Sukun Disebut Superfood Lokal Indonesia, Guru Besar IPB Beberkan Keunggulannya
Jum'at, 03 Juli 2026 - 22:16 WIB
loading...
Sukun dinilai memiliki potensi besar sebagai pangan masa depan sekaligus superfood lokal Indonesia. Foto/Tangkap layar laman IPB Digitani.
A
A
A
JAKARTA - Sukun dinilai memiliki potensi besar sebagai pangan masa depan sekaligus superfood lokal Indonesia. Guru Besar IPB University mengungkapkan kriteria yang menjadikan sukun layak menyandang predikat tersebut.
"Suatu pangan dapat disebut superfood jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu," jelas Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Prof Edi Santosa, melalui siaran pers, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: IPB University Akan Buka Jalur RPL untuk Penerimaan Mahasiswa Baru S1 dan Pascasarjana
Dari sisi gizi, Prof Edi menjelaskan bahwa sukun memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan beberapa sumber karbohidrat lainnya. Selain kaya serat dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sukun juga mengandung vitamin C, serta pada beberapa penelitian ditemukan mengandung vitamin A, folat, zat besi (Fe), dan seng (Zn), yang berperan penting dalam mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.
"Sukun juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan singkong. Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan," ujarnya.
Dijelaskannya, keunggulan lain sukun terletak pada daya adaptasinya terhadap perubahan iklim. Tanaman berbentuk pohon tahunan ini mampu tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan tinggi maupun wilayah kering, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). “Dengan perawatan yang relatif minim, pohon sukun tetap mampu berproduksi hampir sepanjang tahun,” imbuhnya.
Baca juga: Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Menurut Prof Edi, potensi ekonomi sukun juga sangat besar, terutama jika dikembangkan dalam bentuk tepung. Tepung sukun dapat diolah menjadi berbagai produk pangan modern, mulai dari roti, mi, hingga aneka makanan olahan lainnya. Hal ini membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri pangan.
Sementara itu, untuk pasar ekspor dalam bentuk buah segar, masih diperlukan upaya promosi yang lebih kuat agar masyarakat internasional mengenal cara mengolah dan mengonsumsi sukun. Ia menilai keberhasilan nangka menembus pasar global dapat menjadi contoh pengembangan komoditas lokal Indonesia.
"Yang dibutuhkan sekarang adalah penguatan promosi, budaya pangan, dan industri. Festival atau perlombaan berbasis sukun dapat menjadi langkah untuk meningkatkan popularitasnya. Media massa juga memiliki peran penting dalam mengenalkan sukun sebagai superfood Indonesia," pungkasnya.
"Suatu pangan dapat disebut superfood jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu," jelas Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Prof Edi Santosa, melalui siaran pers, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: IPB University Akan Buka Jalur RPL untuk Penerimaan Mahasiswa Baru S1 dan Pascasarjana
Dari sisi gizi, Prof Edi menjelaskan bahwa sukun memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan beberapa sumber karbohidrat lainnya. Selain kaya serat dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sukun juga mengandung vitamin C, serta pada beberapa penelitian ditemukan mengandung vitamin A, folat, zat besi (Fe), dan seng (Zn), yang berperan penting dalam mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.
"Sukun juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan singkong. Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan," ujarnya.
Dijelaskannya, keunggulan lain sukun terletak pada daya adaptasinya terhadap perubahan iklim. Tanaman berbentuk pohon tahunan ini mampu tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan tinggi maupun wilayah kering, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). “Dengan perawatan yang relatif minim, pohon sukun tetap mampu berproduksi hampir sepanjang tahun,” imbuhnya.
Baca juga: Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Menurut Prof Edi, potensi ekonomi sukun juga sangat besar, terutama jika dikembangkan dalam bentuk tepung. Tepung sukun dapat diolah menjadi berbagai produk pangan modern, mulai dari roti, mi, hingga aneka makanan olahan lainnya. Hal ini membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri pangan.
Sementara itu, untuk pasar ekspor dalam bentuk buah segar, masih diperlukan upaya promosi yang lebih kuat agar masyarakat internasional mengenal cara mengolah dan mengonsumsi sukun. Ia menilai keberhasilan nangka menembus pasar global dapat menjadi contoh pengembangan komoditas lokal Indonesia.
"Yang dibutuhkan sekarang adalah penguatan promosi, budaya pangan, dan industri. Festival atau perlombaan berbasis sukun dapat menjadi langkah untuk meningkatkan popularitasnya. Media massa juga memiliki peran penting dalam mengenalkan sukun sebagai superfood Indonesia," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :