MNC University dan Universitas Bina Darma Berkolaborasi Gelar Seminar Hybrid Komunikasi Antarbudaya Internasional
Senin, 08 Juni 2026 - 15:35 WIB
loading...
A
A
A
Acara inti menghadirkan tiga keynote speaker yang memaparkan materi secara bergantian, yaitu Chelsea Grasceon Natalia (MNC University), Ayu Indah Permata (Universitas Bina Darma), dan Nursafika Binti Amat (UPSI Malaysia). Setiap sesi diselingi penayangan video profil untuk memperkaya pemahaman peserta. Setelah sesi keynote, kegiatan dilanjutkan dengan breakout room Zoom selama 60 menit.
Dalam sesi ini, peserta dari masing-masing universitas mendiskusikan secara mendalam empat fokus bahasan:
(1) Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Era Globalisasi,
(2) Sosial Komunikasi Antarbudaya dalam Mendukung Keberlanjutan,
(3) Pengaruh Teknologi dan Media Digital, serta (4) Strategi Membangun Kompetensi Antarbudaya.
Webinar ditutup pada pukul 11.00 WIB dengan kesan antusias dari peserta yang mengaku mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana komunikasi antarbudaya menjadi kunci utama dalam masyarakat global yang berkelanjutan.
Salah satu keynote speaker, Chelsea Grasceon Natalia dari MNC University, menyampaikan, “Di era digital ini, tantangan terbesar komunikasi antarbudaya bukan lagi pada jarak geografis, tetapi pada pemahaman konteks dan empati digital. Kita perlu membangun jembatan, bukan batasan.”
Dalam sesi ini, peserta dari masing-masing universitas mendiskusikan secara mendalam empat fokus bahasan:
(1) Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Era Globalisasi,
(2) Sosial Komunikasi Antarbudaya dalam Mendukung Keberlanjutan,
(3) Pengaruh Teknologi dan Media Digital, serta (4) Strategi Membangun Kompetensi Antarbudaya.
Webinar ditutup pada pukul 11.00 WIB dengan kesan antusias dari peserta yang mengaku mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana komunikasi antarbudaya menjadi kunci utama dalam masyarakat global yang berkelanjutan.
Salah satu keynote speaker, Chelsea Grasceon Natalia dari MNC University, menyampaikan, “Di era digital ini, tantangan terbesar komunikasi antarbudaya bukan lagi pada jarak geografis, tetapi pada pemahaman konteks dan empati digital. Kita perlu membangun jembatan, bukan batasan.”
Lihat Juga :