IPB University Komitmen Tingkatkan Kualitas Green Campus
Senin, 05 Oktober 2020 - 07:21 WIB
loading...
A
A
A
Selama pandemi, program Green Campus tetap diterapkan, misalnya program Linking to Learning on Campus. Program ini adalah program yang mewajibkan dosen untuk menyampaikan mengenai Green Campus dan Sustainable Living pada mahasiswanya selama satu menit, sebelum dan setelah kegiatan belajar mengajar dilakukan. Bukan hanya sebatas menyampaikan, bahwa hal tersebut merupakan komitmen untuk melaksanakan Green Campus demi terwujudnya kampus berkelanjutan yang kita mimpikan.
Berdasarkan penilaian UI Green Metric tahun 2019, IPB University masih perlu peningkatan poin pada kriteria energy and climate change, wáter dan waste. Walaupun secara keseluruhan IPB University menempati peringkat 2 di Indonesia dan peringkat 40 di dunia sebagai kampus berkelanjutan.
Aceng mengatakan, Green Transportation mengalami penurunan dan pengelolaan sampah belum maksimal, terutama untuk limbah cair. Potensi penurunan poin pada kriteria transportasi kendaraan ramah lingkungan seperti mobil listrik tidak berfungsi lagi. Pun tidak ada pembatasan akses kendaraan masuk dan pembatasan parkir. Penerapan tarif ijin melintas hanya diterapkan bagi kendaraan bukan warga IPB.
"Pengelolaan sampah padat belum maksimal dikarenakan sampah belum terpilah dari sumbernya. Masih sering ditemukan sampah bercampur tidak terpisah sesuai kriteria. Padahal bak sampah, penampungan sementara, kendaraan pengangkut sampai alat proses di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah siap. Inilah tantangan terberat mengedukasi warga agar sadar memilah sampah," ungkap Aceng.
Sehingga saat ini, menurutnya, target yang diutamakan adalah mengedukasi mahasiswa baru IPB University di asrama mengenai pengolahan sampah. "Ke depan yang harus dilakukan adalah mengedukasi warga kampus baik itu dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan serta para stakeholder lain. Stakeholder pendidikan bagaimana mereka bisa bersama-sama melakukan perubahan cara berpikir, cara pandang bahwa sampah akan terolah jika sampah itu sudah terpilah. Ini merupakan gerakan moral yang memerlukan ketahanan, kesabaran dan upaya kita bersama,” pungkasnya.
Berdasarkan penilaian UI Green Metric tahun 2019, IPB University masih perlu peningkatan poin pada kriteria energy and climate change, wáter dan waste. Walaupun secara keseluruhan IPB University menempati peringkat 2 di Indonesia dan peringkat 40 di dunia sebagai kampus berkelanjutan.
Aceng mengatakan, Green Transportation mengalami penurunan dan pengelolaan sampah belum maksimal, terutama untuk limbah cair. Potensi penurunan poin pada kriteria transportasi kendaraan ramah lingkungan seperti mobil listrik tidak berfungsi lagi. Pun tidak ada pembatasan akses kendaraan masuk dan pembatasan parkir. Penerapan tarif ijin melintas hanya diterapkan bagi kendaraan bukan warga IPB.
"Pengelolaan sampah padat belum maksimal dikarenakan sampah belum terpilah dari sumbernya. Masih sering ditemukan sampah bercampur tidak terpisah sesuai kriteria. Padahal bak sampah, penampungan sementara, kendaraan pengangkut sampai alat proses di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah siap. Inilah tantangan terberat mengedukasi warga agar sadar memilah sampah," ungkap Aceng.
Sehingga saat ini, menurutnya, target yang diutamakan adalah mengedukasi mahasiswa baru IPB University di asrama mengenai pengolahan sampah. "Ke depan yang harus dilakukan adalah mengedukasi warga kampus baik itu dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan serta para stakeholder lain. Stakeholder pendidikan bagaimana mereka bisa bersama-sama melakukan perubahan cara berpikir, cara pandang bahwa sampah akan terolah jika sampah itu sudah terpilah. Ini merupakan gerakan moral yang memerlukan ketahanan, kesabaran dan upaya kita bersama,” pungkasnya.
(mpw)
Lihat Juga :