Konsolnas 2026, Wamendikdasmen Soroti Kompetensi Guru
Rabu, 11 Februari 2026 - 17:45 WIB
loading...
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat pada penutupan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas) 2026. Foto/BKHM.
A
A
A
JAKARTA - Kemendikdasmen secara resmi menutup rangkaian Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas) 2026 yang berlangsung di Depok, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi forum evaluasi sekaligus penguatan arah kebijakan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru sebagai prioritas utama dalam perbaikan mutu pendidikan.
Baca juga: Cek Kesehatan Gratis, Hipertensi dan Masalah Gigi Mulai Muncul pada Anak Sekolah
“Ada hal yang perlu saya tekankan di sini. Ada yang luput dari kita. Ada persoalan kompetensi,” kata Atip.
Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan guru selama ini sudah cukup besar, namun aspek kompetensi masih memerlukan perhatian serius.
“Jadi kita terlalu terfokus kepada kesejahteraan padahal itu sesuatu yang pasti. Tapi kita agak alpa dengan kompetensi. Untuk semua yang terkait dengan kompetensi guru ini,” ujarnya.
Baca juga: Kapan PIP 2026 Cair? Pantau Cara Aktivasi Rekeningnya
Atip mencontohkan hasil uji kompetensi bahasa Indonesia di salah satu kabupaten yang menunjukkan capaian belum menggembirakan.
“Dengan inisiatif sendiri melakukan tes UKBI uji kompetensi bahasa Indonesia. Hasilnya belum mengembirakan. Jadi yang unggul itu tampaknya di bawah 20% ya Pak. Yang unggul Pak. Mayoritasnya semenjana. Sedang-sedang saja,” tuturnya.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, mengingat bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar utama dalam proses pembelajaran di sekolah.
Baca juga: 125 Mahasantri Cinta Quran Center Siap Jadi Dai di Tengah Masyarakat
“Kompetensi guru dimana bahasa Indonesia itu adalah bahasa pengantar. Tapi yang unggulnya 20% ke bawah,” katanya.
Selain itu, Atip juga menyoroti kompetensi guru pada mata pelajaran lain, termasuk matematika. Ia mengungkapkan pernah menemukan kasus guru yang kesulitan menyelesaikan soal matematika yang diberikan.
“Untuk mata pelajaran yang lain. Kita ambil contoh untuk matematika. Pernah dalam satu kesempatan guru matematika itu. Diminta untuk menyelesaikan satu persoalan matematika. Dia tidak bisa menjawab. Jadi kompetensi is the first,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi harus menjadi pekerjaan rumah bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Prosperity is the first. Ini tolong kita menjadi PR semua soal kompetensi. Soal kompetensi,” katanya.
Menurut Atip, rendahnya kompetensi guru berpotensi berdampak pada kualitas hasil belajar siswa.
“Jadi bisa dibayangkan kalau kemudian hasil output dari siswa-siswa kita juga belum mengembirakan,” ujarnya.
Selain kompetensi akademik, Wamendikdasmen juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Ia mengingatkan bahwa guru memiliki peran sebagai teladan bagi peserta didik, baik dalam sikap, penampilan, maupun cara berbahasa.
“Guru itu harus berbicara tanpa kata. Dari mulai busana sampai kemudian juga diksi bahasa yang dia gunakan. Bagi guru itu, bagi murid itu selalu contoh,” katanya.
Atip menambahkan bahwa peserta didik cenderung meniru perilaku guru dibanding hanya mendengarkan nasihat.
“Bahwa anak kita, kalau bagi saya anak kandung saya, anak didik kita bukan pendengar yang baik. Tapi dia pencontoh yang baik. Pencontoh yang baik,” tuturnya.
Terkait dengan guru juga menjadi salah satu isu yang dibahas di Konsolnas, khususnya di Komisi VII. Rekomendasi komisi yang dibacakan Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), Toto Suharya menekankan pemenuhan dan distribusi guru yang lebih fleksibel, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan guru, pemenuhan kepala sekolah dan pengawas definitif, serta dukungan tenaga kependidikan untuk administrasi sekolah.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru sebagai prioritas utama dalam perbaikan mutu pendidikan.
Baca juga: Cek Kesehatan Gratis, Hipertensi dan Masalah Gigi Mulai Muncul pada Anak Sekolah
“Ada hal yang perlu saya tekankan di sini. Ada yang luput dari kita. Ada persoalan kompetensi,” kata Atip.
Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan guru selama ini sudah cukup besar, namun aspek kompetensi masih memerlukan perhatian serius.
“Jadi kita terlalu terfokus kepada kesejahteraan padahal itu sesuatu yang pasti. Tapi kita agak alpa dengan kompetensi. Untuk semua yang terkait dengan kompetensi guru ini,” ujarnya.
Baca juga: Kapan PIP 2026 Cair? Pantau Cara Aktivasi Rekeningnya
Atip mencontohkan hasil uji kompetensi bahasa Indonesia di salah satu kabupaten yang menunjukkan capaian belum menggembirakan.
“Dengan inisiatif sendiri melakukan tes UKBI uji kompetensi bahasa Indonesia. Hasilnya belum mengembirakan. Jadi yang unggul itu tampaknya di bawah 20% ya Pak. Yang unggul Pak. Mayoritasnya semenjana. Sedang-sedang saja,” tuturnya.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, mengingat bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar utama dalam proses pembelajaran di sekolah.
Baca juga: 125 Mahasantri Cinta Quran Center Siap Jadi Dai di Tengah Masyarakat
“Kompetensi guru dimana bahasa Indonesia itu adalah bahasa pengantar. Tapi yang unggulnya 20% ke bawah,” katanya.
Selain itu, Atip juga menyoroti kompetensi guru pada mata pelajaran lain, termasuk matematika. Ia mengungkapkan pernah menemukan kasus guru yang kesulitan menyelesaikan soal matematika yang diberikan.
“Untuk mata pelajaran yang lain. Kita ambil contoh untuk matematika. Pernah dalam satu kesempatan guru matematika itu. Diminta untuk menyelesaikan satu persoalan matematika. Dia tidak bisa menjawab. Jadi kompetensi is the first,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi harus menjadi pekerjaan rumah bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Prosperity is the first. Ini tolong kita menjadi PR semua soal kompetensi. Soal kompetensi,” katanya.
Menurut Atip, rendahnya kompetensi guru berpotensi berdampak pada kualitas hasil belajar siswa.
“Jadi bisa dibayangkan kalau kemudian hasil output dari siswa-siswa kita juga belum mengembirakan,” ujarnya.
Selain kompetensi akademik, Wamendikdasmen juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Ia mengingatkan bahwa guru memiliki peran sebagai teladan bagi peserta didik, baik dalam sikap, penampilan, maupun cara berbahasa.
“Guru itu harus berbicara tanpa kata. Dari mulai busana sampai kemudian juga diksi bahasa yang dia gunakan. Bagi guru itu, bagi murid itu selalu contoh,” katanya.
Atip menambahkan bahwa peserta didik cenderung meniru perilaku guru dibanding hanya mendengarkan nasihat.
“Bahwa anak kita, kalau bagi saya anak kandung saya, anak didik kita bukan pendengar yang baik. Tapi dia pencontoh yang baik. Pencontoh yang baik,” tuturnya.
Terkait dengan guru juga menjadi salah satu isu yang dibahas di Konsolnas, khususnya di Komisi VII. Rekomendasi komisi yang dibacakan Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), Toto Suharya menekankan pemenuhan dan distribusi guru yang lebih fleksibel, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan guru, pemenuhan kepala sekolah dan pengawas definitif, serta dukungan tenaga kependidikan untuk administrasi sekolah.
(nnz)
Lihat Juga :