Profil Pendidikan Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Kini Pimpin Iran
Senin, 09 Maret 2026 - 16:45 WIB
loading...
Nama Mojtaba Khamenei menjadi sorotan dunia setelah ia resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Foto/X @BullYTheoryio.
A
A
A
JAKARTA - Nama Mojtaba Khamenei menjadi sorotan dunia setelah ia resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran . Ulama berusia 56 tahun tersebut dipilih oleh Assembly of Experts atau Majelis Pakar Iran pada 8 Maret 2026.
Penunjukan ini terjadi hanya lebih dari sepekan setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mojtaba sendiri selamat dari serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 tersebut.
Baca juga: Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Dibenci AS
Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama dan ahli agama memilih Mojtaba melalui mekanisme konstitusional yang berlaku di Iran untuk menentukan pemimpin tertinggi negara.
Dengan pengangkatannya, Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran sejak Revolusi Iran 1979.
Dikutip dari Anadolu, Senin (9/3/2026), Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, salah satu pusat keagamaan terbesar di Iran. Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989 hingga wafatnya pada 2026.
Baca juga: 6 Alasan Mojtaba Khamenei Dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Kakeknya, Sayyed Javad Khamenei, juga dikenal sebagai ulama berpengaruh di Iran. Lingkungan keluarga yang sangat religius dan politis membuat Mojtaba sejak kecil berada di sekitar lingkar kekuasaan Republik Islam.
Dalam kehidupan pribadinya, Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari politikus konservatif Iran Gholam-Ali Haddad-Adel, mantan ketua parlemen Iran.
Seperti banyak tokoh ulama Iran lainnya, Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota Qom, pusat pendidikan teologi Syiah di Iran.
Di kota ini, ia mempelajari fikih Islam dan teologi di sejumlah hauzah atau seminari terkenal. Mojtaba belajar di bawah bimbingan beberapa ulama besar Iran, antara lain:
Mahmoud Hashemi Shahroudi
Lotfollah Safi Golpaygani
Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi
Mesbah-Yazdi dikenal sebagai salah satu ideolog konservatif paling berpengaruh di Iran dan menjadi mentor bagi banyak tokoh politik di Republik Islam.
Dalam karier akademiknya, Mojtaba juga diketahui mengajar di seminari Qom, termasuk kelas tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, level tertinggi dalam pendidikan hauzah.
Meski memiliki pengaruh besar dalam lingkar kekuasaan Iran, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang jarang tampil di publik. Ia tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan ataupun posisi eksekutif negara.
Namun, para analis politik Iran menilai Mojtaba memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran, institusi militer paling berpengaruh di negara tersebut.
Kedekatan ini membuatnya dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di balik layar politik Iran selama bertahun-tahun.
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang setelah konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel.
Bahkan, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz secara terbuka menyatakan bahwa siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei akan menjadi target eliminasi.
Ancaman tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi Mojtaba Khamenei saat memulai masa kepemimpinannya sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Penunjukan ini terjadi hanya lebih dari sepekan setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mojtaba sendiri selamat dari serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 tersebut.
Baca juga: Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Dibenci AS
Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama dan ahli agama memilih Mojtaba melalui mekanisme konstitusional yang berlaku di Iran untuk menentukan pemimpin tertinggi negara.
Dengan pengangkatannya, Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran sejak Revolusi Iran 1979.
Lahir dari Keluarga Ulama Berpengaruh
Dikutip dari Anadolu, Senin (9/3/2026), Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, salah satu pusat keagamaan terbesar di Iran. Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989 hingga wafatnya pada 2026.
Baca juga: 6 Alasan Mojtaba Khamenei Dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Kakeknya, Sayyed Javad Khamenei, juga dikenal sebagai ulama berpengaruh di Iran. Lingkungan keluarga yang sangat religius dan politis membuat Mojtaba sejak kecil berada di sekitar lingkar kekuasaan Republik Islam.
Dalam kehidupan pribadinya, Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari politikus konservatif Iran Gholam-Ali Haddad-Adel, mantan ketua parlemen Iran.
Pendidikan Agama di Qom
Seperti banyak tokoh ulama Iran lainnya, Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota Qom, pusat pendidikan teologi Syiah di Iran.
Di kota ini, ia mempelajari fikih Islam dan teologi di sejumlah hauzah atau seminari terkenal. Mojtaba belajar di bawah bimbingan beberapa ulama besar Iran, antara lain:
Mahmoud Hashemi Shahroudi
Lotfollah Safi Golpaygani
Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi
Mesbah-Yazdi dikenal sebagai salah satu ideolog konservatif paling berpengaruh di Iran dan menjadi mentor bagi banyak tokoh politik di Republik Islam.
Dalam karier akademiknya, Mojtaba juga diketahui mengajar di seminari Qom, termasuk kelas tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, level tertinggi dalam pendidikan hauzah.
Sosok Berpengaruh namun Misterius
Meski memiliki pengaruh besar dalam lingkar kekuasaan Iran, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang jarang tampil di publik. Ia tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan ataupun posisi eksekutif negara.
Namun, para analis politik Iran menilai Mojtaba memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran, institusi militer paling berpengaruh di negara tersebut.
Kedekatan ini membuatnya dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di balik layar politik Iran selama bertahun-tahun.
Memimpin di Tengah Ancaman
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang setelah konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel.
Bahkan, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz secara terbuka menyatakan bahwa siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei akan menjadi target eliminasi.
Ancaman tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi Mojtaba Khamenei saat memulai masa kepemimpinannya sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
(nnz)
Lihat Juga :