Youth ESG Maritime 2026 Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Nyata bagi Krisis Lingkungan Laut
Jum'at, 05 Juni 2026 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Wamenlu Havas sampaikan ide mengenai tema laut sebagai benang merah yang perlu diangkat dalam kerja sama dengan BOSF. “Saya percaya bahwa Anda sangat sadar bahwa laut adalah bagian penting dari hidup kita. 70 persen bagian dari bumi dan hampir 70 persen kawasan Asia Tenggara adalah laut," ujar Havas, melalui siaran pers, dikutip Jumat (5/6/2026).
Fakta menunjukkan adanya ketergantungan yang luar biasa tinggi antara wilayah pesisir dengan laut. "Saya berpikir hanya Laos yang tidak memiliki laut. Negara lain seperti Myanmar, Korea, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Indonesia semuanya negara yang memiliki laut," paparnya di hadapan para finalis Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026.
Ia menambahkan, ketergantungan ini terlihat dari pola pemukiman warga. “Jika kita bicara tentang Indonesia, saya pikir 60 persen masyrakat tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai," ujar Mantan Dubes RI untuk Jerman tersebut.
Namun, kekayaan maritim ini terus menghadapi ancaman serius, mulai dari isu sampah plastik, kerusakan terumbu karang, hingga deforestasi mangrove. Melalui platform Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, para peserta ditantang merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG).
Dalam kesempatan yang sama, Sora Lokita, asisten deputi di kemenko bidang infrastruktur dan Pembangunan kewilayahan, selaku senior associate fellow BOSF menegaskan, bahwa pemerintah maupun industri tidak akan mampu bergerak sendiri dalam menghadapi isu maritim yang kian kompleks di Asia Tenggara. Dibutuhkan cara baru dan keterlibatan penuh generasi muda untuk menyelamatkan masa depan laut regional.
"Hari ini bukan hanya mengenai memilih pemenang, tetapi juga mengenai merayakan ide, inovasi, dan komitmen orang muda di seluruh Asia Tenggara untuk membangun masa depan kemaritiman yang lebih berkembang," ujar Sora.
Fakta menunjukkan adanya ketergantungan yang luar biasa tinggi antara wilayah pesisir dengan laut. "Saya berpikir hanya Laos yang tidak memiliki laut. Negara lain seperti Myanmar, Korea, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Indonesia semuanya negara yang memiliki laut," paparnya di hadapan para finalis Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026.
Ia menambahkan, ketergantungan ini terlihat dari pola pemukiman warga. “Jika kita bicara tentang Indonesia, saya pikir 60 persen masyrakat tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai," ujar Mantan Dubes RI untuk Jerman tersebut.
Namun, kekayaan maritim ini terus menghadapi ancaman serius, mulai dari isu sampah plastik, kerusakan terumbu karang, hingga deforestasi mangrove. Melalui platform Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, para peserta ditantang merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG).
Dalam kesempatan yang sama, Sora Lokita, asisten deputi di kemenko bidang infrastruktur dan Pembangunan kewilayahan, selaku senior associate fellow BOSF menegaskan, bahwa pemerintah maupun industri tidak akan mampu bergerak sendiri dalam menghadapi isu maritim yang kian kompleks di Asia Tenggara. Dibutuhkan cara baru dan keterlibatan penuh generasi muda untuk menyelamatkan masa depan laut regional.
"Hari ini bukan hanya mengenai memilih pemenang, tetapi juga mengenai merayakan ide, inovasi, dan komitmen orang muda di seluruh Asia Tenggara untuk membangun masa depan kemaritiman yang lebih berkembang," ujar Sora.
Lihat Juga :