HDI-BenihBaik Kolaborasi untuk Pendidikan Anak di Panti Asuhan
Selasa, 22 Desember 2020 - 18:52 WIB
loading...
A
A
A
Pengamat Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran, Budi M. Taftazani mengakui motivasi dari keberadaan anak-anak dari keluarga tidak mampu di panti asuhan justru agar dapat memenuhi kebutuhan pendidikannya. "Mereka umumnya masih memiliki orang tua, baik orang tua lengkap, maupun tunggal, akibatnya fungsi panti bergeser menjadi pengganti fungsi keluarga. Untuk itu, para penyelenggara panti seharusnya menjalankan Standar Nasional Pengasuhan Anak serta lembaganya sendiri sebaiknya disertifikasi,” ungkap Budi.
UU dan PP yang mengatur Panti Asuhan menekankan pada pemenuhan hak-hak anak seperti tugas perlindungan anak untuk menghindarkan anak dari keterlantaran, eksploitasi dan kekerasan, serta juga pemenuhan pendidikan. Proses pendidikan ini selama ini diserahkan kepada lembaga pendidikan formal di sekolah.
Selanjutnya, Budi juga menegaskan bahwa pada kenyataannya, anak-anak di Panti Asuhan membutuhkan perhatian khusus, karena berasal dari latar belakang yang terpisah dari keluarga dibandingkan anak-anak yang memiliki orang tua lengkap atau tinggal dengan keluarga. Program pengasuhan di Panti Asuhan hendaknya disiapkan untuk mendukung pendidikan umum yang diterima di sekolah, ditambah pendidikan budi pekerti dan keagamaan, serta seharusnya panti ditempatkan sebagai the last resource terutama bagi anak yang masih memiliki orang tua, sehingga hak anak untuk tinggal bersama keluarga tetap diperhatikan.
"Jadi, anak-anak di panti asuhan membutuhkan bimbingan dan motivasi khusus untuk mencapai cita-cita dan impiannya, seperti jika mereka mereka tinggal di dalam keluarga yang harmonis. Pastinya ini bukan hal mudah, oleh karena itu dukungan eksternal dari masyarakat menentukan kemampuan panti asuhan di dalam upayanya memberi pengasuhan optimal bagi anak-anak yang dititipkan di sana," paparnya.
Pengasuh Panti Asuhan Baitul Aitam, Suryanti, di Cilacap, Jawa Tengah juga mengakui hal tersebut. “Saya sendiri percaya, anak-anak di panti asuhan adalah anak-anak yang istimewa, mereka membutuhkan perhatian khusus dalam pendidikannya, Di antara anak-anak ini, biasanya muncul problem rendahnya rasa percaya diri dan keterbatasan akses sebelumnya terhadap pendidikan yang harus diselesaikan terlebih dahulu di panti, sebelum mereka menerima pendidikan formal di sekolah. Itulah sebabnya kami terbuka menerima donasi ini dan mengikuti program pendidikan yang disiapkan HDI dan Benih Baik,” ungkap Suryanti.
Bagi HDI, kegiatan sosial semacam ini bukanlah hal baru. Selama pandemi COVID-19 menyerang Indonesia, HDI telah meluncurkan berbagai program sosial, mulai dari kerja sama dengan Kemenkes untuk menyediakan suplemen imunitas PropoelixTM bagi pasien karantina di Pulau Sebaru pada awal munculnya COVID-19 di Indonesia. Dilanjutkan dengan program HDI Peduli Pejuang Medis yang mendistribusikan masker dan suplemen imunitas bagi tenaga medis di seluruh Indonesia dan pembagian produk HDI Clover Honey untuk menjaga imunitas anak-anak di ratusan panti asuhan pada Ramadhan tahun ini.
UU dan PP yang mengatur Panti Asuhan menekankan pada pemenuhan hak-hak anak seperti tugas perlindungan anak untuk menghindarkan anak dari keterlantaran, eksploitasi dan kekerasan, serta juga pemenuhan pendidikan. Proses pendidikan ini selama ini diserahkan kepada lembaga pendidikan formal di sekolah.
Selanjutnya, Budi juga menegaskan bahwa pada kenyataannya, anak-anak di Panti Asuhan membutuhkan perhatian khusus, karena berasal dari latar belakang yang terpisah dari keluarga dibandingkan anak-anak yang memiliki orang tua lengkap atau tinggal dengan keluarga. Program pengasuhan di Panti Asuhan hendaknya disiapkan untuk mendukung pendidikan umum yang diterima di sekolah, ditambah pendidikan budi pekerti dan keagamaan, serta seharusnya panti ditempatkan sebagai the last resource terutama bagi anak yang masih memiliki orang tua, sehingga hak anak untuk tinggal bersama keluarga tetap diperhatikan.
"Jadi, anak-anak di panti asuhan membutuhkan bimbingan dan motivasi khusus untuk mencapai cita-cita dan impiannya, seperti jika mereka mereka tinggal di dalam keluarga yang harmonis. Pastinya ini bukan hal mudah, oleh karena itu dukungan eksternal dari masyarakat menentukan kemampuan panti asuhan di dalam upayanya memberi pengasuhan optimal bagi anak-anak yang dititipkan di sana," paparnya.
Pengasuh Panti Asuhan Baitul Aitam, Suryanti, di Cilacap, Jawa Tengah juga mengakui hal tersebut. “Saya sendiri percaya, anak-anak di panti asuhan adalah anak-anak yang istimewa, mereka membutuhkan perhatian khusus dalam pendidikannya, Di antara anak-anak ini, biasanya muncul problem rendahnya rasa percaya diri dan keterbatasan akses sebelumnya terhadap pendidikan yang harus diselesaikan terlebih dahulu di panti, sebelum mereka menerima pendidikan formal di sekolah. Itulah sebabnya kami terbuka menerima donasi ini dan mengikuti program pendidikan yang disiapkan HDI dan Benih Baik,” ungkap Suryanti.
Bagi HDI, kegiatan sosial semacam ini bukanlah hal baru. Selama pandemi COVID-19 menyerang Indonesia, HDI telah meluncurkan berbagai program sosial, mulai dari kerja sama dengan Kemenkes untuk menyediakan suplemen imunitas PropoelixTM bagi pasien karantina di Pulau Sebaru pada awal munculnya COVID-19 di Indonesia. Dilanjutkan dengan program HDI Peduli Pejuang Medis yang mendistribusikan masker dan suplemen imunitas bagi tenaga medis di seluruh Indonesia dan pembagian produk HDI Clover Honey untuk menjaga imunitas anak-anak di ratusan panti asuhan pada Ramadhan tahun ini.
Lihat Juga :