Circular Food Garden Ajarkan Ketahanan Pangan dan Lingkungan di SD Mojokerto
Rabu, 04 Februari 2026 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Founder GLS, Onish Akhsani, menilai bahwa pendidikan lingkungan akan kehilangan makna jika tidak dihubungkan dengan pengalaman langsung anak.
“Kami ingin anak-anak terhubung langsung dengan tanah dan sumber makanan mereka. Cinta lingkungan tumbuh dari pengalaman nyata. Sekolah bisa menjadi ruang hidup berkelanjutan, bukan sekadar ruang kelas,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Dalam perjalanannya, program ini memberikan dampak nyata sekaligus pelajaran penting. Pihak SD Negeri Kuripansari menilai Circular Food Garden telah menjadi media belajar yang efektif bagi siswa dalam memahami kepedulian lingkungan dan ketahanan pangan. Anak-anak terlibat langsung dalam kegiatan berkebun, merawat ayam, hingga memanfaatkan hasil kebun dan ternak untuk konsumsi bersama.
Namun demikian, evaluasi lapangan menunjukkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan penguatan di berbagai aspek. Salah satunya adalah pemahaman siswa terhadap konsep circular food system secara menyeluruh. Sebagian siswa masih memaknai kegiatan sebatas menanam dan merawat ayam, tanpa memahami siklus pengolahan limbah organik hingga pemanfaatan kembali hasilnya sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan.
Dari sisi teknis, pengelolaan kebun relatif sudah berjalan konsisten, sementara perawatan ayam masih memerlukan peningkatan kapasitas. Hal ini wajar mengingat siswa dan guru baru pertama kali belajar memelihara ayam petelur jenis Elba. Penguatan pengetahuan dan pendampingan lanjutan dibutuhkan agar pengalaman belajar ini tidak berhenti pada praktik dasar, sekaligus mencegah risiko kematian ternak akibat penyakit.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pakan ternak yang berkualitas agar produksi telur optimal. Ketergantungan pada sisa makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terbukti belum cukup mendukung produktivitas ayam. Karena itu, diperlukan dukungan anggaran untuk pakan tambahan, serta penambahan ayam yang sehat dan produktif agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh seluruh siswa.
“Kami ingin anak-anak terhubung langsung dengan tanah dan sumber makanan mereka. Cinta lingkungan tumbuh dari pengalaman nyata. Sekolah bisa menjadi ruang hidup berkelanjutan, bukan sekadar ruang kelas,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Dalam perjalanannya, program ini memberikan dampak nyata sekaligus pelajaran penting. Pihak SD Negeri Kuripansari menilai Circular Food Garden telah menjadi media belajar yang efektif bagi siswa dalam memahami kepedulian lingkungan dan ketahanan pangan. Anak-anak terlibat langsung dalam kegiatan berkebun, merawat ayam, hingga memanfaatkan hasil kebun dan ternak untuk konsumsi bersama.
Namun demikian, evaluasi lapangan menunjukkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan penguatan di berbagai aspek. Salah satunya adalah pemahaman siswa terhadap konsep circular food system secara menyeluruh. Sebagian siswa masih memaknai kegiatan sebatas menanam dan merawat ayam, tanpa memahami siklus pengolahan limbah organik hingga pemanfaatan kembali hasilnya sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan.
Dari sisi teknis, pengelolaan kebun relatif sudah berjalan konsisten, sementara perawatan ayam masih memerlukan peningkatan kapasitas. Hal ini wajar mengingat siswa dan guru baru pertama kali belajar memelihara ayam petelur jenis Elba. Penguatan pengetahuan dan pendampingan lanjutan dibutuhkan agar pengalaman belajar ini tidak berhenti pada praktik dasar, sekaligus mencegah risiko kematian ternak akibat penyakit.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pakan ternak yang berkualitas agar produksi telur optimal. Ketergantungan pada sisa makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terbukti belum cukup mendukung produktivitas ayam. Karena itu, diperlukan dukungan anggaran untuk pakan tambahan, serta penambahan ayam yang sehat dan produktif agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh seluruh siswa.
Lihat Juga :