Ngkaji Pendidikan di Jogja: Ketika Pendidikan Lupa Memahami Manusia

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:47 WIB
loading...
Ngkaji Pendidikan di...
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menggelar forum Ngkaji Pendidikan bertajuk Membaca? See the Unseen di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta, Sabtu (9/5/2026). Foto/Dok. SindoNews
A A A
YOGYAKARTA - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menggelar forum Ngkaji Pendidikan bertajuk “Membaca? See the Unseen” di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan inidihadiri sekitar 500 guru dan pegiat pendidikan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Selatan, Bontang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, hingga Bali.

Berbeda dari seminar pendidikan pada umumnya, forum ini tidak dipenuhi pembahasan kurikulum , administrasi sekolah, atau strategi pembelajaran teknis. Yang dibicarakan justru sesuatu yang lebih mendasar: manusia, kesadaran, dan kemampuan melihat hal-hal yang selama ini tidak tampak di ruang kelas.

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM sekaligus dosen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam paparannya membuka kegelisahan yang selama ini diam-diam dirasakan banyak guru. ”Sekolah bertambah, tetapi kemampuan berpikir tidak tumbuh,” katanya. Baca juga: 20 Negara yang Penduduknya Paling Rajin Baca Buku, Ini Posisi Indonesia

Menurut data BPS, jumlah sekolah dari 100 ribuan (1970), naik menjadi 200 ribuan (2000) dan menjadi 300 ribuan (2020). Jumlah universitas dari kurang lebih 10–20 PT (1950-an), naik menjadi 1171 (1993) dan melesat diatas 4000 kampus (2022).

Jumlah mahasiswa juga meningkat dari 200 ribuan (1975), hari ini meningkat pesat menjadi 9.9 juta (2025). Sementara jumlah lulusan sarjana melonjak drastis, dari hanya 30.000-50.000 (1980-an), naik ke 1,3 juta-an (2025).

Namun di tengah ledakan kuantitas tersebut, kualitas berpikir tidak tumbuh secara sebanding. Data PISA 2022 yang dipublikasikan OECD pada 2023 menunjukkan skor Indonesia masih tertinggal sekitar 100-120 poin dari rata-rata OECD dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Mayoritas siswa Indonesia juga belum mencapai kompetensi minimum dalam tiga bidang tersebut.

Sementara itu, data PIAAC OECD (2014–2015) menunjukkan kemampuan literasi mayoritas lulusan sarjana di Jakarta masih setara dengan lulusan SMP di Jepang atau negara-negara Skandinavia. Temuan ini memperlihatkan bahwa lamanya seseorang bersekolah tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas berpikirnya.

Rizal juga menyoroti rapuhnya struktur mental peserta didik sebagai akibat dari lingkungan belajar yang tidak melatih ketahanan berpikir. Laporan OECD menunjukkan siswa Indonesia mengalami tingkat perundungan lebih tinggi dibanding banyak negara lain (41% Indonesia vs 23% OECD), sekaligus memiliki growth mindset yang jauh lebih rendah (29% Indonesia vs 63% OECD).

Fenomena inilah yang kemudian Rizal ungkapkan sebagai “Schooling Without Learning”. Sekolah berjalan, tetapi belajar tidak benar-benar terjadi. Untuk menjelaskan persoalan tersebut, Rizal tidak memulai dari teori pendidikan konvensional.

Ia mengajak peserta memahami konsep entropi dalam hukum kedua termodinamika: bahwa segala sesuatu yang dibiarkan akan bergerak menuju ketidakteraturan. Es mencair. Bangunan rusak. Sistem runtuh. Dan menurut Rizal, pendidikan pun dapat mengalami hal serupa.

Ketika proses belajar berjalan otomatis tanpa refleksi dan kesadaran, sekolah perlahan berubah menjadi sistem yang sibuk menghasilkan kepatuhan, tetapi gagal membangun manusia yang sadar. Manusia dilatih sekadar menjadi “mesin pengulang”.

Ia kemudian mengaitkannya dengan teori dua sistem berpikir dari Daniel Kahneman: Sistem 1 yang cepat, otomatis, impulsif, dan berjalan seperti autopilot; serta Sistem 2 yang lambat, reflektif, dan sadar.

Menurut Rizal, pendidikan hari ini terlalu sering melatih sistem pertama: hafalan, pengulangan, jawaban tunggal, serta kepatuhan tanpa refleksi. Akibatnya, manusia terbiasa menjawab cepat, tetapi tidak terbiasa memahami pikirannya sendiri. “Padahal, masa depan pendidikan seharusnya adalah melatih kesadaran,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan Rizal dalam forum tersebut.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Rizal memperkenalkan konsep “Saklar Kognitif”, yakni kemampuan manusia untuk mengamati pikirannya sendiri atau metakognisi. Konsep itu dijelaskan melalui tiga tahap.

Pertama, Interrupt (menghentikan respons otomatis). Kedua, Observe (mengamati proses berpikir sendiri). Ketiga, Reconstruct (memperbarui cara berpikir dan bertindak secara sadar). Dalam forum tersebut, konsep itu tidak diposisikan sekadar sebagai metode belajar, melainkan sebagai fondasi kesadaran manusia. Baca juga:
Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan

Bagi banyak peserta, forum tersebut terasa sangat personal. “Ngkaji Pendidikan adalah kompas pendidikan bagi kami para guru Indonesia,” ungkap Rivai, seorang guru muda dari Yogyakarta.

Aji, seorang profesional yang turut hadir dalam forum tersebut, menyebut Ngkaji Pendidikan sebagai ruang yang langka dan unik, yang sulit ditemukan saat ini. Menurutnya, forum ini bukan sekadar tempat transfer materi, tetapi juga transfer energi, makna, dan harapan baru bagi siapa pun yang hadir di dalamnya.

Ia menilai Ngkaji Pendidikan mampu membangun imajinasi konstruktif. Peserta tidak hanya memahami persoalan pendidikan secara intelektual, tetapi juga menemukan makna terdalam melalui pengalaman batinnya masing-masing.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kegiatan Pembelajaran...
Kegiatan Pembelajaran di Lokasi Bencana Sumatera Berlangsung 100 Persen, tapi Belum Ideal
Ngkaji Pendidikan GSM...
Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan
Ngkaji Pendidikan GSM,...
Ngkaji Pendidikan GSM, Ketidakberpikiran Sumber Masalah atas Situasi Bangsa
Gandeng Pelita Harapan,...
Gandeng Pelita Harapan, Lippoland Hadirkan Lentera National School Park Serpong
Saksikan Diskusi Pendidikan...
Saksikan Diskusi Pendidikan Bermutu untuk Semua Ala Abdul Mu'ti di iNews TV Malam Ini
POSI Gelar Olimpiade...
POSI Gelar Olimpiade Sains di NTB, 638 Peserta NTB Tunjukkan Kemampuan
Menjaga Kampus Tetap...
Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
Ponpes Darul Amanah...
Ponpes Darul Amanah Kendal Raih Penghargaan Digitalisasi Pesantren Terbaik di Indonesia
Rekomendasi
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh...
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh Yusuf Sebut Gus Salam Layak Jadi Ketum PBNU
Berita Terkini
MNC University Bahas...
MNC University Bahas Masa Depan Produksi Iklan di Era AI melalui Talkshow KRUFEST
UNJ Expo 2026 Dibuka,...
UNJ Expo 2026 Dibuka, Hadirkan Pameran Inovasi, Tes Kesehatan, hingga Kuliner Nusantara
Mensos: Rekrutmen Guru...
Mensos: Rekrutmen Guru Sekolah Rakyat 2026 Capai 5.000 Orang
Menag: Insentif Guru...
Menag: Insentif Guru Madrasah Non-ASN Akan Cair Akhir Juni 2026
Jadwal TKA SMA 2026...
Jadwal TKA SMA 2026 Resmi Dirilis, Simak Tips Jitu Raih Nilai Tertinggi
KIP Kuliah Jalur Seleksi...
KIP Kuliah Jalur Seleksi Mandiri PTN dan PTS 2026 Resmi Dibuka, Daftar di Link Ini
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved