Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan

Selasa, 23 Desember 2025 - 15:49 WIB
loading...
Ngkaji Pendidikan GSM...
Forum Ngkaji Pendidikan yang digelar Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025). Foto/Dok. SindoNews
A A A
YOGYAKARTA - Lebih dari 500 guru dari berbagai daerah Indonesia berkumpul dalam forum Ngkaji Pendidikan yang digelar Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025). Forum ini mengajukan pertanyaan mendasar, apakah pendidikan Indonesia masih membangun manusia atau sekadar menyiapkan tenaga kerja?

Founder GSM Muhammad Nur Rizal mengatakan, tema Human & Education Reset dipilih karena pendidikan dinilai terlalu lama terjebak pada perbaikan teknis, sementara fondasi kemanusiaan terabaikan. “Reset bukan restart,” katanya.

Reset berarti menata ulang sistem dengan kembali ke mode dasar manusia: cara berpikir, cara merasa, dan cara mengambil keputusan. Krisis hari ini bukan kekurangan teknologi, melainkan krisis nalar dan kebijaksanaan. Baca juga: Prabowo Kejar Uang Koruptor untuk Dana Pendidikan

Untuk menjelaskan gagasannya, Rizal mengajak peserta menengok letusan Gunung Tambora pada 1815. Peristiwa tersebut memicu pendinginan global yang dikenal sebagai The Year Without Summer.

Hingga menyebabkan gagal panen, krisis pangan, migrasi besar-besaran, hingga instabilitas politik di Eropa dan Amerika Utara. “Tambora menunjukkan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam. Ia menjadi bencana karena bertemu dengan ketidaksiapan manusia,” ungkapnya.

Narasi tersebut kemudian ditarik ke bencana ekologis di Sumatera saat ini. Data yang dipaparkan menunjukkan deforestasi masif sejak 1990-an telah mengubah fungsi hutan secara drastis.

Saat hutan masih utuh, koefisien run sangat baik, sekitar 90% air hujan diserap tanah dan hanya 10% mengalir ke sungai. Setelah alih fungsi besar-besaran, kondisi itu berbalik: hanya sekitar 10% air terserap, sementara 90% menjadi limpasan permukaan yang memicu banjir bandang dan longsor.

“Ini bukan semata anomali iklim. Ini akibat paradigma pembangunan yang melihat hutan sebagai ruang transaksi investasi, bukan sebagai sistem ekologis,” lanjutnya.

Ironisnya, kerugian ekonomi akibat bencana jauh lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi dari eksploitasi sumber daya alam. Rizal menyoroti data forest rent Indonesia—nilai bersih ekonomi dari eksploitasi hutan—yang turun dari sekitar 0,81% PDB menjadi sekitar 0,4%, seiring rusaknya hutan dan menurunnya produktivitas jangka panjang. “Kita merusak hutan, tapi tidak menjadi kaya. Yang kita wariskan justru kerugian ekonomi, sosial, dan ekologis,” tegasnya.

Forum ini juga menyoroti apa yang disebut Rizal sebagai Paradoxical World. Di satu sisi, manusia hidup di era kecerdasan buatan dan teknologi paling maju; di sisi lain, keputusan publik justru semakin sering mengabaikan data, sains, dan etika.

“AI bukan masalah utamanya. Masalahnya adalah ketika manusia menyerahkan proses berpikir kepada mesin, padahal mesin belajar dari data masa lalu manusia, termasuk bias dan kesalahan kita,” tandasnya.

Menurutnya, pendidikan terlalu fokus pada adaptasi teknologi, tetapi abai melatih manusia untuk berpikir jernih, membaca realitas, dan mengambil keputusan etis. Akibatnya, kecerdasan meningkat, tetapi kebijaksanaan tertinggal.

Rizal menilai manusia hari ini telah memegang “Api Prometheus”—nalar dan teknologi—namun tanpa kebijaksanaan. Karena itu, human reset menjadi prasyarat sebelum education reset dijalankan.

Sebagai jalan keluar, Rizal menekankan pentingnya Education Reset melalui pendekatan liberal arts, bukan sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai kerangka berpikir. “Liberal arts bukan kurikulum Barat atau mata pelajaran tambahan. Ia adalah alat untuk memulihkan manusia dalam berpikir, merasa, dan bertindak,” tambahnya. Baca juga: Membangun Pembelajaran Menyenangkan agar Anak Mencintai Sekolah

Rizal menjelaskan pendidikan saat ini kehilangan dua hal sekaligus: alat berpikir (trivium: logika, bahasa, retorika) dan rasa keteraturan alam (quadrivium: numerik dan harmoni alam). Tanpa keduanya, pendidikan berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.

Gagasan ini, menurut Rizal, sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun manusia agar utuh dan merdeka, bukan sekadar terampil. Ngkaji Pendidikan berakhir tanpa deklarasi atau rekomendasi kebijakan. Namun kegelisahan yang tersisa justru menjadi pesan utamanya.

“Jika pendidikan terus mencetak manusia pintar tetapi tidak bijak,” kata Rizal. "Kita tidak sedang membangun masa depan, melainkan menyiapkan krisis berikutnya.”
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Respons Usulan...
Prabowo Respons Usulan Tambahan Beasiswa Doktor bagi Dosen: Akan Kita Tindak Lanjuti
Kunjungi Pulau Arar...
Kunjungi Pulau Arar Papua, Mendikdasmen Tegaskan Akses Pendidikan Anak di Daerah Terpencil
Cara Akses Platform...
Cara Akses Platform Rumah Pendidikan Kemendikdasmen untuk Guru, Siswa, dan Orang Tua
Wamen Stella dan Pramono...
Wamen Stella dan Pramono Anung Bahas Jakarta Jadi Pusat Pendidikan Internasional
Ngkaji Pendidikan di...
Ngkaji Pendidikan di Jogja: Ketika Pendidikan Lupa Memahami Manusia
Hardiknas 2026, Mendikdasmen...
Hardiknas 2026, Mendikdasmen Sampaikan Terima Kasih kepada Guru di Seluruh Indonesia
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
PNM Berikan Beasiswa...
PNM Berikan Beasiswa kepada 1.590 Anak dari Jenjang SD hingga Perguruan Tinggi
1.000 Taruna Akmil Bakal...
1.000 Taruna Akmil Bakal Latih Siswa Sekolah Rakyat
Rekomendasi
Danone Indonesia Dorong...
Danone Indonesia Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Praktik Bisnis Berkelanjutan
Brasil Dijagokan, Jepang...
Brasil Dijagokan, Jepang Siap Bikin Kejutan
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Berita Terkini
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Diumumkan Besok, Ini...
Diumumkan Besok, Ini Link Resmi Hasil Seleksi SMMPTN-Barat 2026
Program Studi Pendidikan...
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris MNC University Jalani Asesmen Lapangan LAMDIK untuk Perkuat Mutu Pendidikan
Cek SIMPKB! Kemendikdasmen...
Cek SIMPKB! Kemendikdasmen Umumkan 60.896 Peserta PPG Guru Tertentu Tahap 2 2026
Usai KSTI 2026, Kemendiktisaintek...
Usai KSTI 2026, Kemendiktisaintek Siapkan Kelompok Kerja Percepat Kebijakan Strategis
Kemendikdasmen Buka...
Kemendikdasmen Buka Seleksi PPG Calon Guru 2026, Cek Syarat dan Bidang Studinya
Infografis
5 Madrasah Tertua di...
5 Madrasah Tertua di Indonesia, Pelopor Pendidikan Islam Modern
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved