CIMB Niaga Gelar Sustainability Masterclass, 20 Jurnalis Berkontribusi Aksi Keberlanjutan
Kamis, 25 Juni 2026 - 18:33 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu pemateri, Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Dewan Pers Abdul Manan memaparkan, jurnalis dalam isu keberlanjutan mempunyai empat fungsi utama. Di antaranya harus menjadi penyampai informasi publik dengan membantu warga memahami isu keberlanjutan yang kompleks seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, energi terbarukan, hingga polusi. “Pelaporan yang akurat memungkinkan publik untuk membuat keputusan yang tepat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IIJ Umar Idris mengungkapkan SJF 2026 ini hadir untuk memperkuat kapasitas jurnalis agar mampu menghasilkan karya yang tidak hanya informatif, melainkan juga dapat mendorong perubahan yang konstruktif. Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya kompleksitas tantangan pembangunan, publik saat ini membutuhkan jurnalisme yang mampu menerjemahkan isu-isu strategis menjadi pengetahuan yang mudah dipahami. Baca juga: Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
“Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar isu lingkungan semata, melainkan juga terkait langsung dengan isu ekonomi, sosial, tata, kelola, dan masa depan bangsa. Karena itu, jurnalisme harus mampu menjelaskan persoalan keberlanjutan secara utuh, berbasis data, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui program SJF 2026 ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak jurnalis yang kritis, independen, dan berkomitmen mengawal agenda sustainability Indonesia,” ujarnya.
Acara ini menghadirkan para pemimpin dan praktisi terkemuka di bidang keberlanjutan. Mulai dari Satrya Wibawa (Indonesia Country Coordinator dan APAC Regional Coordinator UNEP FI), Lany Harijanti (Regional Program Implementation Manager ASEAN GRI), hingga Robert Basuki Wanasida (CCMO Kanma Group dan CEO Daur Baur Micro Factory), SJF 2026 menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah inspirasi dan kolaborasi dalam mendorong masa depan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IIJ Umar Idris mengungkapkan SJF 2026 ini hadir untuk memperkuat kapasitas jurnalis agar mampu menghasilkan karya yang tidak hanya informatif, melainkan juga dapat mendorong perubahan yang konstruktif. Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya kompleksitas tantangan pembangunan, publik saat ini membutuhkan jurnalisme yang mampu menerjemahkan isu-isu strategis menjadi pengetahuan yang mudah dipahami. Baca juga: Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
“Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar isu lingkungan semata, melainkan juga terkait langsung dengan isu ekonomi, sosial, tata, kelola, dan masa depan bangsa. Karena itu, jurnalisme harus mampu menjelaskan persoalan keberlanjutan secara utuh, berbasis data, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui program SJF 2026 ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak jurnalis yang kritis, independen, dan berkomitmen mengawal agenda sustainability Indonesia,” ujarnya.
Acara ini menghadirkan para pemimpin dan praktisi terkemuka di bidang keberlanjutan. Mulai dari Satrya Wibawa (Indonesia Country Coordinator dan APAC Regional Coordinator UNEP FI), Lany Harijanti (Regional Program Implementation Manager ASEAN GRI), hingga Robert Basuki Wanasida (CCMO Kanma Group dan CEO Daur Baur Micro Factory), SJF 2026 menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah inspirasi dan kolaborasi dalam mendorong masa depan yang berkelanjutan.
(poe)
Lihat Juga :