Mahasiswa ITS Rancang Instalasi Pengolahan Limbah Laundry Berbasis 3R
Rabu, 07 Oktober 2020 - 09:39 WIB
loading...
A
A
A
Cindy memaparkan, jika limbah keluaran alat ini akan dikumpulkan dahulu pada bak pengumpul. Selanjutnya, limbah akan disaring menggunakan pasir kali melalui proses filter biosand. Lalu, air olahan akan melalui dua kali proses adsorpsi karbon aktif menggunakan adsorben tempurung kelapa. “Terakhir, limbah yang telah diolah ini akan menjadi bersih dan dapat dikumpulkan ke dalam tandon air,” ujarnya.
Menurut Cindy, IPAL rancangan mereka semakin unggul berkat penerapan 3R. Prinsip recycle terlihat pada air olahannya yang dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman hidroponik, mencuci kendaraan, serta dapat dialirkan ulang ke unit pengolahan lagi. Selain itu, pasir kali yang mulai kotor akibat proses filter dapat digunakan kembali (reuse) setelah dicuci dengan air bersih. “Sementara, adsorben jenuh yang dihasilkan dapat dimanfaatkan (recovery) sebagai pupuk,” sebutnya.
Perlu diketahui, IPAL rancangan tim Abdi Karya ITS ini telah berhasil meraih juara utama kategori USK Laundry dan Batik dalam lomba Desain Inovasi IPAL 2020, pada 18 September lalu. Pada kompetisi yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini, Abdi Karya berhasil mengungguli 68 tim lain dari perguruan tinggi nasional dan luar negeri.
Ke depannya, tim bimbingan Arseto Yekti Bagastyo, Welly Herumurti, dan Ervin Nurhayati ini berharap, rancangan mereka tidak sekadar tuntas di perlombaan. Cindy berkeinginan, inovasi yang mereka gagas dapat dikembangkan lagi hingga semakin matang digunakan pegiat bisnis laundry. “Saya harap, dampak pencemaran limbah ini dapat teratasi dengan IPAL kami,” pungkasnya.
Menurut Cindy, IPAL rancangan mereka semakin unggul berkat penerapan 3R. Prinsip recycle terlihat pada air olahannya yang dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman hidroponik, mencuci kendaraan, serta dapat dialirkan ulang ke unit pengolahan lagi. Selain itu, pasir kali yang mulai kotor akibat proses filter dapat digunakan kembali (reuse) setelah dicuci dengan air bersih. “Sementara, adsorben jenuh yang dihasilkan dapat dimanfaatkan (recovery) sebagai pupuk,” sebutnya.
Perlu diketahui, IPAL rancangan tim Abdi Karya ITS ini telah berhasil meraih juara utama kategori USK Laundry dan Batik dalam lomba Desain Inovasi IPAL 2020, pada 18 September lalu. Pada kompetisi yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini, Abdi Karya berhasil mengungguli 68 tim lain dari perguruan tinggi nasional dan luar negeri.
Ke depannya, tim bimbingan Arseto Yekti Bagastyo, Welly Herumurti, dan Ervin Nurhayati ini berharap, rancangan mereka tidak sekadar tuntas di perlombaan. Cindy berkeinginan, inovasi yang mereka gagas dapat dikembangkan lagi hingga semakin matang digunakan pegiat bisnis laundry. “Saya harap, dampak pencemaran limbah ini dapat teratasi dengan IPAL kami,” pungkasnya.
(mpw)
Lihat Juga :