UNRI Latih Guru SD Pekanbaru Terapkan Koding dan AI dalam Pembelajaran Deep Learning
Senin, 11 Mei 2026 - 13:22 WIB
loading...
Suasana pelatihan pembelajaran berbasis deep learning, koding, dan kecerdasan artifisial (AI) bagi guru SD se-Kota Pekanbaru. Foto/Istimewa.
A
A
A
PEKANBARU - Universitas Riau (UNRI) bersama Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pembelajaran berbasis deep learning , koding, dan kecerdasan artifisial (AI) bagi guru Sekolah Dasar (SD) se-Kota Pekanbaru pada 4–6 Mei 2026.
Kegiatan yang diikuti 123 guru dari 101 sekolah dasar ini merupakan bagian dari program hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek tahun anggaran 2026 dengan nomor kontrak 266/UN19.5.1.3/AL.04/2026 serta kontrak induk 184/C3/DT.05.00/PM/2026. Pelaksanaan program juga bekerja sama dengan Rumah Edukasi sebagai mitra pendukung implementasi pembelajaran berbasis teknologi dan inovasi pendidikan.
Baca juga: Dorong Pendidikan Bermutu, PKS Salurkan Bantuan dan Apresiasi Guru Inspiratif
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Syafrian Tommy dalam pembukaan kegiatan menekankan pentingnya perubahan paradigma pembelajaran, khususnya pada momentum Hari Pendidikan Nasional.
“Di Hari Pendidikan ini, kita ingin anak-anak belajar koding secara mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Koding bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi cara melatih berpikir. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting,” ujarnya, melalui siaran pers, Senin (11/5/2026).
Baca juga: Dirjen GTK Tegaskan Guru Non-ASN Tak Diberhentikan, SE Nomor 7/2026 Beri Kepastian Mengajar
Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Neni Hermita bersama tim pengabdian yang terdiri dari Rahmat Hidayat, Rifqa Gusmida Syahrun Barokah, serta Koordinator Program Studi PGSD FKIP UNRI, Muhammad Fendrik dengan dukungan mahasiswa Universitas Riau.
Menurut Prof. Neni, pelatihan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pemahaman guru terhadap kebijakan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dengan praktik pembelajaran di kelas.
“Selama ini banyak guru sudah mengenal KKA, tetapi belum sampai pada tahap implementasi. Kami ingin mendorong perubahan nyata, dari memahami menjadi mampu menerapkan dalam pembelajaran sehari-hari,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini menekankan pada koding unplugged, yakni pembelajaran koding tanpa komputer melalui lembar kerja (LKPD), kartu algoritma, dan aktivitas berbasis masalah yang kontekstual. Melalui pendekatan ini, koding tidak lagi dipahami sebagai aktivitas teknis, tetapi sebagai kerangka berpikir yang dapat diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran.
Selain itu, guru juga dikenalkan pada penerapan kecerdasan artifisial secara sederhana melalui platform Teachable Machine yang memungkinkan pembuatan model berbasis pengenalan gambar atau suara tanpa memerlukan kemampuan pemrograman yang kompleks. Dalam sesi praktik, peserta mencoba langsung merancang aktivitas pembelajaran, seperti mengklasifikasikan objek atau mengenali pola sederhana berbasis data.
Melalui pengalaman tersebut, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mulai memahami cara kerja AI secara sederhana dan bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas belajar yang bermakna bagi siswa.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kesiapan guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis koding dan AI. Sebelum pelatihan, hanya 25 persen guru yang memahami koding sebagai pendekatan berpikir. Setelah pelatihan, sebanyak 70 persen guru mampu merancang pembelajaran berbasis koding, sementara 90 persen peserta berhasil menyusun LKPD koding sederhana yang siap digunakan di kelas.
Salah satu peserta, Rista, guru dari SD Kartika 1-9 Sail Pekanbaru, mengaku mengalami perubahan cara pandang terhadap pembelajaran.
“Selama ini kami menganggap koding dan AI itu sulit. Tapi setelah praktik, ternyata bisa diterapkan dengan cara sederhana. Saya jadi lebih percaya diri untuk mencoba di kelas,” katanya.
Lebih jauh, pendekatan ini tidak hanya berdampak pada guru, tetapi juga membuka peluang pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa. Melalui aktivitas koding dan AI sederhana, siswa dapat dilatih untuk berpikir logis, mengenali pola, serta memahami hubungan sebab-akibat, bukan sekadar menghafal materi.
Ketua tim pengabdian menegaskan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan melalui forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Dengan demikian, praktik baik yang dihasilkan dapat terus berkembang dan direplikasi di sekolah lain.
Kegiatan yang diikuti 123 guru dari 101 sekolah dasar ini merupakan bagian dari program hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek tahun anggaran 2026 dengan nomor kontrak 266/UN19.5.1.3/AL.04/2026 serta kontrak induk 184/C3/DT.05.00/PM/2026. Pelaksanaan program juga bekerja sama dengan Rumah Edukasi sebagai mitra pendukung implementasi pembelajaran berbasis teknologi dan inovasi pendidikan.
Baca juga: Dorong Pendidikan Bermutu, PKS Salurkan Bantuan dan Apresiasi Guru Inspiratif
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Syafrian Tommy dalam pembukaan kegiatan menekankan pentingnya perubahan paradigma pembelajaran, khususnya pada momentum Hari Pendidikan Nasional.
“Di Hari Pendidikan ini, kita ingin anak-anak belajar koding secara mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Koding bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi cara melatih berpikir. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting,” ujarnya, melalui siaran pers, Senin (11/5/2026).
Baca juga: Dirjen GTK Tegaskan Guru Non-ASN Tak Diberhentikan, SE Nomor 7/2026 Beri Kepastian Mengajar
Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Neni Hermita bersama tim pengabdian yang terdiri dari Rahmat Hidayat, Rifqa Gusmida Syahrun Barokah, serta Koordinator Program Studi PGSD FKIP UNRI, Muhammad Fendrik dengan dukungan mahasiswa Universitas Riau.
Menurut Prof. Neni, pelatihan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pemahaman guru terhadap kebijakan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dengan praktik pembelajaran di kelas.
“Selama ini banyak guru sudah mengenal KKA, tetapi belum sampai pada tahap implementasi. Kami ingin mendorong perubahan nyata, dari memahami menjadi mampu menerapkan dalam pembelajaran sehari-hari,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini menekankan pada koding unplugged, yakni pembelajaran koding tanpa komputer melalui lembar kerja (LKPD), kartu algoritma, dan aktivitas berbasis masalah yang kontekstual. Melalui pendekatan ini, koding tidak lagi dipahami sebagai aktivitas teknis, tetapi sebagai kerangka berpikir yang dapat diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran.
Selain itu, guru juga dikenalkan pada penerapan kecerdasan artifisial secara sederhana melalui platform Teachable Machine yang memungkinkan pembuatan model berbasis pengenalan gambar atau suara tanpa memerlukan kemampuan pemrograman yang kompleks. Dalam sesi praktik, peserta mencoba langsung merancang aktivitas pembelajaran, seperti mengklasifikasikan objek atau mengenali pola sederhana berbasis data.
Melalui pengalaman tersebut, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mulai memahami cara kerja AI secara sederhana dan bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas belajar yang bermakna bagi siswa.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kesiapan guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis koding dan AI. Sebelum pelatihan, hanya 25 persen guru yang memahami koding sebagai pendekatan berpikir. Setelah pelatihan, sebanyak 70 persen guru mampu merancang pembelajaran berbasis koding, sementara 90 persen peserta berhasil menyusun LKPD koding sederhana yang siap digunakan di kelas.
Salah satu peserta, Rista, guru dari SD Kartika 1-9 Sail Pekanbaru, mengaku mengalami perubahan cara pandang terhadap pembelajaran.
“Selama ini kami menganggap koding dan AI itu sulit. Tapi setelah praktik, ternyata bisa diterapkan dengan cara sederhana. Saya jadi lebih percaya diri untuk mencoba di kelas,” katanya.
Lebih jauh, pendekatan ini tidak hanya berdampak pada guru, tetapi juga membuka peluang pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa. Melalui aktivitas koding dan AI sederhana, siswa dapat dilatih untuk berpikir logis, mengenali pola, serta memahami hubungan sebab-akibat, bukan sekadar menghafal materi.
Ketua tim pengabdian menegaskan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan melalui forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Dengan demikian, praktik baik yang dihasilkan dapat terus berkembang dan direplikasi di sekolah lain.
(nnz)
Lihat Juga :