Prestasi Puncak, ITS Bawa Pulang Juara Umum Kontes Robot Terbang
Senin, 02 November 2020 - 10:27 WIB
loading...
A
A
A
“Jadi dilihat akurasinya berapa meter, berapa error-nya dari titik koordinat yang telah ditentukan,” terang Heri.
Heri menilai, tim Anaryadirga memang belum siap 100 persen karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa terdapat kesalahan dalam menginterpretasi perintah dari juri. Pemetaan divisi ini masih jelek karena tim menghabiskan waktu untuk pengembangan wahana.
“Yang penting adalah melakukan mapping dan monitoring yang benar sesuai dengan ilmu pemetaan udara. Itu kesalahan yang besar,” ungkapnya.
Ditanyai perihal kendala lain, menurut Heri, kendala paling utama adalah pandemi. Karena adanya pandemi, para anggota tim yang bisa berkumpul di Gedung Pusat Robotika ITS menjadi terbatas karena harus mengikuti protokol yang ada. Selain itu, banyak anggota tim yang tidak bisa datang ke Surabaya karena izin orang tua. “Seperti yang Air Frame. Itu demonya di Depok dan yang presentasi di Surabaya,” tutur Heri.
Kendati demikian, Heri cukup puas dengan perolehan tim ITS pada KRTI 2020. Sebab untuk pertama kalinya, ITS mampu merebut gelar Juara Umum yang sebelumnya selalu dipegang kampus lain. Menurutnya, ini merupakan puncak prestasi yang luar biasa sekali bagi tim robot terbang ITS.
“Ke depan, kita harus dapat mempertahankan, lebih semangat, dan lebih inovatif untuk mengembangkan ide-ide dan strategi yang harus kita lakukan. Terus terang, mempertahankan itu lebih susah daripada memperebutkan,” pungkas Heri.
Heri menilai, tim Anaryadirga memang belum siap 100 persen karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa terdapat kesalahan dalam menginterpretasi perintah dari juri. Pemetaan divisi ini masih jelek karena tim menghabiskan waktu untuk pengembangan wahana.
“Yang penting adalah melakukan mapping dan monitoring yang benar sesuai dengan ilmu pemetaan udara. Itu kesalahan yang besar,” ungkapnya.
Ditanyai perihal kendala lain, menurut Heri, kendala paling utama adalah pandemi. Karena adanya pandemi, para anggota tim yang bisa berkumpul di Gedung Pusat Robotika ITS menjadi terbatas karena harus mengikuti protokol yang ada. Selain itu, banyak anggota tim yang tidak bisa datang ke Surabaya karena izin orang tua. “Seperti yang Air Frame. Itu demonya di Depok dan yang presentasi di Surabaya,” tutur Heri.
Kendati demikian, Heri cukup puas dengan perolehan tim ITS pada KRTI 2020. Sebab untuk pertama kalinya, ITS mampu merebut gelar Juara Umum yang sebelumnya selalu dipegang kampus lain. Menurutnya, ini merupakan puncak prestasi yang luar biasa sekali bagi tim robot terbang ITS.
“Ke depan, kita harus dapat mempertahankan, lebih semangat, dan lebih inovatif untuk mengembangkan ide-ide dan strategi yang harus kita lakukan. Terus terang, mempertahankan itu lebih susah daripada memperebutkan,” pungkas Heri.
(mpw)
Lihat Juga :