Wisudawan S3 Termuda UGM Ungkap Perjuangan Raih Gelar Doktor, Lulus dengan IPK 3,99
Selasa, 28 Juli 2026 - 16:56 WIB
loading...
Yesita Vera Saraswati berhasil menyelesaikan kuliah program Doktor UGM selama 3 tahun 9 bulan 10 hari. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Yesita Vera Saraswati berhasil menyelesaikan kuliah program Doktor Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada ( UGM ) selama 3 tahun 9 bulan 10 hari. Yesita pun lulus dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99.
Gadis asal Klaten itupun berhasil merampungkan kuliahnya di usia 34 tahun 6 bulan 28 hari. Pada wisuda pascasarjana periode IV Rabu (23/7/2026) lalu pun ia dinobatkan sebagai wisudawan termuda untuk program Doktor.
Baca juga: Kisah Rofi, Anak Pedagang Ikan Keliling yang Lolos SNBP dan Kuliah di UGM
Jika dilihat rata-rata usia 90 lulusan Program Doktor termasuk satu warga negara asing, serta 19 lulusan periode sebelumnya.adalah 42 tahun 6 bulan 16 hari.
"Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus,”katanya, dikutip dari laman UGM, Selasa (28/7/2026).
Sita menuntaskan studi dengan disertasi berjudul “Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”, fokus penelitian ini adalah mengenai pembentukan ayam lokal Galur Baru.
Baca juga: Perjuangan Andini, Anak Tukang Bengkel yang Diterima di FEB UGM dan Beasiswa Penuh
Dalam riset ini, Sita dan tim melihat potensi genetik dari ayam-ayam lokal di Indonesia yang saat ini ada segmen pasar tersendiri yang bisa dimanfaatkan. Karena menjadi salah satu sumber protein hewani dibandingkan dengan daging lain, sehingga kedepannya mampu membantu program pemerintah dalam menyokong kebutuhan protein hewani di Indonesia.
“Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima,” jelasnya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dilakukan hilirisasi untuk dikomersialisasikan di masyarakat.
Yesita mengaku perjalanannya meraih gelar doktor tidak mudah. Selama melakukan penelitian disertasi di lapangan, ujarnya, iapun harus memimpin 7-80 mahasiswa S1 dan S2 yang dikelola sejak awal ia masuk tim sampai sekarang.
“Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya,” terangnya.
Baca juga: Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Segera Ditutup, Hindari Kesalahan Dokumen yang Bikin Gugur
Ia mengungkapkan bahwa proses pengambilan datanya juga cukup panjang. Sita dan tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memeliharanya sampai umur sekitar 32 minggu, lalu mengawinkannya kembali untuk generasi selanjutnya.
Proses dari telur hingga ayam dewasa ini dilakukan sampai generasi kedua untuk kebutuhan datanya. Selain itu, tantangan lainnya adalah manajerial tim dari berbagai minat lain, seperti daging, telur, susu, dan nutrisi yang turut diambil datanya.
“Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya,” ungkap Sita.
Selama menempuh studi doktor ini, Sita tak hanya menjalankan kuliah saja. Banyak penelitian dan kegiatan sosial, seperti organisasi di kampus, turut dijalankan secara bersamaan.
Dari menghasilkan publikasi dan hak cipta dalam bentuk poster hingga mengikuti kegiatan kesenian seperti karawitan dilakukan oleh Sita selama ia menjadi mahasiswa pascasarjana.
“Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang,” ungkapnya.
Sita mengaku awalnya tidak tertarik dengan untuk meraih gelar doktor karena saat itu masih masa Covid-19. Namun adanya program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) mengubah pendiriannya.
“Sebenarnya saya tidak kepikiran sebelumnya karena waktu itu masih masa Covid. Akhirnya saya melanjutkan S2 dan S3 melalui program PMDSU di Fakultas Peternakan UGM,” jelasnya.
Kini dengan gelar Doktor yang ia punya ia ingin jadikan bekal untuk meraih cita-citanya semenjak duduk di bangku SMA, yakni menjadi akademisi atau dosen. Cita-cita menjadi pengajar ini lahir karena di kampung halamannya ia senang mengajak anak-anak sekitarnya untuk belaajr bersama.
Ia berharap setelah mendapat gelar doktor ini, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, mampu menjaga integritas dan loyalitas saat mendaftar menjadi dosen, serta terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. “Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3,” pungkasnya.
Gadis asal Klaten itupun berhasil merampungkan kuliahnya di usia 34 tahun 6 bulan 28 hari. Pada wisuda pascasarjana periode IV Rabu (23/7/2026) lalu pun ia dinobatkan sebagai wisudawan termuda untuk program Doktor.
Baca juga: Kisah Rofi, Anak Pedagang Ikan Keliling yang Lolos SNBP dan Kuliah di UGM
Jika dilihat rata-rata usia 90 lulusan Program Doktor termasuk satu warga negara asing, serta 19 lulusan periode sebelumnya.adalah 42 tahun 6 bulan 16 hari.
"Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus,”katanya, dikutip dari laman UGM, Selasa (28/7/2026).
Penelitian Potensi Genetik Ayam Lokal
Sita menuntaskan studi dengan disertasi berjudul “Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”, fokus penelitian ini adalah mengenai pembentukan ayam lokal Galur Baru.
Baca juga: Perjuangan Andini, Anak Tukang Bengkel yang Diterima di FEB UGM dan Beasiswa Penuh
Dalam riset ini, Sita dan tim melihat potensi genetik dari ayam-ayam lokal di Indonesia yang saat ini ada segmen pasar tersendiri yang bisa dimanfaatkan. Karena menjadi salah satu sumber protein hewani dibandingkan dengan daging lain, sehingga kedepannya mampu membantu program pemerintah dalam menyokong kebutuhan protein hewani di Indonesia.
“Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima,” jelasnya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dilakukan hilirisasi untuk dikomersialisasikan di masyarakat.
Perjuangan Menguras Emosi, Energi, dan Tenaga
Yesita mengaku perjalanannya meraih gelar doktor tidak mudah. Selama melakukan penelitian disertasi di lapangan, ujarnya, iapun harus memimpin 7-80 mahasiswa S1 dan S2 yang dikelola sejak awal ia masuk tim sampai sekarang.
“Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya,” terangnya.
Baca juga: Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Segera Ditutup, Hindari Kesalahan Dokumen yang Bikin Gugur
Ia mengungkapkan bahwa proses pengambilan datanya juga cukup panjang. Sita dan tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memeliharanya sampai umur sekitar 32 minggu, lalu mengawinkannya kembali untuk generasi selanjutnya.
Proses dari telur hingga ayam dewasa ini dilakukan sampai generasi kedua untuk kebutuhan datanya. Selain itu, tantangan lainnya adalah manajerial tim dari berbagai minat lain, seperti daging, telur, susu, dan nutrisi yang turut diambil datanya.
“Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya,” ungkap Sita.
Berbagi Waktu Meneliti, Kegiatan Sosial, dan Organisasi Kampus
Selama menempuh studi doktor ini, Sita tak hanya menjalankan kuliah saja. Banyak penelitian dan kegiatan sosial, seperti organisasi di kampus, turut dijalankan secara bersamaan.
Dari menghasilkan publikasi dan hak cipta dalam bentuk poster hingga mengikuti kegiatan kesenian seperti karawitan dilakukan oleh Sita selama ia menjadi mahasiswa pascasarjana.
“Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang,” ungkapnya.
Bercita-cita Jadi Dosen
Sita mengaku awalnya tidak tertarik dengan untuk meraih gelar doktor karena saat itu masih masa Covid-19. Namun adanya program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) mengubah pendiriannya.
“Sebenarnya saya tidak kepikiran sebelumnya karena waktu itu masih masa Covid. Akhirnya saya melanjutkan S2 dan S3 melalui program PMDSU di Fakultas Peternakan UGM,” jelasnya.
Kini dengan gelar Doktor yang ia punya ia ingin jadikan bekal untuk meraih cita-citanya semenjak duduk di bangku SMA, yakni menjadi akademisi atau dosen. Cita-cita menjadi pengajar ini lahir karena di kampung halamannya ia senang mengajak anak-anak sekitarnya untuk belaajr bersama.
Ia berharap setelah mendapat gelar doktor ini, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, mampu menjaga integritas dan loyalitas saat mendaftar menjadi dosen, serta terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. “Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :