Mendiktisaintek: Politeknik Cetak Skilled Labor Siap Bersaing di Pasar Kerja Global
Senin, 22 Desember 2025 - 12:14 WIB
loading...
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa politeknik bukanlah perguruan tinggi pilihan kedua. Foto/Diktisaintek.
A
A
A
JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa politeknik bukanlah perguruan tinggi pilihan kedua.
Politeknik justru diposisikan sebagai institusi strategis pencetak tenaga kerja terampil yang siap bersaing di tingkat global.
“Politeknik itu institusi pencetak skilled labor, yang siap bersaing dengan talenta dari negara lain seperti India atau China. Jadi bukan pilihan kedua. Maka kita harus pastikan potensi skill gap yang terjadi antara kita dengan dunia global dapat diatasi. Konteksnya bukan karena lowongan kerja di dalam negeri terbatas, tapi mempersiapkan SDM unggul yang mumpuni sampai ke tingkat dunia,” kata Brian Yuliarto, melalui siaran pers, dikutip Senin (22/12/2025).
Baca juga: Politeknik Sahid Kukuhkan 387 Wisudawan, Dorong Daya Saing Global
Penegasan tersebut disampaikan Brian Yuliarto saat menghadiri Lokakarya Nasional bertajuk “Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri: Kesiapan, Standar Kompetensi, Perlindungan dan Strategi Kolaborasi Lintas Sektoral” yang digelar pada Sabtu, 20 Desember 2025, di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Depok, Jawa Barat.
Dalam kesempatan itu, Menteri Brian Yuliarto meminta seluruh politeknik di Indonesia mampu mempersiapkan tenaga profesional yang tidak hanya berdaya saing, tetapi juga berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional serta mampu menembus pasar tenaga kerja global.
Baca juga: Kisah Nazwa, Anak Pencari Barang Bekas yang Lolos ke Polmed dan Raih KIP Kuliah
“Kita ingin menunjukkan kualitas SDM Indonesia sejajar dengan SDM negara maju. Pendidikan kita harus mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan percaya diri,” ucapnya.
Brian Yuliarto menekankan bahwa penguatan pendidikan vokasi diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi tenaga kerja nasional. Pendidikan tinggi vokasi dinilai memiliki keunggulan karena kedekatannya dengan kebutuhan industri dan dunia kerja yang terus berkembang.
“Konteksnya adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia, khususnya pendidikan tinggi vokasi, mampu membuktikan kualitasnya di tingkat global,” ungkap Brian. Ia menyoroti pentingnya penerapan pembelajaran berbasis praktik terbaik (best practices), penguasaan bahasa dan komunikasi, sertifikasi kompetensi yang kredibel, serta penguatan jejaring dengan mitra industri dan pemangku kepentingan.
“Langkah ini penting untuk memastikan lulusan pendidikan tinggi vokasi memiliki kesiapan yang matang dan berkelanjutan,” katanya.
Lokakarya yang diinisiasi Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) tersebut menggarisbawahi berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi lulusan pendidikan tinggi vokasi dalam memasuki pasar kerja global. Setidaknya terdapat tiga persoalan utama yang menjadi perhatian, yakni relevansi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja, pergeseran kompetensi dari expert specialist menuju expert generalist agar tidak tergantikan oleh robotika, serta lamanya masa tunggu lulusan untuk memperoleh pekerjaan.
Dekan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Tulus Winarsunu, menilai masa tunggu lulusan pendidikan tinggi di Indonesia masih tergolong lama dibandingkan negara lain di Asia. Ia mencontohkan Jepang, di mana lulusan politeknik dapat langsung terserap ke dunia kerja.
“Kita masa tunggunya paling lama. Akibatnya banyak sarjana kita yang masih menganggur. Masa tunggu ini mengakibatkan terjadinya mismacth vertikal dan mismatch horizontal,” demikian Prof Tulus.
Ia menjelaskan bahwa mismatch vertikal terjadi ketika tingkat pendidikan tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima, sementara mismatch horizontal merujuk pada ketidaksesuaian antara bidang keilmuan dengan jenis pekerjaan.
“Jangan sampai kita mensuplai apa yang tidak dibutuhkan pasar kerja. Kurikulum vokasi yang benar adalah kurikulum yang didikte oleh kebutuhan pasar dunia, bukan hanya daftar keinginan dosen di kelas,” kata Prof. Tulus.
Pada bagian lain, Menteri Brian Yuliarto menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendukung penuh penguatan pendidikan vokasi. Ia menegaskan bahwa kebijakan dan regulasi akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja global. Sertifikasi kompetensi yang menjadi syarat utama bekerja di luar negeri juga akan diupayakan agar dapat dilakukan di dalam negeri.
Langkah membawa lulusan politeknik ke pasar kerja internasional, menurut Brian Yuliarto, harus dilakukan secara profesional dan bermartabat.
“Kita terbangkan putra-putri terbaik bangsa di bidang terapan ke seluruh dunia. Di sana mereka mendapatkan pengalaman, value. Ketika kita mau membangun industri strategis, mereka kita panggil pulang. Itu yang saya namakan brain circulation. Dan itu harus disiapkan oleh pendidikan tinggi vokasi,” kata Brian Yuliarto.
Dari kalangan swasta, perwakilan Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati), Said Saleh Alwaini, menyatakan bahwa peluang kerja bagi SDM unggul Indonesia di luar negeri masih terbuka lebar.
“Negara-negara seperti Jepang, Korea, Eropa dan TImur Tengah selalu kekurangan tenaga kerja kompeten dari Indonesia. Selain sertifikasi yang tadi disinggung, kendala bahasa juga harus menjadi concern kita bersama,” kata Said Saleh.
Ia menambahkan, permintaan terhadap tenaga kerja terampil lulusan program diploma dari politeknik dan sekolah vokasi masih sangat tinggi di berbagai negara tujuan.
Sementara itu, Ketua FDPNI Ahyar M Dyah menyampaikan bahwa Politeknik Negeri se-Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara dalam pemenuhan kebutuhan tenaga terampil. FDPNI pun menyatakan kesiapan untuk mendukung penuh upaya mempersiapkan lulusan pendidikan tinggi vokasi agar mampu menembus pasar kerja global secara berkelanjutan sebagai bagian dari transformasi pendidikan vokasi nasional.
Politeknik justru diposisikan sebagai institusi strategis pencetak tenaga kerja terampil yang siap bersaing di tingkat global.
“Politeknik itu institusi pencetak skilled labor, yang siap bersaing dengan talenta dari negara lain seperti India atau China. Jadi bukan pilihan kedua. Maka kita harus pastikan potensi skill gap yang terjadi antara kita dengan dunia global dapat diatasi. Konteksnya bukan karena lowongan kerja di dalam negeri terbatas, tapi mempersiapkan SDM unggul yang mumpuni sampai ke tingkat dunia,” kata Brian Yuliarto, melalui siaran pers, dikutip Senin (22/12/2025).
Baca juga: Politeknik Sahid Kukuhkan 387 Wisudawan, Dorong Daya Saing Global
Penegasan tersebut disampaikan Brian Yuliarto saat menghadiri Lokakarya Nasional bertajuk “Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri: Kesiapan, Standar Kompetensi, Perlindungan dan Strategi Kolaborasi Lintas Sektoral” yang digelar pada Sabtu, 20 Desember 2025, di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Depok, Jawa Barat.
Dalam kesempatan itu, Menteri Brian Yuliarto meminta seluruh politeknik di Indonesia mampu mempersiapkan tenaga profesional yang tidak hanya berdaya saing, tetapi juga berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional serta mampu menembus pasar tenaga kerja global.
Baca juga: Kisah Nazwa, Anak Pencari Barang Bekas yang Lolos ke Polmed dan Raih KIP Kuliah
“Kita ingin menunjukkan kualitas SDM Indonesia sejajar dengan SDM negara maju. Pendidikan kita harus mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan percaya diri,” ucapnya.
Brian Yuliarto menekankan bahwa penguatan pendidikan vokasi diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi tenaga kerja nasional. Pendidikan tinggi vokasi dinilai memiliki keunggulan karena kedekatannya dengan kebutuhan industri dan dunia kerja yang terus berkembang.
“Konteksnya adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia, khususnya pendidikan tinggi vokasi, mampu membuktikan kualitasnya di tingkat global,” ungkap Brian. Ia menyoroti pentingnya penerapan pembelajaran berbasis praktik terbaik (best practices), penguasaan bahasa dan komunikasi, sertifikasi kompetensi yang kredibel, serta penguatan jejaring dengan mitra industri dan pemangku kepentingan.
“Langkah ini penting untuk memastikan lulusan pendidikan tinggi vokasi memiliki kesiapan yang matang dan berkelanjutan,” katanya.
Lokakarya yang diinisiasi Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) tersebut menggarisbawahi berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi lulusan pendidikan tinggi vokasi dalam memasuki pasar kerja global. Setidaknya terdapat tiga persoalan utama yang menjadi perhatian, yakni relevansi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja, pergeseran kompetensi dari expert specialist menuju expert generalist agar tidak tergantikan oleh robotika, serta lamanya masa tunggu lulusan untuk memperoleh pekerjaan.
Dekan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Tulus Winarsunu, menilai masa tunggu lulusan pendidikan tinggi di Indonesia masih tergolong lama dibandingkan negara lain di Asia. Ia mencontohkan Jepang, di mana lulusan politeknik dapat langsung terserap ke dunia kerja.
“Kita masa tunggunya paling lama. Akibatnya banyak sarjana kita yang masih menganggur. Masa tunggu ini mengakibatkan terjadinya mismacth vertikal dan mismatch horizontal,” demikian Prof Tulus.
Ia menjelaskan bahwa mismatch vertikal terjadi ketika tingkat pendidikan tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima, sementara mismatch horizontal merujuk pada ketidaksesuaian antara bidang keilmuan dengan jenis pekerjaan.
“Jangan sampai kita mensuplai apa yang tidak dibutuhkan pasar kerja. Kurikulum vokasi yang benar adalah kurikulum yang didikte oleh kebutuhan pasar dunia, bukan hanya daftar keinginan dosen di kelas,” kata Prof. Tulus.
Pada bagian lain, Menteri Brian Yuliarto menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendukung penuh penguatan pendidikan vokasi. Ia menegaskan bahwa kebijakan dan regulasi akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja global. Sertifikasi kompetensi yang menjadi syarat utama bekerja di luar negeri juga akan diupayakan agar dapat dilakukan di dalam negeri.
Langkah membawa lulusan politeknik ke pasar kerja internasional, menurut Brian Yuliarto, harus dilakukan secara profesional dan bermartabat.
“Kita terbangkan putra-putri terbaik bangsa di bidang terapan ke seluruh dunia. Di sana mereka mendapatkan pengalaman, value. Ketika kita mau membangun industri strategis, mereka kita panggil pulang. Itu yang saya namakan brain circulation. Dan itu harus disiapkan oleh pendidikan tinggi vokasi,” kata Brian Yuliarto.
Dari kalangan swasta, perwakilan Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati), Said Saleh Alwaini, menyatakan bahwa peluang kerja bagi SDM unggul Indonesia di luar negeri masih terbuka lebar.
“Negara-negara seperti Jepang, Korea, Eropa dan TImur Tengah selalu kekurangan tenaga kerja kompeten dari Indonesia. Selain sertifikasi yang tadi disinggung, kendala bahasa juga harus menjadi concern kita bersama,” kata Said Saleh.
Ia menambahkan, permintaan terhadap tenaga kerja terampil lulusan program diploma dari politeknik dan sekolah vokasi masih sangat tinggi di berbagai negara tujuan.
Sementara itu, Ketua FDPNI Ahyar M Dyah menyampaikan bahwa Politeknik Negeri se-Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara dalam pemenuhan kebutuhan tenaga terampil. FDPNI pun menyatakan kesiapan untuk mendukung penuh upaya mempersiapkan lulusan pendidikan tinggi vokasi agar mampu menembus pasar kerja global secara berkelanjutan sebagai bagian dari transformasi pendidikan vokasi nasional.
(nnz)
Lihat Juga :