Mahasiswa UI Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Forum Internasional Amsterdam
Rabu, 25 Februari 2026 - 20:02 WIB
loading...
A
A
A
Melalui komunitas tersebut, Tenri bersama timnya mengedukasi anak-anak dan remaja untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah sekaligus melatih kreativitas mereka dalam mendaur ulang limbah menjadi produk bernilai guna. Sampah kertas diolah menjadi tempat pensil dan beberapa kerajinan tangan, sedangkan dedaunan dimanfaatkan melalui teknik eco-printing untuk menghasilkan karya seni.
“Bagi saya, isu lingkungan adalah ruang aksi. Saya ingin menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari komunitas kecil dengan langkah sederhana namun konsisten. Melalui waste upcycling, kami tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran, kreativitas, dan rasa tanggung jawab generasi muda terhadap bumi,” ujar Tenri, melalui siaran pers, Rabu (25/2/2026).
Ia juga menambahkan bahwa partisipasinya dalam forum tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan praktik menjaga lingkungan yang baik dari Indonesia kepada dunia. “Saya merasa terhormat bisa membawa isu lingkungan maupun sosial di Indonesia ke forum internasional. Diskusi lintas budaya membuka perspektif saya bahwa tantangan global seperti perubahan iklim, pendidikan, dan ketimpangan sosial membutuhkan kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin,” tambahnya.
Selama forum berlangsung, Tenri aktif dalam diskusi lintas budaya dengan delegasi dari berbagai negara seperti Brasil, Inggris, Jepang, hingga Mesir. Ia bahkan dipercaya menjadi ketua kelompok dalam salah satu sesi diskusi untuk merancang konsep komunitas yang berdampak sosial. Partisipasi ini juga menjadi momentum bagi Tenri untuk memperkenalkan praktik menjaga lingkungan dari perspektif Indonesia.
Keikutsertaan Tenri dalam forum ini relevan dengan komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), serta SDG 13 (Climate Action). Inisiatif yang diusung Tenri mencerminkan integrasi antara edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan aksi lingkungan berkelanjutan.
“Bagi saya, isu lingkungan adalah ruang aksi. Saya ingin menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari komunitas kecil dengan langkah sederhana namun konsisten. Melalui waste upcycling, kami tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran, kreativitas, dan rasa tanggung jawab generasi muda terhadap bumi,” ujar Tenri, melalui siaran pers, Rabu (25/2/2026).
Ia juga menambahkan bahwa partisipasinya dalam forum tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan praktik menjaga lingkungan yang baik dari Indonesia kepada dunia. “Saya merasa terhormat bisa membawa isu lingkungan maupun sosial di Indonesia ke forum internasional. Diskusi lintas budaya membuka perspektif saya bahwa tantangan global seperti perubahan iklim, pendidikan, dan ketimpangan sosial membutuhkan kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin,” tambahnya.
Selama forum berlangsung, Tenri aktif dalam diskusi lintas budaya dengan delegasi dari berbagai negara seperti Brasil, Inggris, Jepang, hingga Mesir. Ia bahkan dipercaya menjadi ketua kelompok dalam salah satu sesi diskusi untuk merancang konsep komunitas yang berdampak sosial. Partisipasi ini juga menjadi momentum bagi Tenri untuk memperkenalkan praktik menjaga lingkungan dari perspektif Indonesia.
Keikutsertaan Tenri dalam forum ini relevan dengan komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), serta SDG 13 (Climate Action). Inisiatif yang diusung Tenri mencerminkan integrasi antara edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan aksi lingkungan berkelanjutan.
(nnz)
Lihat Juga :