Keren, Mahasiswa PENS Raih Juara Kompetisi Satelit Mini Dunia di Amerika Serikat
Jum'at, 10 Juli 2026 - 12:03 WIB
loading...
Tim mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang tergabung dalam Bamantara EEPISAT. Foto/PENS.
A
A
A
JAKARTA - Tim mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang tergabung dalam Bamantara EEPISAT berhasil meraih juara 3 International CanSat Competition 2026 oleh American Astronautical Society (AAS). Kompetisi satelit mini tingkat dunia ini digelar di Virginia, Amerika Serikat.
Tahun ini kompetisi diikuti 36 tim finalis dari berbagai perguruan tinggi terbaik dunia. CanSat adalah ajang paling prestisius di bidang kedirgantaraan yang menantang mahasiswa untuk merancang, membangun, menguji, dan mengoperasikan satelit mini berukuran kaleng minuman yang mampu menjalankan misi tertentu secara mandiri.
Baca juga: Kalahkan Berbagai Negara, ITS Raih Juara RoboCup 2026 di Korsel
Dikutip dari laman PENS, Jumat (10/7/2026), tim Bamantara EEPISAT merupakan tim satelit mahasiswa PENS yang terdiri dari 23 mahasiswa lintas program studi dengan dukungan pembimbing Nobby Bagus Muliawan, dan Hendhi Hermawan.
Kolaborasi antara tim teknis, manajemen proyek, riset dan pengembangan, branding, serta sponsorship menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi kompetisi tingkat dunia tersebut.
Sebelum tampil di babak final di Amerika Serikat, tim harus melewati serangkaian tahapan seleksi dan evaluasi yang ketat, mulai dari penyusunan proposal desain, Preliminary Design Review (PDR), Critical Design Review (CDR), hingga berbagai pengujian teknis seperti uji termal, uji tekanan, uji jatuh (drop test), dan pengujian sistem komunikasi radio.
Baca juga: Perjuangan Andini, Anak Tukang Bengkel yang Diterima di FEB UGM dan Beasiswa Penuh
Dalam proses persiapan menuju kompetisi internasional tersebut, Tim Bamantara EEPISAT juga melaksanakan serangkaian pengujian dan validasi sistem di fasilitas Pusat Riset Teknologi Satelit (PUSTEKSAT), BRIN.
Kegiatan pengujian ini mendapat bimbingan dan dukungan langsung dari para ahli di bidang teknologi satelit dan kedirgantaraan, yaitu Rommy Hartono, Engineer di Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN), serta Moh. Farid Huzain dari Research Center for Satellite Technology, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain itu, selama persiapan sebelum kompetisi tim Bamantara EEPISAT juga mendapatkan pendampingan oleh Antarexxa Space Global, serta tim Surya Satelit-1. Melalui pendampingan tersebut, tim memperoleh masukan teknis yang berharga dalam proses pengembangan, integrasi, serta pengujian wahana sehingga kesiapan sistem dapat ditingkatkan sebelum berlaga di ajang AAS Student CanSat Competition 2026.
Pada tahap final yang berlangsung di Virginia, Amerika Serikat, tim Bamantara EEPISAT berhasil menunjukkan performa terbaiknya. Wahana CanSat yang dikembangkan mampu menjalankan misi dengan baik saat peluncuran dan menghasilkan data yang kemudian dipresentasikan kepada dewan juri pada sesi Post Flight Review (PFR).
Berdasarkan keseluruhan penilaian teknis dan presentasi, Bamantara EEPISAT berhasil menempati peringkat ketiga dunia, berada di bawah tim dari Thailand sebagai juara pertama dan tim tuan rumah Amerika Serikat sebagai juara kedua.
Tahun ini kompetisi diikuti 36 tim finalis dari berbagai perguruan tinggi terbaik dunia. CanSat adalah ajang paling prestisius di bidang kedirgantaraan yang menantang mahasiswa untuk merancang, membangun, menguji, dan mengoperasikan satelit mini berukuran kaleng minuman yang mampu menjalankan misi tertentu secara mandiri.
Baca juga: Kalahkan Berbagai Negara, ITS Raih Juara RoboCup 2026 di Korsel
Dikutip dari laman PENS, Jumat (10/7/2026), tim Bamantara EEPISAT merupakan tim satelit mahasiswa PENS yang terdiri dari 23 mahasiswa lintas program studi dengan dukungan pembimbing Nobby Bagus Muliawan, dan Hendhi Hermawan.
Kolaborasi antara tim teknis, manajemen proyek, riset dan pengembangan, branding, serta sponsorship menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi kompetisi tingkat dunia tersebut.
Sebelum tampil di babak final di Amerika Serikat, tim harus melewati serangkaian tahapan seleksi dan evaluasi yang ketat, mulai dari penyusunan proposal desain, Preliminary Design Review (PDR), Critical Design Review (CDR), hingga berbagai pengujian teknis seperti uji termal, uji tekanan, uji jatuh (drop test), dan pengujian sistem komunikasi radio.
Baca juga: Perjuangan Andini, Anak Tukang Bengkel yang Diterima di FEB UGM dan Beasiswa Penuh
Dalam proses persiapan menuju kompetisi internasional tersebut, Tim Bamantara EEPISAT juga melaksanakan serangkaian pengujian dan validasi sistem di fasilitas Pusat Riset Teknologi Satelit (PUSTEKSAT), BRIN.
Kegiatan pengujian ini mendapat bimbingan dan dukungan langsung dari para ahli di bidang teknologi satelit dan kedirgantaraan, yaitu Rommy Hartono, Engineer di Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN), serta Moh. Farid Huzain dari Research Center for Satellite Technology, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain itu, selama persiapan sebelum kompetisi tim Bamantara EEPISAT juga mendapatkan pendampingan oleh Antarexxa Space Global, serta tim Surya Satelit-1. Melalui pendampingan tersebut, tim memperoleh masukan teknis yang berharga dalam proses pengembangan, integrasi, serta pengujian wahana sehingga kesiapan sistem dapat ditingkatkan sebelum berlaga di ajang AAS Student CanSat Competition 2026.
Pada tahap final yang berlangsung di Virginia, Amerika Serikat, tim Bamantara EEPISAT berhasil menunjukkan performa terbaiknya. Wahana CanSat yang dikembangkan mampu menjalankan misi dengan baik saat peluncuran dan menghasilkan data yang kemudian dipresentasikan kepada dewan juri pada sesi Post Flight Review (PFR).
Berdasarkan keseluruhan penilaian teknis dan presentasi, Bamantara EEPISAT berhasil menempati peringkat ketiga dunia, berada di bawah tim dari Thailand sebagai juara pertama dan tim tuan rumah Amerika Serikat sebagai juara kedua.
(nnz)
Lihat Juga :