Tiga Lulusan Kedokteran UGM Lulus dengan IPK 4,00, Simak Perjuangan dan Cita-citanya
Jum'at, 05 Juni 2026 - 13:36 WIB
loading...
Mahasiswa UGM Tegar Rinang Pratama. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Tiga mahasiswa UGM berhasil lulus dan meraih gelar S1 Kedokteran dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00. Ketiga mahasiswaProgram Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) ini adalah Tegar Rinang Pratama, Kharisa Rasikhatul Hikmah, dan Ashifa Jasmine.
Capaian tersebut terbilang istimewa mengingat rata-rata IPK lulusan program sarjana pada periode wisuda kali ini berada di angka 3,60. Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa konsistensi, kerja keras, dan ketekunan dapat mengantarkan mahasiswa mencapai hasil akademik terbaik.
Baca juga: Cerita Nadya Jadi Lulusan Tercepat UGM Berkat Teliti Tren Live Commerce
Bagi Ashifa Jasmine, pilihan untuk menempuh pendidikan kedokteran berakar dari pengalaman masa kecilnya yang akrab dengan rumah sakit akibat penyakit kronis yang pernah diderita. Pengalaman tersebut membuatnya mengenal dunia kesehatan sejak usia dini dan menumbuhkan keinginan untuk membantu orang lain yang mengalami kondisi serupa.
“Aku ingat bagaimana saat aku sakit aku merasa sangat terbantu dengan dokter dan tenaga kesehatan. Jadi aku juga ingin memberikan impact yang sama ke orang lain melalui bidang kesehatan,” katanya, dikutip dari laman UGM, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: Kisah Launa Silky, Wisudawan Terbaik Magister Unpad dengan Deretan Publikasi Jurnal Q1
Perjalanan akademik mahasiswi asal Lombok itu tidak selalu berjalan mulus. Selama kuliah, ia sempat menghadapi tekanan ekonomi yang membuatnya beberapa kali mencoba mendapatkan beasiswa meski belum berhasil. Kondisi tersebut sempat memunculkan keraguan terhadap kemampuan dirinya untuk bertahan di lingkungan akademik yang kompetitif.
Namun, Ashifa memilih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikannya, yakni usaha dan proses belajar. “Yang bisa aku kontrol adalah usahaku sendiri. Jadi aku fokus belajar dan melakukan apa yang bisa aku lakukan,” ujarnya.
Dalam perjalanan tersebut, sosok ibu menjadi sumber motivasi utama. Menurutnya, sang ibu selalu mengajarkan agar tidak takut mencoba dan berani menghadapi kegagalan. Nasihat itu membuatnya terus mengambil peluang meski harus berhadapan dengan berbagai penolakan.
“Ibuku yang selalu mendorong aku kalau misalnya ada suatu kesempatan ambil aja gitu. Tidak perlu takut untuk mencoba, tidak perlu takut untuk kalah, gagal, itu hal yang biasa,” tuturnya.
Pengalaman saat menjalani masa koas turut membentuk cita-citanya sebagai dokter. Ashifa mengaku ingin mengabdikan diri di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) setelah menyelesaikan pendidikan dokter. Menurutnya, daerah-daerah tersebut masih membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan dan akses layanan medis yang memadai.
“Aku ingin internship atau pengen mencoba praktek di daerah 3T, karena menurutku di daerah itulah di mana memang dokter dan tenaga kesehatan itu benar-benar dibutuhkan,” pungkasnya.
Berbeda dengan banyak mahasiswa berprestasi lainnya, Tegar Rinang Pratama mengaku tidak pernah menjadikan IPK 4,00 sebagai target utama sejak awal kuliah. Ia memilih menjalani setiap proses pendidikan secara alami sambil berusaha mempertahankan hasil terbaik yang telah diraih.
“Kalau aku let it flow aja nanti pada akhirnya bagaimana, ikuti alur aja. Jadi karena sudah dapat nilai tertinggi sejak awal, biasanya aku punya prinsip untuk naik terus, nek wes teles ojo mentas. Jadi kalau sudah terlanjur basah lanjut aja,” ujarnya.
Meski terlihat santai dalam menetapkan target, Tegar memiliki pola belajar yang sangat disiplin dan terstruktur. Jika saat SMA ia masih mengandalkan sistem belajar menjelang ujian, di bangku kuliah ia mulai mengubah strategi dengan mencicil materi sejak jauh hari.
Ia memanfaatkan waktu luang di sela perkuliahan untuk belajar di perpustakaan serta menyusun peta materi yang harus dipelajari setiap hari. Bahkan, sehari sebelum ujian ia memilih tidak lagi mempelajari materi baru.
“Biasanya untuk H-1 itu aku sudah tidak boleh lagi belajar materi, karena prinsipku pada saat H-1 itu aku harus sudah menguasai semua materi,” terangnya.
Selain fokus pada akademik, Tegar tetap aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan sukarelawan dan kepanitiaan saat masa libur semester. Ia pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan, seperti Yogyakarta Gamelan Festival, Jogja Fashion Week, hingga menjadi liaison officer pada Kirab Budaya.
Pengalaman selama koas juga membuka matanya terhadap tantangan layanan kesehatan di lapangan. Ia menyadari masih banyak masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan.
Ke depan, Tegar berharap dapat menjadi dokter yang tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan empati bagi setiap pasien yang ditanganinya.
“Aku berharap aku bisa menjadi dokter yang memberikan kesan bagi pasien. Aku dicari bukan hanya karena penyakitnya sembuh ketika aku tangani, tapi juga aku dikenal sebagai orang yang sangat berempati kepada mereka,” katanya.
Sementara Kharisa merupakan dokter pertama di keluarganya. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani pendidikan kedokteran tanpa memiliki gambaran yang jelas mengenai dunia medis sejak awal. Ia mengaku tidak pernah menargetkan IPK sempurna ketika pertama kali masuk kuliah.
Baginya, tujuan utama belajar kedokteran adalah memahami ilmu yang kelak akan digunakan untuk menangani pasien dan menyangkut keselamatan banyak orang. “Yang paling penting adalah di sini aku belajar banyak hal karena nanti akhirnya aku bakal ke profesiku yang menyangkut nyawa hidup orang banyak,” katanya.
Menyadari ia bukan tipe mahasiswa yang mampu menjalankan banyak aktivitas sekaligus, ia memilih fokus pada akademik dan hanya mengikuti kegiatan organisasi sesuai batas kemampuan yang dimiliki. “Aku merasa bahwa aku bukan tipe orang yang bisa multitasking, yang bisa melakukan banyak hal. Jadi memang aku harus tahu batas kemampuanku sampai mana,” ujarnya.
Selama menjalani fase koas, Kharisa juga memperoleh banyak pelajaran dari interaksi langsung dengan pasien. Menurutnya, dunia kesehatan tidak selalu berjalan sesuai teori yang dipelajari di buku. Setiap pasien memiliki karakteristik dan kondisi yang berbeda sehingga dokter dituntut untuk mampu beradaptasi dalam memberikan pelayanan terbaik.
“Ternyata setiap pasien itu punya karakteristiknya masing-masing. Tidak semuanya itu sesuai sama apa yang ada di textbook. Jadi kita memang harus menyesuaikan dengan kondisi pasien dan kondisi yang ada di lapangan,” terangnya.
Pengalamannya membentuk pandangannya mengenai profesi dokter yang harus mampu memahami kebutuhan pasien secara menyeluruh.
Setelah menyelesaikan koas dan program internship, kedepannya ia berencana bekerja terlebih dahulu sebagai dokter umum sebelum melanjutkan pendidikan spesialis sesuai dengan bidang minatnya. “Mungkin rencana sekitar satu atau dua tahun sebagai dokter umum sebelum aku melanjutkan ke pendidikan spesialis,” pungkasnya.
Capaian tersebut terbilang istimewa mengingat rata-rata IPK lulusan program sarjana pada periode wisuda kali ini berada di angka 3,60. Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa konsistensi, kerja keras, dan ketekunan dapat mengantarkan mahasiswa mencapai hasil akademik terbaik.
Baca juga: Cerita Nadya Jadi Lulusan Tercepat UGM Berkat Teliti Tren Live Commerce
Ashifa Jasmine, Terinspirasi Pengalaman Sakit hingga Ingin Mengabdi di Daerah 3T
Bagi Ashifa Jasmine, pilihan untuk menempuh pendidikan kedokteran berakar dari pengalaman masa kecilnya yang akrab dengan rumah sakit akibat penyakit kronis yang pernah diderita. Pengalaman tersebut membuatnya mengenal dunia kesehatan sejak usia dini dan menumbuhkan keinginan untuk membantu orang lain yang mengalami kondisi serupa.
“Aku ingat bagaimana saat aku sakit aku merasa sangat terbantu dengan dokter dan tenaga kesehatan. Jadi aku juga ingin memberikan impact yang sama ke orang lain melalui bidang kesehatan,” katanya, dikutip dari laman UGM, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: Kisah Launa Silky, Wisudawan Terbaik Magister Unpad dengan Deretan Publikasi Jurnal Q1
Perjalanan akademik mahasiswi asal Lombok itu tidak selalu berjalan mulus. Selama kuliah, ia sempat menghadapi tekanan ekonomi yang membuatnya beberapa kali mencoba mendapatkan beasiswa meski belum berhasil. Kondisi tersebut sempat memunculkan keraguan terhadap kemampuan dirinya untuk bertahan di lingkungan akademik yang kompetitif.
Namun, Ashifa memilih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikannya, yakni usaha dan proses belajar. “Yang bisa aku kontrol adalah usahaku sendiri. Jadi aku fokus belajar dan melakukan apa yang bisa aku lakukan,” ujarnya.
Dalam perjalanan tersebut, sosok ibu menjadi sumber motivasi utama. Menurutnya, sang ibu selalu mengajarkan agar tidak takut mencoba dan berani menghadapi kegagalan. Nasihat itu membuatnya terus mengambil peluang meski harus berhadapan dengan berbagai penolakan.
“Ibuku yang selalu mendorong aku kalau misalnya ada suatu kesempatan ambil aja gitu. Tidak perlu takut untuk mencoba, tidak perlu takut untuk kalah, gagal, itu hal yang biasa,” tuturnya.
Pengalaman saat menjalani masa koas turut membentuk cita-citanya sebagai dokter. Ashifa mengaku ingin mengabdikan diri di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) setelah menyelesaikan pendidikan dokter. Menurutnya, daerah-daerah tersebut masih membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan dan akses layanan medis yang memadai.
“Aku ingin internship atau pengen mencoba praktek di daerah 3T, karena menurutku di daerah itulah di mana memang dokter dan tenaga kesehatan itu benar-benar dibutuhkan,” pungkasnya.
Tegar Rinang Pratama, Disiplin Belajar hingga Raih IPK Sempurna
Berbeda dengan banyak mahasiswa berprestasi lainnya, Tegar Rinang Pratama mengaku tidak pernah menjadikan IPK 4,00 sebagai target utama sejak awal kuliah. Ia memilih menjalani setiap proses pendidikan secara alami sambil berusaha mempertahankan hasil terbaik yang telah diraih.
“Kalau aku let it flow aja nanti pada akhirnya bagaimana, ikuti alur aja. Jadi karena sudah dapat nilai tertinggi sejak awal, biasanya aku punya prinsip untuk naik terus, nek wes teles ojo mentas. Jadi kalau sudah terlanjur basah lanjut aja,” ujarnya.
Meski terlihat santai dalam menetapkan target, Tegar memiliki pola belajar yang sangat disiplin dan terstruktur. Jika saat SMA ia masih mengandalkan sistem belajar menjelang ujian, di bangku kuliah ia mulai mengubah strategi dengan mencicil materi sejak jauh hari.
Ia memanfaatkan waktu luang di sela perkuliahan untuk belajar di perpustakaan serta menyusun peta materi yang harus dipelajari setiap hari. Bahkan, sehari sebelum ujian ia memilih tidak lagi mempelajari materi baru.
“Biasanya untuk H-1 itu aku sudah tidak boleh lagi belajar materi, karena prinsipku pada saat H-1 itu aku harus sudah menguasai semua materi,” terangnya.
Selain fokus pada akademik, Tegar tetap aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan sukarelawan dan kepanitiaan saat masa libur semester. Ia pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan, seperti Yogyakarta Gamelan Festival, Jogja Fashion Week, hingga menjadi liaison officer pada Kirab Budaya.
Pengalaman selama koas juga membuka matanya terhadap tantangan layanan kesehatan di lapangan. Ia menyadari masih banyak masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan.
Ke depan, Tegar berharap dapat menjadi dokter yang tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan empati bagi setiap pasien yang ditanganinya.
“Aku berharap aku bisa menjadi dokter yang memberikan kesan bagi pasien. Aku dicari bukan hanya karena penyakitnya sembuh ketika aku tangani, tapi juga aku dikenal sebagai orang yang sangat berempati kepada mereka,” katanya.
Kharisa Rasikhatul Hikmah, Dokter Pertama di Keluarga
Sementara Kharisa merupakan dokter pertama di keluarganya. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani pendidikan kedokteran tanpa memiliki gambaran yang jelas mengenai dunia medis sejak awal. Ia mengaku tidak pernah menargetkan IPK sempurna ketika pertama kali masuk kuliah.
Baginya, tujuan utama belajar kedokteran adalah memahami ilmu yang kelak akan digunakan untuk menangani pasien dan menyangkut keselamatan banyak orang. “Yang paling penting adalah di sini aku belajar banyak hal karena nanti akhirnya aku bakal ke profesiku yang menyangkut nyawa hidup orang banyak,” katanya.
Menyadari ia bukan tipe mahasiswa yang mampu menjalankan banyak aktivitas sekaligus, ia memilih fokus pada akademik dan hanya mengikuti kegiatan organisasi sesuai batas kemampuan yang dimiliki. “Aku merasa bahwa aku bukan tipe orang yang bisa multitasking, yang bisa melakukan banyak hal. Jadi memang aku harus tahu batas kemampuanku sampai mana,” ujarnya.
Selama menjalani fase koas, Kharisa juga memperoleh banyak pelajaran dari interaksi langsung dengan pasien. Menurutnya, dunia kesehatan tidak selalu berjalan sesuai teori yang dipelajari di buku. Setiap pasien memiliki karakteristik dan kondisi yang berbeda sehingga dokter dituntut untuk mampu beradaptasi dalam memberikan pelayanan terbaik.
“Ternyata setiap pasien itu punya karakteristiknya masing-masing. Tidak semuanya itu sesuai sama apa yang ada di textbook. Jadi kita memang harus menyesuaikan dengan kondisi pasien dan kondisi yang ada di lapangan,” terangnya.
Pengalamannya membentuk pandangannya mengenai profesi dokter yang harus mampu memahami kebutuhan pasien secara menyeluruh.
Setelah menyelesaikan koas dan program internship, kedepannya ia berencana bekerja terlebih dahulu sebagai dokter umum sebelum melanjutkan pendidikan spesialis sesuai dengan bidang minatnya. “Mungkin rencana sekitar satu atau dua tahun sebagai dokter umum sebelum aku melanjutkan ke pendidikan spesialis,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :