Kisah Farras Ulinnuha, Wisudawan S1 Kedokteran UGM yang Lulus di Usia 19 Tahun
Kamis, 04 Desember 2025 - 20:14 WIB
loading...
Farras Ulinnuha berhasil lulus S1 Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) di usia 19 tahun 8 bulan 17 hari. Foto/Dok Pribadi.
A
A
A
JAKARTA - Farras Ulinnuha berhasil menjadi wisudawan termuda UGM karena lulus S1 Kedokteran di usia 19 tahun 8 bulan 17 hari. Sosoknya pun menjadi pusat perhatian di wisuda UGM jelang akhir tahun ini.
Status wisudawan termuda ini berhasil disandang gadis asal Lampung ini karena usia rata-rata 1.729 lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Ia mengatakan, ihwal ia bisa menjadi wisudawan termuda bisa ditelusuri sejak kecil dimana ia masuk SD lebih cepat dari teman-temannya. Bahkan ia ikut ujian nasional masuk SMP Ketika ia masih kelas 5 SD.
“Di SD saya lulus 5 tahun, berlanjut ke SMP 3 tahun, dan kemudian saat SMA saya hanya menyelesaikan 2 tahun. Jadi Orang tua sangat bangga saya jadi wisudawan termuda,” katanya, dikutip dari laman UGM, Kamis (4/12/2025).
Memasuki jenjang perkuliahan di usia 16 tahun bukan hal yang mudah. Farras mengaku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, budaya belajar yang berbeda, serta dinamika pertemanan dengan mahasiswa yang mayoritas lebih tua. Meski begitu, ia merasa beruntung karena lingkungan kedokteran UGM cukup inklusif dan membuatnya cepat menyesuaikan diri.
Baca juga: Pernah Dipandang Sebelah Mata, Kini Rizky Jadi Doktor Termuda UGM di Usia 25 Tahun
“Di awal kuliah, penyesuaian berjalan tidak selalu mulus, tetapi perlahan saya menemukan ritme yang tepat,” kenangnya.
Ketertarikannya pada dunia kedokteran tumbuh sejak kecil. Ia kerap menemani ibunya bekerja di rumah sakit dan membantu di klinik keluarga, membuatnya familiar dengan dunia medis. Ia berharap bisa melanjutkan profesi sebagai dokter dan kembali pulang ke Lampung untuk membantu masyarakat di sana.
“Jadi dari dulu saya sudah familiar dengan dunia kedokteran. Saat tahu UGM, saya pikir saya bisa belajar disana dan ingin jadi dokter agar tingkat layanan kesehatan di Indonesia bisa lebih merata,” katanya.
Baca juga: Kisah Amanda Eka Lupita, Wisudawan Termuda S2 UGM di Usia 22 Tahun
Memasuki dunia kampus, Farras mencoba membangun keseimbangan dengan aktif berorganisasi di lingkungan fakultas. Ia bergabung dengan organisasi Asian Medical Students Association (AMSA) dan Center for Indonesian Medical Students Activities(CIMSA), ruang yang memberinya kesempatan mempelajari hal baru di luar kelas tanpa tekanan.
Ia juga bercerita saat mengikuti preklinik dan belajar anatomi, ia dan temannya mendapat kesempatan masuk ke ruang operasi bersama seorang dokter ortopedi yang mengajar mereka.
“Itu momen paling berharga. Saya kagum sekali, baru awal-awal kuliah, terus bisa lihat langsung bagaimana ruang Operasi Kecil bekerja,” kenangnya.
Farras berharap perjalanan yang ia lalui dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain. Ia percaya bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari kecepatan, melainkan dari konsistensi dan keyakinan pada proses diri sendiri.
Dalam usia yang masih sangat muda, ia berhasil menutup babak panjang pendidikan sarjananya dengan membawa harapan besar untuk masa depan dan rencana kembali mengabdi di tanah kelahirannya.
Status wisudawan termuda ini berhasil disandang gadis asal Lampung ini karena usia rata-rata 1.729 lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Ia mengatakan, ihwal ia bisa menjadi wisudawan termuda bisa ditelusuri sejak kecil dimana ia masuk SD lebih cepat dari teman-temannya. Bahkan ia ikut ujian nasional masuk SMP Ketika ia masih kelas 5 SD.
“Di SD saya lulus 5 tahun, berlanjut ke SMP 3 tahun, dan kemudian saat SMA saya hanya menyelesaikan 2 tahun. Jadi Orang tua sangat bangga saya jadi wisudawan termuda,” katanya, dikutip dari laman UGM, Kamis (4/12/2025).
Memasuki jenjang perkuliahan di usia 16 tahun bukan hal yang mudah. Farras mengaku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, budaya belajar yang berbeda, serta dinamika pertemanan dengan mahasiswa yang mayoritas lebih tua. Meski begitu, ia merasa beruntung karena lingkungan kedokteran UGM cukup inklusif dan membuatnya cepat menyesuaikan diri.
Baca juga: Pernah Dipandang Sebelah Mata, Kini Rizky Jadi Doktor Termuda UGM di Usia 25 Tahun
“Di awal kuliah, penyesuaian berjalan tidak selalu mulus, tetapi perlahan saya menemukan ritme yang tepat,” kenangnya.
Ketertarikannya pada dunia kedokteran tumbuh sejak kecil. Ia kerap menemani ibunya bekerja di rumah sakit dan membantu di klinik keluarga, membuatnya familiar dengan dunia medis. Ia berharap bisa melanjutkan profesi sebagai dokter dan kembali pulang ke Lampung untuk membantu masyarakat di sana.
“Jadi dari dulu saya sudah familiar dengan dunia kedokteran. Saat tahu UGM, saya pikir saya bisa belajar disana dan ingin jadi dokter agar tingkat layanan kesehatan di Indonesia bisa lebih merata,” katanya.
Baca juga: Kisah Amanda Eka Lupita, Wisudawan Termuda S2 UGM di Usia 22 Tahun
Memasuki dunia kampus, Farras mencoba membangun keseimbangan dengan aktif berorganisasi di lingkungan fakultas. Ia bergabung dengan organisasi Asian Medical Students Association (AMSA) dan Center for Indonesian Medical Students Activities(CIMSA), ruang yang memberinya kesempatan mempelajari hal baru di luar kelas tanpa tekanan.
Ia juga bercerita saat mengikuti preklinik dan belajar anatomi, ia dan temannya mendapat kesempatan masuk ke ruang operasi bersama seorang dokter ortopedi yang mengajar mereka.
“Itu momen paling berharga. Saya kagum sekali, baru awal-awal kuliah, terus bisa lihat langsung bagaimana ruang Operasi Kecil bekerja,” kenangnya.
Farras berharap perjalanan yang ia lalui dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain. Ia percaya bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari kecepatan, melainkan dari konsistensi dan keyakinan pada proses diri sendiri.
Dalam usia yang masih sangat muda, ia berhasil menutup babak panjang pendidikan sarjananya dengan membawa harapan besar untuk masa depan dan rencana kembali mengabdi di tanah kelahirannya.
(nnz)
Lihat Juga :