Kisah Septaberlianto, Penerima KIP Kuliah UNY yang Lulus Cumlaude dengan Segudang Prestasi
Kamis, 19 Maret 2026 - 08:54 WIB
loading...
A
A
A
Kesempatan itu datang melalui pendaftaran KIP-K susulan. Merasa sesuai kriteria, ia memberanikan diri mendaftar dan dinyatakan lolos. Sejak saat itu, Septa memandang KIP-K bukan sekadar bantuan biaya. “KIP-K bagi saya adalah amanah. Itu dana dari masyarakat dan negara, jadi harus saya pertanggungjawabkan dengan prestasi dan hal-hal yang bermanfaat,” katanya.
Komitmen tersebut ia buktikan selama berkuliah. Septa mengikuti sekitar 70 kompetisi tingkat nasional dan 36 di antaranya berhasil meraih juara. Ia juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas sebagai bentuk pengabdian sekaligus pengembangan diri. Dana KIP-K yang diterimanya tidak hanya membantu meringankan UKT, tetapi juga menunjang kebutuhan lomba, organisasi, dan akademik.
Prestasi paling membanggakan ia raih pada Juni-Juli 2025, ketika mengikuti ajang internasional Global Innovation Sprint yang diikuti dari empat negara. Saat itu, ia juga tengah menyelesaikan skripsi. “Lombanya bersamaan dengan proses skripsi. Alhamdulillah saya mendapatkan satu medali emas dan satu medali perak,” tuturnya. Capaian tersebut membuatnya diundang sebagai Inspired Student dalam kegiatan PKKMB FBSB UNY 2025.
Semangat berprestasi sebenarnya sudah ia bangun sejak di SMAN 1 Srandakan. Ia aktif di ekstrakurikuler jurnalistik dan pernah menerbitkan sekitar 20 hingga 25 karya di Koran Merapi. Pada 2019, ia juga terpilih sebagai Duta Literasi Kabupaten Bantul. Ia juga berhasil lolos perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN, sebuah capaian yang cukup membanggakan bagi sekolahnya saat itu.
Namun, menjadi mahasiswa KIP-K tidak lepas dari tantangan. Septa harus menjaga IPK tetap di atas 3,50, mengelola keuangan dengan cermat, serta menghadapi stigma dari sebagian masyarakat. Ia mengaku kebiasaan menentukan skala prioritas, berani mencoba hal baru, serta mempersiapkan fisik dan mental menjadi kunci konsistensinya.
Komitmen tersebut ia buktikan selama berkuliah. Septa mengikuti sekitar 70 kompetisi tingkat nasional dan 36 di antaranya berhasil meraih juara. Ia juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas sebagai bentuk pengabdian sekaligus pengembangan diri. Dana KIP-K yang diterimanya tidak hanya membantu meringankan UKT, tetapi juga menunjang kebutuhan lomba, organisasi, dan akademik.
Prestasi paling membanggakan ia raih pada Juni-Juli 2025, ketika mengikuti ajang internasional Global Innovation Sprint yang diikuti dari empat negara. Saat itu, ia juga tengah menyelesaikan skripsi. “Lombanya bersamaan dengan proses skripsi. Alhamdulillah saya mendapatkan satu medali emas dan satu medali perak,” tuturnya. Capaian tersebut membuatnya diundang sebagai Inspired Student dalam kegiatan PKKMB FBSB UNY 2025.
Semangat berprestasi sebenarnya sudah ia bangun sejak di SMAN 1 Srandakan. Ia aktif di ekstrakurikuler jurnalistik dan pernah menerbitkan sekitar 20 hingga 25 karya di Koran Merapi. Pada 2019, ia juga terpilih sebagai Duta Literasi Kabupaten Bantul. Ia juga berhasil lolos perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN, sebuah capaian yang cukup membanggakan bagi sekolahnya saat itu.
Namun, menjadi mahasiswa KIP-K tidak lepas dari tantangan. Septa harus menjaga IPK tetap di atas 3,50, mengelola keuangan dengan cermat, serta menghadapi stigma dari sebagian masyarakat. Ia mengaku kebiasaan menentukan skala prioritas, berani mencoba hal baru, serta mempersiapkan fisik dan mental menjadi kunci konsistensinya.
Lihat Juga :