukan riset paralel di wilayahnya masing-masing.
Baca juga: Bunga Raflesia Ditemukan di Hutan Belantara Kalimantan Barat
Menurut Joko, riset ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman Rafflesia tertinggi di dunia, bersama Filipina. Hingga kini, tercatat ada 16 jenis Rafflesia di Indonesia, dan tim BRIN telah berhasil mengumpulkan 13 sampel untuk dianalisis DNA-nya.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kami memahami hubungan kekerabatan genetik antarjenis Rafflesia dan memastikan konservasinya di habitat asli,” ujar Joko, dikutip dari laman BRIN, Rabu (26/11/2025).
Lebih jauh, Joko menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memetakan keseluruhan gen Rafflesia.
“Selama ini penelitian DNA Rafflesia hanya meneliti potongan gen kecil sepanjang 500–1500 base pair. Dalam penelitian ini, kami memetakan jutaan pasangan basa untuk mendapatkan gambaran utuh genom Rafflesia,” paparnya.
Metode tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi kemungkinan adanya spesies baru di Indonesia. Adanya perbedaan signifikan pada data WGS spesies Rafflesia tertentu di Nusantara dapat menjadi indikasinya spesies baru, dan ini akan menjadi fokus penelitian kami berikutnya,” ujar Joko.
Namun, ia menekankan bahwa riset terhadap Rafflesia menghadapi tantangan berat di lapangan. Rafflesia merupakan tumbuhan holoparasit dan bunganya ini hanya mekar beberapa hari, dan beberapa jenis berada di area terpencil yang sulit dijangkau.
“Menemukan Rafflesia dalam kondisi bunga mekar atau dalam bentuk knop bukan hal mudah. Dibutuhkan informasi akurat dari komunitas lokal agar penelitian tidak sia-sia,” katanya.
Salah satu peneliti yang menemukan bunga tersebut adalah seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Joko Witono adalah peneliti BRIN dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi. Temuan salah satu spesies bunga langka ini sejatinya jadi bagian dari riset kolaboratif antara BRIN, Universitas Bengkulu, dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu.
Baca juga: Pesona Bunga Raflesia Merekah Merah di Hutan Kepulauan Anambas
Mereka bergabung dalam proyek The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia, yang bertujuan merekonstruksi hubungan filogenetik seluruh jenis Rafflesia di Asia Tenggara. Penelitian mendapatkan dukungan dana dari the University of Oxford Botanic Garden and Arboretum dan Program RIIM Ekspedisi dari BRIN.
Penelitian yang dimulai sejak awal 2025 ini melibatkan kolaborasi lintas negara dengan dukungan dana dari the University of Oxford Botanical Garden and Arboretum.
Tim BRIN bertanggung jawab penuh atas pengumpulan dan analisis sampel di Indonesia, sementara negara lain seperti Malaysia dan Filipina melakukan riset paralel di wilayahnya masing-masing.
Baca juga: Bunga Raflesia Ditemukan di Hutan Belantara Kalimantan Barat
Menurut Joko, riset ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman Rafflesia tertinggi di dunia, bersama Filipina. Hingga kini, tercatat ada 16 jenis Rafflesia di Indonesia, dan tim BRIN telah berhasil mengumpulkan 13 sampel untuk dianalisis DNA-nya.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kami memahami hubungan kekerabatan genetik antarjenis Rafflesia dan memastikan konservasinya di habitat asli,” ujar Joko, dikutip dari laman BRIN, Rabu (26/11/2025).
Lebih jauh, Joko menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memetakan keseluruhan gen Rafflesia.
“Selama ini penelitian DNA Rafflesia hanya meneliti potongan gen kecil sepanjang 500–1500 base pair. Dalam penelitian ini, kami memetakan jutaan pasangan basa untuk mendapatkan gambaran utuh genom Rafflesia,” paparnya.
Metode tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi kemungkinan adanya spesies baru di Indonesia. Adanya perbedaan signifikan pada data WGS spesies Rafflesia tertentu di Nusantara dapat menjadi indikasinya spesies baru, dan ini akan menjadi fokus penelitian kami berikutnya,” ujar Joko.
Namun, ia menekankan bahwa riset terhadap Rafflesia menghadapi tantangan berat di lapangan. Rafflesia merupakan tumbuhan holoparasit dan bunganya ini hanya mekar beberapa hari, dan beberapa jenis berada di area terpencil yang sulit dijangkau.
“Menemukan Rafflesia dalam kondisi bunga mekar atau dalam bentuk knop bukan hal mudah. Dibutuhkan informasi akurat dari komunitas lokal agar penelitian tidak sia-sia,” katanya.
(nnz)
Lihat Juga :