UMB Gelar GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?, Hadirkan Pandji hingga Rian Fahardhi
Senin, 06 Juli 2026 - 18:30 WIB
loading...
Universitas Mercu Buana (UMB) melalui akun media sosial @spectaumb menggelar talkshow interaktif bertajuk GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled? di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Sabtu (4/7/2026) mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Universitas Mercu Buana (UMB) melalui akun media sosial @spectaumb menggelar talkshow interaktif bertajuk "GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?" di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Sabtu (4/7/2026) mulai pukul 13.00-15.00 WIB. Acara ini diinisiasi dengan tujuan utama mengajak Gen Z berpikir lebih kritis, reflektif, namun tetap relevan dalam menghadapi realita dunia digital hari ini.
Melalui ruang diskusi ini, para peserta diajak membedah apakah mereka selama ini sudah benar-benar sadar (aware) dalam memanfaatkan teknologi, atau justru sedang dikendalikan (controlled) oleh algoritma media sosial . Baca juga: Teknik Elektro UMB Hadirkan Teknologi Tepat Guna dan Akuaponik di Srengseng
Untuk mengupas tuntas isu sensitif ini dari berbagai sudut pandang yang segar dan menarik, penyelenggara menghadirkan jajaran narasumber lintas industri yang vokal di bidangnya. Mereka adalah komedian tunggal (stand-up comedian) papan atas Pandji Pragiwaksono, rapper & penulis lagu JFlow, serta founder Distrik Berisik & Sekolah Tanah Air, Rian Fahardhi. Selain diskusi, acara ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan ekspresif dari kelompok penari (dancer) Moluccan Soul.
Kehadiran para praktisi industri kreatif ini juga akan dikomparasikan dengan sudut pandang akademis melalui kehadiran Dya Loretta, dosen UMB yang bertindak sebagai panelis pengamat. Selain itu, gelaran ini turut dihadiri dan didukung penuh oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMB Prof Ahmad Mulyana serta Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Farid Hamid. Kolaborasi lintas generasi ini diharapkan mampu melahirkan diskusi dua arah yang mendalam, berbobot, namun tetap disampaikan dengan gaya yang santai khas anak muda.
“Event ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan sebuah gerakan kesadaran bagi anak muda agar tidak tersesat di era disrupsi informasi. Kami ingin memberikan wadah bagi Gen Z untuk menyuarakan keresahan mereka, sekaligus memicu mereka agar tidak menelan mentah-mentah apa yang ada di layar gawai. Kehadiran tokoh seperti Pandji, JFlow, dan Rian Fahardhi diharapkan bisa menjadi pemantik inspirasi bahwa bersikap kritis itu keren dan esensial," kata Afris Sara Frelilyan, Ketua Pelaksana Event GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?, Senin (6/7/2026).
Sebagai salah satu pembicara utama, Rian Fahardhi membagikan kisah personalnya untuk memotivasi Gen Z agar berani bersuara di ruang digital. Ia mengungkapkan bahwa dahulu dirinya adalah seorang yang tertutup, hingga akhirnya menemukan titik balik pada usia 15 tahun saat duduk di bangku SMA.
“Dulu saya sadar punya kelemahan bicara di depan banyak orang. Akhirnya, saya mencari medium lain yang bisa saya perjuangkan, yaitu menulis. Kemampuan berdiam diri dan menulis itu menjadi senjata favorit saya untuk menuangkan ide-ide pikiran, hingga terlatih ikut berbagai lomba kepenulisan,” ujarnya. Baca juga: Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Berangkat dari kecintaan pada literasi digital tersebut, kreator konten yang dikenal vokal ini menilai bahwa esensi utama sebuah konten di era sekarang bukan lagi sekadar mengejar angka viral.
“Konten yang menarik buat saya itu bukan sekadar viral atau ramai, tapi harus membekas dan meninggalkan dampak nyata. Contohnya lewat movement Sekolah Tanah Air yang kami bangun. Berawal dari konten digital yang memviralkan fasilitas bangku dan meja sekolah yang rusak, akhirnya tempat tersebut direvitalisasi dan diperbaiki. Kita harus bisa membuat konten yang mampu memperbaiki hidup seseorang,” tegasnya.
Melalui ruang diskusi ini, para peserta diajak membedah apakah mereka selama ini sudah benar-benar sadar (aware) dalam memanfaatkan teknologi, atau justru sedang dikendalikan (controlled) oleh algoritma media sosial . Baca juga: Teknik Elektro UMB Hadirkan Teknologi Tepat Guna dan Akuaponik di Srengseng
Untuk mengupas tuntas isu sensitif ini dari berbagai sudut pandang yang segar dan menarik, penyelenggara menghadirkan jajaran narasumber lintas industri yang vokal di bidangnya. Mereka adalah komedian tunggal (stand-up comedian) papan atas Pandji Pragiwaksono, rapper & penulis lagu JFlow, serta founder Distrik Berisik & Sekolah Tanah Air, Rian Fahardhi. Selain diskusi, acara ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan ekspresif dari kelompok penari (dancer) Moluccan Soul.
Kehadiran para praktisi industri kreatif ini juga akan dikomparasikan dengan sudut pandang akademis melalui kehadiran Dya Loretta, dosen UMB yang bertindak sebagai panelis pengamat. Selain itu, gelaran ini turut dihadiri dan didukung penuh oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMB Prof Ahmad Mulyana serta Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Farid Hamid. Kolaborasi lintas generasi ini diharapkan mampu melahirkan diskusi dua arah yang mendalam, berbobot, namun tetap disampaikan dengan gaya yang santai khas anak muda.
“Event ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan sebuah gerakan kesadaran bagi anak muda agar tidak tersesat di era disrupsi informasi. Kami ingin memberikan wadah bagi Gen Z untuk menyuarakan keresahan mereka, sekaligus memicu mereka agar tidak menelan mentah-mentah apa yang ada di layar gawai. Kehadiran tokoh seperti Pandji, JFlow, dan Rian Fahardhi diharapkan bisa menjadi pemantik inspirasi bahwa bersikap kritis itu keren dan esensial," kata Afris Sara Frelilyan, Ketua Pelaksana Event GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?, Senin (6/7/2026).
Sebagai salah satu pembicara utama, Rian Fahardhi membagikan kisah personalnya untuk memotivasi Gen Z agar berani bersuara di ruang digital. Ia mengungkapkan bahwa dahulu dirinya adalah seorang yang tertutup, hingga akhirnya menemukan titik balik pada usia 15 tahun saat duduk di bangku SMA.
“Dulu saya sadar punya kelemahan bicara di depan banyak orang. Akhirnya, saya mencari medium lain yang bisa saya perjuangkan, yaitu menulis. Kemampuan berdiam diri dan menulis itu menjadi senjata favorit saya untuk menuangkan ide-ide pikiran, hingga terlatih ikut berbagai lomba kepenulisan,” ujarnya. Baca juga: Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Berangkat dari kecintaan pada literasi digital tersebut, kreator konten yang dikenal vokal ini menilai bahwa esensi utama sebuah konten di era sekarang bukan lagi sekadar mengejar angka viral.
“Konten yang menarik buat saya itu bukan sekadar viral atau ramai, tapi harus membekas dan meninggalkan dampak nyata. Contohnya lewat movement Sekolah Tanah Air yang kami bangun. Berawal dari konten digital yang memviralkan fasilitas bangku dan meja sekolah yang rusak, akhirnya tempat tersebut direvitalisasi dan diperbaiki. Kita harus bisa membuat konten yang mampu memperbaiki hidup seseorang,” tegasnya.
(poe)
Lihat Juga :