Kisah Ristiana Artanti, Anak Buruh Proyek yang Berhasil Kuliah Gratis di UGM
Jum'at, 12 Juni 2026 - 09:34 WIB
loading...
A
A
A
"Dia ini kan ada prestasi juga di sekolahnya. Nilai-nilainya juga bagus. Kalau gak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengen meneruskan sekolah selanjutnya, gak mampu. Orang tua saya benar-benar gak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi," ungkapnya sambil menahan haru.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Rubikan. Sejak 1995, ia bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan sekitar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per hari ketika ada pekerjaan. Saat tidak ada proyek, ia mencari tambahan penghasilan dengan menggali batu putih di sekitar rumah untuk dijual.
Menurut Winarni, masa tersulit keluarga mereka terjadi saat awal pernikahan. Kala itu, keduanya memulai kehidupan dari nol. Bahkan ketika mengandung Risti hingga usia kandungan tujuh bulan, Winarni masih bekerja sebagai asisten rumah tangga di Yogyakarta.
"Saya dulu pas baru nikah sama Bapaknya, kan kerja jadi asisten rumah tangga di Jogja. Terus hamil, sampai umur tujuh bulan Risti dalam kandungan masih saya ajak kerja. Setelah tujuh bulan itu, baru saya berhenti. Sampai Risti umur dua tahun, saya kerja lagi. Saya ajak dia sambil ikut kerja, gitu," ceritanya.
Sejak kecil, Risti dibesarkan dengan nilai-nilai kebaikan, kerja keras, dan kedisiplinan dalam beribadah. Karena itu, Rubikan mengaku tidak pernah menyangka putrinya dapat diterima di UGM, mengingat latar belakang pendidikan kedua orang tuanya yang hanya lulusan SD dan SMP.
"Saya gak mengira kalau anak saya bisa masuk UGM, padahal orang tuanya gak sekolah, tapi anaknya bisa sekolah," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Risti bersiap menyambut kehidupan sebagai mahasiswa baru UGM. Ia telah memiliki cita-cita untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya demi meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
"Saya sudah membayangkan bahwa setelah lulus itu saya akan bekerja di puskesmas dan juga di rumah sakit yang mungkin di daerah pelosok-pelosok, untuk meningkatkan kualitas pelayanan di masyarakat," pungkasnya.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Rubikan. Sejak 1995, ia bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan sekitar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per hari ketika ada pekerjaan. Saat tidak ada proyek, ia mencari tambahan penghasilan dengan menggali batu putih di sekitar rumah untuk dijual.
Menurut Winarni, masa tersulit keluarga mereka terjadi saat awal pernikahan. Kala itu, keduanya memulai kehidupan dari nol. Bahkan ketika mengandung Risti hingga usia kandungan tujuh bulan, Winarni masih bekerja sebagai asisten rumah tangga di Yogyakarta.
"Saya dulu pas baru nikah sama Bapaknya, kan kerja jadi asisten rumah tangga di Jogja. Terus hamil, sampai umur tujuh bulan Risti dalam kandungan masih saya ajak kerja. Setelah tujuh bulan itu, baru saya berhenti. Sampai Risti umur dua tahun, saya kerja lagi. Saya ajak dia sambil ikut kerja, gitu," ceritanya.
Sejak kecil, Risti dibesarkan dengan nilai-nilai kebaikan, kerja keras, dan kedisiplinan dalam beribadah. Karena itu, Rubikan mengaku tidak pernah menyangka putrinya dapat diterima di UGM, mengingat latar belakang pendidikan kedua orang tuanya yang hanya lulusan SD dan SMP.
"Saya gak mengira kalau anak saya bisa masuk UGM, padahal orang tuanya gak sekolah, tapi anaknya bisa sekolah," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Risti bersiap menyambut kehidupan sebagai mahasiswa baru UGM. Ia telah memiliki cita-cita untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya demi meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
"Saya sudah membayangkan bahwa setelah lulus itu saya akan bekerja di puskesmas dan juga di rumah sakit yang mungkin di daerah pelosok-pelosok, untuk meningkatkan kualitas pelayanan di masyarakat," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :