Universitas Darunnajah, Kampus Muda yang Ambil Peran dalam Hibah Riset BIMA 2026
Minggu, 11 Januari 2026 - 08:00 WIB
loading...
Universitas Darunnajah mengambil bagian di program pendanaan penelitian berbasis platform BIMA untuk 2026. Foto/UDN.
A
A
A
JAKARTA - Program pendanaan penelitian berbasis platform BIMA untuk tahun 2026 mencatat 93.603 proposal yang berstatus submit dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Jumlah tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas penelitian nasional sekaligus kompetisi yang semakin ketat dalam ekosistem riset pendidikan tinggi.
Baca juga: Pesantren Kilat Internasional: Ketika Sarung dan Peci Memikat Dunia
Di tengah tingginya partisipasi tersebut, Universitas Darunnajah , sebuah perguruan tinggi yang baru memperoleh SK pendirian pada tahun 2022, turut mengambil bagian dengan mengajukan 37 proposal penelitian dari para dosennya.
"Kehadiran kampus muda dalam kompetisi hibah nasional menjadi perhatian, terutama karena aktivitas penelitian biasanya lebih didominasi perguruan tinggi mapan," kata Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta Samiyono, dalam keterangan resmi, Minggu (11/1/2026).
Dia menjelaskan, berdasarkan data Ditjen Diktiristek, skema Fundamental Reguler dan Penelitian Dosen Pemula masih menjadi dua skema dengan jumlah proposal terbesar dalam program BIMA 2026.
Baca juga: UDN Jakarta Perkenalkan Prodi Manajemen Pesantren, Ulama MUI Nilai Sangat Strategis
Dari total 93.603 proposal, distribusinya antara lain Fundamental Reguler sebanyak 43.196 proposal (46 persen) dan Penelitian Dosen Pemula sebanyak 29.170 proposal (31 persen).
Sisanya tersebar dalam skema Pascasarjana – Tesis Magister (9.857), Disertasi Doktor (5.500), Kerja Sama antar PT (1.715), serta penelitian terapan berupa luaran model (1.756) dan luaran prototipe (2.429).
"Melalui data tersebut, tampak bahwa riset dosen pada level pemula hingga menengah semakin berkembang, dan kompetisi pendanaan tidak hanya didominasi oleh institusi besar," jelasnya.
Di samping itu, keterbukaan sistem BIMA memberi ruang lebih luas bagi perguruan tinggi swasta, kampus vokasi, dan kampus baru untuk ikut terlibat.
Samiyono menambahkan, Universitas Darunnajah sendiri hadir dari tradisi pendidikan pesantren dengan visi menjadi pusat pengembangan keilmuan, manajemen, teknologi dan kewirausahaan berbasis pesantren wakaf.
"Saat ini kampus tersebut telah mengelola 12 program studi dalam 3 fakultas, yaitu Fakultas Bisnis, Fakultas Agama Islam (FAI), dan Fakultas Sains dan Teknologi (Sainstek)," ujarnya.
Spektrum akademik yang cukup beragam ini membuka peluang penelitian lintas disiplin, mulai dari manajemen pendidikan, ekonomi syariah, pengembangan kewirausahaan, hingga penelitian sosial-keagamaan dan teknologi terapan.
Keterlibatan dosen dalam hibah penelitian dinilai penting bagi peningkatan kualitas akademik. Menurut Rektor Universitas Darunnajah, Dr. Much Hasan Darojat, peningkatan SDM dosen melalui penelitian dan pengabdian masyarakat merupakan prioritas institusi.
"Kemampuan dosen dalam menghasilkan karya ilmiah dan kolaborasi akademik bukan hanya bagian dari luaran publikasi, tetapi juga membentuk kultur akademik yang kuat di lingkungan kampus," tambahnya.
Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa universitas baru dapat mengambil langkah strategis dalam penguatan kapasitas akademik sejak awal, terutama melalui dukungan kelembagaan seperti pelatihan penulisan proposal, bimbingan penelitian, serta aktivasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).
Keikutsertaan kampus muda seperti Universitas Darunnajah dalam hibah BIMA 2026 mencerminkan perubahan lanskap riset nasional yang semakin inklusif. Dosen dari berbagai kategori institusi kini memiliki kesempatan yang relatif sama untuk bersaing melalui skema berbasis merit, kualitas metodologi, serta relevansi penelitian.
Dalam konteks kebijakan pendidikan tinggi, pendanaan penelitian memiliki fungsi penting untuk memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain menghasilkan publikasi, hak kekayaan intelektual, dan inovasi terapan, pendanaan penelitian juga mempengaruhi cara dosen mengajar dan membimbing mahasiswa.
Pada skala yang lebih luas, kemampuan penelitian kampus berkontribusi terhadap pembangunan ilmu pengetahuan dan peningkatan daya saing bangsa.
Langkah Universitas Darunnajah mengirimkan 37 proposal ke dalam kompetisi BIMA 2026 memperlihatkan bahwa usia kelembagaan bukan menjadi hambatan dalam berkontribusi pada sistem riset nasional.
Di tengah kompetisi yang ketat, keberadaan kampus baru yang aktif meneliti memperkaya ekosistem riset di Indonesia serta membuka ruang bagi peningkatan kapasitas akademik pada generasi perguruan tinggi berikutnya.
Jumlah tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas penelitian nasional sekaligus kompetisi yang semakin ketat dalam ekosistem riset pendidikan tinggi.
Baca juga: Pesantren Kilat Internasional: Ketika Sarung dan Peci Memikat Dunia
Di tengah tingginya partisipasi tersebut, Universitas Darunnajah , sebuah perguruan tinggi yang baru memperoleh SK pendirian pada tahun 2022, turut mengambil bagian dengan mengajukan 37 proposal penelitian dari para dosennya.
"Kehadiran kampus muda dalam kompetisi hibah nasional menjadi perhatian, terutama karena aktivitas penelitian biasanya lebih didominasi perguruan tinggi mapan," kata Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta Samiyono, dalam keterangan resmi, Minggu (11/1/2026).
Dia menjelaskan, berdasarkan data Ditjen Diktiristek, skema Fundamental Reguler dan Penelitian Dosen Pemula masih menjadi dua skema dengan jumlah proposal terbesar dalam program BIMA 2026.
Baca juga: UDN Jakarta Perkenalkan Prodi Manajemen Pesantren, Ulama MUI Nilai Sangat Strategis
Dari total 93.603 proposal, distribusinya antara lain Fundamental Reguler sebanyak 43.196 proposal (46 persen) dan Penelitian Dosen Pemula sebanyak 29.170 proposal (31 persen).
Sisanya tersebar dalam skema Pascasarjana – Tesis Magister (9.857), Disertasi Doktor (5.500), Kerja Sama antar PT (1.715), serta penelitian terapan berupa luaran model (1.756) dan luaran prototipe (2.429).
"Melalui data tersebut, tampak bahwa riset dosen pada level pemula hingga menengah semakin berkembang, dan kompetisi pendanaan tidak hanya didominasi oleh institusi besar," jelasnya.
Di samping itu, keterbukaan sistem BIMA memberi ruang lebih luas bagi perguruan tinggi swasta, kampus vokasi, dan kampus baru untuk ikut terlibat.
Visi Akademik dan Penguatan SDM
Samiyono menambahkan, Universitas Darunnajah sendiri hadir dari tradisi pendidikan pesantren dengan visi menjadi pusat pengembangan keilmuan, manajemen, teknologi dan kewirausahaan berbasis pesantren wakaf.
"Saat ini kampus tersebut telah mengelola 12 program studi dalam 3 fakultas, yaitu Fakultas Bisnis, Fakultas Agama Islam (FAI), dan Fakultas Sains dan Teknologi (Sainstek)," ujarnya.
Spektrum akademik yang cukup beragam ini membuka peluang penelitian lintas disiplin, mulai dari manajemen pendidikan, ekonomi syariah, pengembangan kewirausahaan, hingga penelitian sosial-keagamaan dan teknologi terapan.
Keterlibatan dosen dalam hibah penelitian dinilai penting bagi peningkatan kualitas akademik. Menurut Rektor Universitas Darunnajah, Dr. Much Hasan Darojat, peningkatan SDM dosen melalui penelitian dan pengabdian masyarakat merupakan prioritas institusi.
"Kemampuan dosen dalam menghasilkan karya ilmiah dan kolaborasi akademik bukan hanya bagian dari luaran publikasi, tetapi juga membentuk kultur akademik yang kuat di lingkungan kampus," tambahnya.
Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa universitas baru dapat mengambil langkah strategis dalam penguatan kapasitas akademik sejak awal, terutama melalui dukungan kelembagaan seperti pelatihan penulisan proposal, bimbingan penelitian, serta aktivasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).
Peran Kampus Muda dalam Sistem Riset Nasional
Keikutsertaan kampus muda seperti Universitas Darunnajah dalam hibah BIMA 2026 mencerminkan perubahan lanskap riset nasional yang semakin inklusif. Dosen dari berbagai kategori institusi kini memiliki kesempatan yang relatif sama untuk bersaing melalui skema berbasis merit, kualitas metodologi, serta relevansi penelitian.
Dalam konteks kebijakan pendidikan tinggi, pendanaan penelitian memiliki fungsi penting untuk memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain menghasilkan publikasi, hak kekayaan intelektual, dan inovasi terapan, pendanaan penelitian juga mempengaruhi cara dosen mengajar dan membimbing mahasiswa.
Pada skala yang lebih luas, kemampuan penelitian kampus berkontribusi terhadap pembangunan ilmu pengetahuan dan peningkatan daya saing bangsa.
Langkah Universitas Darunnajah mengirimkan 37 proposal ke dalam kompetisi BIMA 2026 memperlihatkan bahwa usia kelembagaan bukan menjadi hambatan dalam berkontribusi pada sistem riset nasional.
Di tengah kompetisi yang ketat, keberadaan kampus baru yang aktif meneliti memperkaya ekosistem riset di Indonesia serta membuka ruang bagi peningkatan kapasitas akademik pada generasi perguruan tinggi berikutnya.
(nnz)
Lihat Juga :