Kisah Haru Dua Santri Aceh Tembus Banjir dan Longsor Demi Kuliah di Al Azhar Mesir
Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:13 WIB
loading...
2 santri asal Aceh Feri Gunawan dan Khalis Akhyar yang berjuang menembus banjir dan longsor menuju Al Azhar Mesir. Foto/Kemenag.
A
A
A
JAKARTA - Terselip kisah perjuangan dua santri asal Aceh Besar yang menembus ekstremnya medan banjir dan longsor yang menerpa Sumatera. Dari berjalan kaki berpuluh kilometer hingga sulitnya mendapat pesawat menjadi ujian mereka untuk kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir.
Kedua santri tersebut bernama Feri Gunawan dan Khalis Akhyar yang merupakan alumni Dayah Insan Qur’ani (IQ) Aceh Besar yang mempunyai tekad kuat untuk bisa sampai ke Al Azhar Mesir . Keduanya berasal dari dataran tinggi Gayo, daerah yang juga terisolasi karena banjir bandang dan tanah longsor.
Baca juga: Update Korban Bencana Sumatera: 1.071 Korban Meninggal dan 185 Warga Hilang
Kisah perjuangan Feri Gunawan, asal Kampung Buntul, Kabupaten Bener Meriah, menuju Mesir dimulai dari tertutupnya akses keluar dari kampung halamannya yang tertutup banjir. Jalan utama terputus, kendaraan tak dapat melintas, dan jaringan komunikasi nyaris lumpuh.
Dalam situasi tersebut, alumnus Dayah IQ tahun 2025 ini bersama ayah, saudara, dan pamannya memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka menembus hujan dan lumpur, memanggul barang-barang yang akan dibawa Feri ke Mesir.
Baca juga: 80 Jalan Nasional Terdampak Banjir Sumatera, Menteri PU: 81% Sudah Fungsional
Perjalanan itu sarat risiko. Jalan licin, arus air deras, dan rasa cemas terus menyertai. Namun niat yang telah ditautkan kepada Allah menjadi kekuatan yang menjaga langkah tetap tegap.
Setibanya di kawasan Kampung Kem (Kab. Bener Meriah), Feri dan ayahnya melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek menuju jalur lintas Gunung Salak–Krueng Geukueh.
Begitu menemukan area dengan sinyal, ayah Feri segera menghubungi panitia keberangkatan IKAT Aceh. Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka ke Banda Aceh. Malam dilewati di Sekretariat IKAT sebagai jeda singkat sebelum perpisahan.
Sang ayah yang tak kuasa menahan tangis melepas kepergian anak kesayangannya itu tak lupa menitipkan pesan yang pastinya tak akan dilupakan Feri.
“Kalau banjir tak menghentikan kita, maka tak ada alasan untuk berhenti mengejar ilmu.” kata Feri yang terbang dari Bandara Sultan Iskandar Muda menuju Mesir, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (20/12/2025).
Feri, dengan kekuatan doa orang tua dan ridha dari Allah SWT pun akhirnya tiba di Mesir pada 9 Desember 2025, membawa harapan dari kampung halamannya yang tengah diuji bencana.
Sementara Khalis Akhyar, alumni Dayah IQ tahun 2024 asal Takengon, Aceh Tengah awalnya pun sempat pesimis akan keberangkatannya ke Mesir karena selama hampir sepekan tak mendapat informasi mengenai jadwal keberangkatannya.
Baca juga: 33 Jembatan Nasional Terdampak Banjir di Sumatera, Menteri PU: 19 Sudah Berfungsi
Hal ini karena hujan lebat yang memicu banjir dan longsor sejak akhir November 2025 memutus akses wilayah serta melumpuhkan jaringan internet. Hingga akhirnya, dengan memanfaatkan akses Wi-Fi seadanya di kantor keuchik, ia berhasil menghubungi panitia IKAT Aceh dan memastikan jadwal keberangkatan ke Mesir pada 17 Desember 2025.
Bersama kedua orang tuanya, Khalis berupaya mencari jalur menuju Banda Aceh. Namun seluruh akses darat (melalui Bireuen, Beutong Ateuh, hingga Simpang KKA) terputus. Opsi berjalan kaki puluhan kilometer dinilai terlalu berisiko di tengah kondisi darurat.
Harapan kembali muncul ketika Khalis memperoleh kabar adanya penerbangan darurat TNI dari Bandara Rembele, Bener Meriah. Dengan penuh doa, ia dan keluarganya menuju bandara tersebut.
Namun ujian belum berakhir. Kapasitas pesawat terbatas, penumpang membludak, dan prioritas diberikan kepada warga dengan kondisi medis darurat. Seharian penuh Khalis menunggu tanpa kepastian.
Sore hari, penerbangan Hercules dinyatakan selesai sementara namanya belum juga dipanggil. Tawaran terbang ke Medan menggunakan pesawat komersial terpaksa ditolak karena harga tiket yang melonjak tinggi. Khalis memilih bersabar dan bertawakal.
Usai menunaikan salat Ashar, kabar baik datang. Pihak bandara mengumumkan penerbangan tambahan menuju Banda Aceh menggunakan helikopter. Ketika banyak calon penumpang telah pulang karena lelah menunggu, Khalis justru mendapatkan kesempatan itu.
Malam harinya, Khalis akhirnya tiba di Banda Aceh. Dengan hati penuh syukur, ia bersiap melanjutkan perjalanan menuju Al Azhar Mesir sesuai jadwal.
Kedua santri tersebut bernama Feri Gunawan dan Khalis Akhyar yang merupakan alumni Dayah Insan Qur’ani (IQ) Aceh Besar yang mempunyai tekad kuat untuk bisa sampai ke Al Azhar Mesir . Keduanya berasal dari dataran tinggi Gayo, daerah yang juga terisolasi karena banjir bandang dan tanah longsor.
Baca juga: Update Korban Bencana Sumatera: 1.071 Korban Meninggal dan 185 Warga Hilang
Kisah perjuangan Feri Gunawan, asal Kampung Buntul, Kabupaten Bener Meriah, menuju Mesir dimulai dari tertutupnya akses keluar dari kampung halamannya yang tertutup banjir. Jalan utama terputus, kendaraan tak dapat melintas, dan jaringan komunikasi nyaris lumpuh.
Dalam situasi tersebut, alumnus Dayah IQ tahun 2025 ini bersama ayah, saudara, dan pamannya memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka menembus hujan dan lumpur, memanggul barang-barang yang akan dibawa Feri ke Mesir.
Baca juga: 80 Jalan Nasional Terdampak Banjir Sumatera, Menteri PU: 81% Sudah Fungsional
Perjalanan itu sarat risiko. Jalan licin, arus air deras, dan rasa cemas terus menyertai. Namun niat yang telah ditautkan kepada Allah menjadi kekuatan yang menjaga langkah tetap tegap.
Setibanya di kawasan Kampung Kem (Kab. Bener Meriah), Feri dan ayahnya melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek menuju jalur lintas Gunung Salak–Krueng Geukueh.
Begitu menemukan area dengan sinyal, ayah Feri segera menghubungi panitia keberangkatan IKAT Aceh. Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka ke Banda Aceh. Malam dilewati di Sekretariat IKAT sebagai jeda singkat sebelum perpisahan.
Sang ayah yang tak kuasa menahan tangis melepas kepergian anak kesayangannya itu tak lupa menitipkan pesan yang pastinya tak akan dilupakan Feri.
“Kalau banjir tak menghentikan kita, maka tak ada alasan untuk berhenti mengejar ilmu.” kata Feri yang terbang dari Bandara Sultan Iskandar Muda menuju Mesir, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (20/12/2025).
Feri, dengan kekuatan doa orang tua dan ridha dari Allah SWT pun akhirnya tiba di Mesir pada 9 Desember 2025, membawa harapan dari kampung halamannya yang tengah diuji bencana.
Sementara Khalis Akhyar, alumni Dayah IQ tahun 2024 asal Takengon, Aceh Tengah awalnya pun sempat pesimis akan keberangkatannya ke Mesir karena selama hampir sepekan tak mendapat informasi mengenai jadwal keberangkatannya.
Baca juga: 33 Jembatan Nasional Terdampak Banjir di Sumatera, Menteri PU: 19 Sudah Berfungsi
Hal ini karena hujan lebat yang memicu banjir dan longsor sejak akhir November 2025 memutus akses wilayah serta melumpuhkan jaringan internet. Hingga akhirnya, dengan memanfaatkan akses Wi-Fi seadanya di kantor keuchik, ia berhasil menghubungi panitia IKAT Aceh dan memastikan jadwal keberangkatan ke Mesir pada 17 Desember 2025.
Bersama kedua orang tuanya, Khalis berupaya mencari jalur menuju Banda Aceh. Namun seluruh akses darat (melalui Bireuen, Beutong Ateuh, hingga Simpang KKA) terputus. Opsi berjalan kaki puluhan kilometer dinilai terlalu berisiko di tengah kondisi darurat.
Harapan kembali muncul ketika Khalis memperoleh kabar adanya penerbangan darurat TNI dari Bandara Rembele, Bener Meriah. Dengan penuh doa, ia dan keluarganya menuju bandara tersebut.
Namun ujian belum berakhir. Kapasitas pesawat terbatas, penumpang membludak, dan prioritas diberikan kepada warga dengan kondisi medis darurat. Seharian penuh Khalis menunggu tanpa kepastian.
Sore hari, penerbangan Hercules dinyatakan selesai sementara namanya belum juga dipanggil. Tawaran terbang ke Medan menggunakan pesawat komersial terpaksa ditolak karena harga tiket yang melonjak tinggi. Khalis memilih bersabar dan bertawakal.
Usai menunaikan salat Ashar, kabar baik datang. Pihak bandara mengumumkan penerbangan tambahan menuju Banda Aceh menggunakan helikopter. Ketika banyak calon penumpang telah pulang karena lelah menunggu, Khalis justru mendapatkan kesempatan itu.
Malam harinya, Khalis akhirnya tiba di Banda Aceh. Dengan hati penuh syukur, ia bersiap melanjutkan perjalanan menuju Al Azhar Mesir sesuai jadwal.
(nnz)
Lihat Juga :