IPB University Resmikan Fakultas Kedokteran dan Gizi, Cek Prodi Barunya!
Senin, 02 Februari 2026 - 17:44 WIB
loading...
IPB University resmi mendirikan Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) yang akan mulai beroperasi pada 2026. Foto/IPB University.
A
A
A
JAKARTA - IPB University resmi mendirikan Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) yang akan mulai beroperasi pada 2026. FkGiz menjadi terobosan baru pendidikan kesehatan melalui inetgrasi ilmu kedokteran dengan kekuatan IPB University di bidang gizi, pangan, biosains, dan kesehatan masyarakat.
Rektor IPB University , Dr Alim Setiawan Slamet, mengatakan pembentukan FKGiz merupakan langkah strategis untuk menggabungkan Fakultas Kedokteran dengan Departemen Gizi Masyarakat.
Baca juga: 20 Jurusan Unair dengan Keketatan Tertinggi di SNBP 2025, Kedokteran Jadi Rebutan
"Integrasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan ilmu kedokteran dan gizi yang terintegrasi, berbasis biosains tropika, serta berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat,” katanya, melalui siaran pers, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, pendirian FKGiz sejalan dengan arah transformasi IPB University sebagai universitas berbasis biosains dan agromaritim, sekaligus memperkuat penerapan paradigma one health dan life-course approach.
Baca juga: STTRII Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Teologi Sistematika Reformatoris dan Teologi Misi
Melalui integrasi ini, IPB University menargetkan pengembangan ilmu kedokteran dan gizi yang berbasis biosains tropika serta berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr Ivan Rizal Sini, menjelaskan bahwa pembentukan FKGiz dilatarbelakangi oleh kebutuhan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Ia menyoroti berbagai persoalan kesehatan yang masih dihadapi Indonesia, seperti stunting, malnutrisi, penyakit metabolik, kesehatan ibu dan anak, hingga beban ganda penyakit menular dan tidak menular.
Baca juga: Bahaya Whip Pink: Dokter IPB Ungkap Risiko Kerusakan Saraf hingga Kematian
“Permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan kedokteran klinis. Integrasi antara kedokteran dan gizi menjadi kunci untuk memperkuat sistem kesehatan nasional,” ujarnya.
Dr Ivan menambahkan, IPB University memiliki modal akademik yang kuat untuk mengembangkan pendekatan kesehatan terintegrasi tersebut, mengingat keunggulan historis kampus di bidang pertanian, pangan, dan gizi. Melalui FKGiz, pendidikan kedokteran diposisikan dalam kerangka kesehatan dari hulu ke hilir.
Dalam konsep ini, faktor gizi, pangan, lingkungan, dan perilaku tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan bagian integral dalam memahami penyakit serta upaya pencegahannya. IPB University menargetkan lulusan FKGiz mampu melihat persoalan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan hingga tata laksana klinis.
Lebih lanjut, FKGiz juga dirancang untuk menghasilkan dokter dengan pendekatan ilmu komunitas berbasis herbal yang kuat, serta pemahaman mendalam mengenai gizi dan sistem pangan.
Integrasi ini turut memperkuat penerapan model Longitudinal Integrated Clerkship (LIC), yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman klinik berkesinambungan dan kontekstual, sekaligus mendorong penguatan riset translasional dan efisiensi akademik.
Dari sisi prospek karier, lulusan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University memiliki peluang luas, mulai dari layanan kesehatan primer dan rujukan, program kesehatan masyarakat, industri pangan dan nutrisi, sektor pemerintahan, hingga lembaga riset nasional dan internasional.
Selain mendirikan FKGiz, IPB University juga membuka Program Studi Nutrisionis sebagai bagian dari pengembangan fakultas. Program ini dihadirkan untuk menjawab kesenjangan antara kebutuhan layanan gizi berkualitas dengan ketersediaan tenaga nutrisionis yang terstandar.
Kolaborasi antara dokter dan nutrisionis sejak masa pendidikan dinilai penting dalam membangun layanan kesehatan yang holistik, efektif, dan berkelanjutan. Untuk mendukung proses pendidikan dan praktik klinik, IPB University juga merencanakan pengembangan rumah sakit pendidikan.
Rumah sakit pendidikan IPB University nantinya akan menjadi sarana pembelajaran interprofesional sekaligus pusat riset serta layanan kesehatan promotif dan preventif, yang dirancang sebagai ruang kolaborasi nyata antara dokter dan nutrisionis.
Rektor IPB University , Dr Alim Setiawan Slamet, mengatakan pembentukan FKGiz merupakan langkah strategis untuk menggabungkan Fakultas Kedokteran dengan Departemen Gizi Masyarakat.
Baca juga: 20 Jurusan Unair dengan Keketatan Tertinggi di SNBP 2025, Kedokteran Jadi Rebutan
"Integrasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan ilmu kedokteran dan gizi yang terintegrasi, berbasis biosains tropika, serta berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat,” katanya, melalui siaran pers, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, pendirian FKGiz sejalan dengan arah transformasi IPB University sebagai universitas berbasis biosains dan agromaritim, sekaligus memperkuat penerapan paradigma one health dan life-course approach.
Baca juga: STTRII Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Teologi Sistematika Reformatoris dan Teologi Misi
Melalui integrasi ini, IPB University menargetkan pengembangan ilmu kedokteran dan gizi yang berbasis biosains tropika serta berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.
Latar Belakang Pendirian FKGiz
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr Ivan Rizal Sini, menjelaskan bahwa pembentukan FKGiz dilatarbelakangi oleh kebutuhan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Ia menyoroti berbagai persoalan kesehatan yang masih dihadapi Indonesia, seperti stunting, malnutrisi, penyakit metabolik, kesehatan ibu dan anak, hingga beban ganda penyakit menular dan tidak menular.
Baca juga: Bahaya Whip Pink: Dokter IPB Ungkap Risiko Kerusakan Saraf hingga Kematian
“Permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan kedokteran klinis. Integrasi antara kedokteran dan gizi menjadi kunci untuk memperkuat sistem kesehatan nasional,” ujarnya.
Dr Ivan menambahkan, IPB University memiliki modal akademik yang kuat untuk mengembangkan pendekatan kesehatan terintegrasi tersebut, mengingat keunggulan historis kampus di bidang pertanian, pangan, dan gizi. Melalui FKGiz, pendidikan kedokteran diposisikan dalam kerangka kesehatan dari hulu ke hilir.
Dalam konsep ini, faktor gizi, pangan, lingkungan, dan perilaku tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan bagian integral dalam memahami penyakit serta upaya pencegahannya. IPB University menargetkan lulusan FKGiz mampu melihat persoalan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan hingga tata laksana klinis.
Lebih lanjut, FKGiz juga dirancang untuk menghasilkan dokter dengan pendekatan ilmu komunitas berbasis herbal yang kuat, serta pemahaman mendalam mengenai gizi dan sistem pangan.
Integrasi ini turut memperkuat penerapan model Longitudinal Integrated Clerkship (LIC), yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman klinik berkesinambungan dan kontekstual, sekaligus mendorong penguatan riset translasional dan efisiensi akademik.
Prospek Karier
Dari sisi prospek karier, lulusan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University memiliki peluang luas, mulai dari layanan kesehatan primer dan rujukan, program kesehatan masyarakat, industri pangan dan nutrisi, sektor pemerintahan, hingga lembaga riset nasional dan internasional.
Prodi Baru Nutrisionis
Selain mendirikan FKGiz, IPB University juga membuka Program Studi Nutrisionis sebagai bagian dari pengembangan fakultas. Program ini dihadirkan untuk menjawab kesenjangan antara kebutuhan layanan gizi berkualitas dengan ketersediaan tenaga nutrisionis yang terstandar.
Kolaborasi antara dokter dan nutrisionis sejak masa pendidikan dinilai penting dalam membangun layanan kesehatan yang holistik, efektif, dan berkelanjutan. Untuk mendukung proses pendidikan dan praktik klinik, IPB University juga merencanakan pengembangan rumah sakit pendidikan.
Rumah sakit pendidikan IPB University nantinya akan menjadi sarana pembelajaran interprofesional sekaligus pusat riset serta layanan kesehatan promotif dan preventif, yang dirancang sebagai ruang kolaborasi nyata antara dokter dan nutrisionis.
(nnz)
Lihat Juga :