Momen Haru Orang Tua Wisudawan ITS Terima Ijazah Anaknya yang Gugur saat Pengabdian
Sabtu, 18 April 2026 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Penyerahan ijazah oleh Mentrans ini merupakan puncak penghormatan negara atas dedikasi Abdul Rohid yang memilih mengabdi untuk pemetaan potensi ekonomi di Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Sulawesi Tengah. Bahkan demi pengabdian ini, almarhum memilih menunda wisudanya yang seharusnya dijalani pada September 2025 lalu. Namun takdir berkata lain, sebelum sempat merayakan kelulusannya, Abdul Rohid harus menghadap Sang Maha Kuasa lebih dulu.
Mengawali sambutannya, Mentrans yang akrab disapa Iftitah tersebut menyampaikan rasa hormat dan duka cita yang mendalam dari negara kepada keluarga almarhum. Ia menyebut bahwa penyerahan ijazah ini bukan sekadar prosesi administratif, melainkan bentuk pengakuan atas jasa besar seorang patriot muda yang gugur di garis terdepan pembangunan nasional. “Almarhum Abdul Rohid tidak hanya menyelesaikan studi namun ia telah menyelesaikan tugas hidupnya sebagai anak yang berbakti, manusia yang berguna, dan patriot bagi bangsanya,” ungkap Iftitah mengapresiasi.
Sejalan dengan apresiasi tersebut, Rektor ITS turut menyampaikan rasa bangga sekaligus duka mendalamnya atas dedikasi luar biasa yang ditunjukkan oleh almarhum selama masa pengabdiannya. “Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan kebanggaan serta penghargaan kepada almarhum yang telah memberikan keteladanan untuk terus berdedikasi mewujudkan marwah terbaik sampai akhir hayatnya,” ujar Guru Besar Teknik Mesin ITS ini penuh haru.
Abdul Rohid yang berasal dari Sidoarjo ini merupakan mahasiswa berprestasi dari program studi D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi, Departemen Teknik Instrumentasi Fakultas Vokasi ITS. Ia berhasil menyelesaikan masa studinya tepat waktu dalam 8 semester dengan capaian akademik yang gemilang. Abdul Rohid lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,58 dan menyandang predikat Cumlaude .
Meski telah memenuhi syarat kelulusan sejak September 2025 lalu, Abdul Rohid memilih menunda keberangkatannya ke panggung wisuda sebab memilih menjalankan tugas pengabdian bersama TEP. Di saat rekan sejawatnya sibuk mempersiapkan perlengkapan wisuda, Rohid justru memilih terjun ke medan pengabdian.
Namun, dalam perjalanan tugas mulia tersebut, kondisi kesehatan Rohid menurun hingga akhirnya ia berpulang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun ia mewariskan nilai abadi bahwa teknologi tanpa rasa kemanusiaan tidaklah berarti apa-apa. Sosoknya yang berjiwa sosial tinggi dikenal sangat mencintai keluarganya.
Mengawali sambutannya, Mentrans yang akrab disapa Iftitah tersebut menyampaikan rasa hormat dan duka cita yang mendalam dari negara kepada keluarga almarhum. Ia menyebut bahwa penyerahan ijazah ini bukan sekadar prosesi administratif, melainkan bentuk pengakuan atas jasa besar seorang patriot muda yang gugur di garis terdepan pembangunan nasional. “Almarhum Abdul Rohid tidak hanya menyelesaikan studi namun ia telah menyelesaikan tugas hidupnya sebagai anak yang berbakti, manusia yang berguna, dan patriot bagi bangsanya,” ungkap Iftitah mengapresiasi.
Sejalan dengan apresiasi tersebut, Rektor ITS turut menyampaikan rasa bangga sekaligus duka mendalamnya atas dedikasi luar biasa yang ditunjukkan oleh almarhum selama masa pengabdiannya. “Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan kebanggaan serta penghargaan kepada almarhum yang telah memberikan keteladanan untuk terus berdedikasi mewujudkan marwah terbaik sampai akhir hayatnya,” ujar Guru Besar Teknik Mesin ITS ini penuh haru.
Abdul Rohid yang berasal dari Sidoarjo ini merupakan mahasiswa berprestasi dari program studi D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi, Departemen Teknik Instrumentasi Fakultas Vokasi ITS. Ia berhasil menyelesaikan masa studinya tepat waktu dalam 8 semester dengan capaian akademik yang gemilang. Abdul Rohid lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,58 dan menyandang predikat Cumlaude .
Meski telah memenuhi syarat kelulusan sejak September 2025 lalu, Abdul Rohid memilih menunda keberangkatannya ke panggung wisuda sebab memilih menjalankan tugas pengabdian bersama TEP. Di saat rekan sejawatnya sibuk mempersiapkan perlengkapan wisuda, Rohid justru memilih terjun ke medan pengabdian.
Namun, dalam perjalanan tugas mulia tersebut, kondisi kesehatan Rohid menurun hingga akhirnya ia berpulang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun ia mewariskan nilai abadi bahwa teknologi tanpa rasa kemanusiaan tidaklah berarti apa-apa. Sosoknya yang berjiwa sosial tinggi dikenal sangat mencintai keluarganya.
Lihat Juga :