Guru SD-SMP Mulai Masuk Sekolah di Surabaya, Ini Curhatan Mereka
Selasa, 24 November 2020 - 08:39 WIB
loading...
Para guru SD-SMP di Kota Surabaya kini sudah kembali ke sekolah dengan pembelajaran tatap muka. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A
A
A
SURABAYA - Persiapan pendidikan tatap muka terus di matangkan di Kota Pahlawan. Mulai hari ini para guru maupun non guru di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai masuk ke sekolah Senin, (23/11/2020).
Mereka mulai menjalani fase baru setelah lama mengajar dari rumah di tengah pandemi COVID-18. Melalui surat edaran Wali Kota Surabaya nomor: 800/10371/436.7.1/2020 tentang Pengaturan Kerja di Kantor, para guru kini mulai mengajar daring dari sekolah.
“Belajarnya tetap daring, hanya kami yang masuk di sekolah. Jadi kami tak lagi mengajar dari rumah,” kata Uswatun, salah satu guru SD, Senin (23/11/2020). (Baca juga: Wah Pendaftar PPPK Guru Bisa Ikut Tiga Kali Seleksi Tahun Depan )
Ia melanjutkan, para guru juga sempat menerapkan piket sekolah. Sehingga di sekolah masih ada giliran jaga dalam jumlah yang tak banyak. “Maksimal tiga orang, biasanya juga cuma dua orang saja yang piket,” ungkapnya.
Ia mengaku sudah rindu ruang-ruang belajar bersama siswa. Namun, kesehatan tetap yang utama. Upaya pencegahan penularan COVID-19 harus menjadi pertimbangan utama di tengah pandemi. “Belajar tatap muka belum ada keputusan,” jelasnya. (Baca juga: Gaji Dijamin Pusat, Nadiem: Mohon Pemda Ajukan Formasi Guru PPPK Sebanyak Mungkin )
Mereka mulai menjalani fase baru setelah lama mengajar dari rumah di tengah pandemi COVID-18. Melalui surat edaran Wali Kota Surabaya nomor: 800/10371/436.7.1/2020 tentang Pengaturan Kerja di Kantor, para guru kini mulai mengajar daring dari sekolah.
“Belajarnya tetap daring, hanya kami yang masuk di sekolah. Jadi kami tak lagi mengajar dari rumah,” kata Uswatun, salah satu guru SD, Senin (23/11/2020). (Baca juga: Wah Pendaftar PPPK Guru Bisa Ikut Tiga Kali Seleksi Tahun Depan )
Ia melanjutkan, para guru juga sempat menerapkan piket sekolah. Sehingga di sekolah masih ada giliran jaga dalam jumlah yang tak banyak. “Maksimal tiga orang, biasanya juga cuma dua orang saja yang piket,” ungkapnya.
Ia mengaku sudah rindu ruang-ruang belajar bersama siswa. Namun, kesehatan tetap yang utama. Upaya pencegahan penularan COVID-19 harus menjadi pertimbangan utama di tengah pandemi. “Belajar tatap muka belum ada keputusan,” jelasnya. (Baca juga: Gaji Dijamin Pusat, Nadiem: Mohon Pemda Ajukan Formasi Guru PPPK Sebanyak Mungkin )
Lihat Juga :