Mahasiswa ITS Teliti Superkapasitor sebagai Wind Energy Smoother

Jum'at, 15 Januari 2021 - 23:19 WIB
loading...
Mahasiswa ITS Teliti...
(dari kiri) Ilul Rohman, Mohammad Arian Rahmatullah, dan Muhammad Haikal, anggota Tim LIP1ST peneliti Wind Energy Smoother. Foto/Humas ITS
A A A
JAKARTA - Pemanfaatan angin sebagai pengganti energi penghasil listrik sudah mulai banyak dilakukan tapi karakteristik angin yang sangat fluktuatif butuh media penyimpan energi yang sangat sensitif untuk merespon daya.

Hal inilah yang diteliti oleh sejumlah mahasiswa ITS yang tergabung dalam Tim LIP1ST, tentang kemampuan superkapasitor sebagai alternatif pengganti baterai dalam menstabilkan daya (power smoothing) dari turbin angin. Baca juga: Ciptakan Aplikasi Ini, Mahasiswa Unusa Juarai LoKreatif Tingkat Nasional

Para mahasiswa itu ialah Mohammad Arian Rahmatullah, Muhammad Haikal dan Ilul Rohman. Penelitian Laboratorium Instrumentasi, Pengukuran, dan Identifikasi Sistem Tenaga (LIPIST) Departemen Teknik Elektro ITS ini, berawal dari fakta keterbatasan energi fosil di Indonesia..

Ketua Tim LIP1ST Mohammad Arian Rahmatullah, menambahkan, penelitian ini juga berlatar potensi energi angin di Indonesia yang cukup besar. Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi daya angin Indonesia mencapai 60.647 megawatt.

Namun hingga saat ini, kurang dari 1/6 saja kapasitas dari yang terpasang yang telah dimanfaatkan. “Karena yang terpasang masih sedikit, jadi tidak kalah penting untuk dilakukan optimasi agar energi yang dihasilkan tidak terbuang sia-sia,” katanya melalui siaran pers, Jumat (15/1). Baca juga: Simak 20 PTN dengan Jumlah Pendaftar Terbanyak di SNMPTN 2020

Penggunaan baterai sebagai media penyimpanan energi selama ini masih memiliki kekurangan. Tingkat fluktuasi kecepatan angin yang tinggi menyebabkan daya yang kurang mampu ditangkap dengan baik oleh baterai sebagai media penyimpan energi. Kerapatan daya yang kecil pada baterai menyebabkan durasi yang lama untuk bisa terisi penuh.

“Baterai memiliki kemampuan charging dan discharging yang rendah, life cycle yang relatif pendek, serta mudah terbakar karena menggunakan proses kimiawi,” imbuhnya.

Oleh karenanya, lanjut Arian, diujilah sebuah media penyimpan energi yang memiliki tingkat kerapatan daya yang lebih besar, yaitu superkapasitor. Untuk mengujinya, dibuat pemodelan blok diagram pada perangkat lunak Mathlab Simulink.

Terlebih dahulu, beberapa komponen seperti turbin angin, rectifier, controller boost, converter boost, converter bidirectional, controller bidirectional dan penyimpan energi disusun sedemikan rupa membentuk sebuah skema.

Selanjutnya, beberapa parameter seperti rated capacitance, rated voltage, initial voltage dan operating temperature juga diisi sesuai kondisi di lapangan. Setelah itu, di-input-kan sebuah studi kasus dalam 3 kondisi, yakni kecepatan angin berubah dengan daya beban konstan, kecepatan angin konstan dengan daya beban berubah, dan kecepatan angin dengan daya beban berubah.

“Baik baterai atau superkapasitor, keduanya kami uji daya charging dan discharging-nya dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 5 detik saja,” ungkapnya.

Setelah diuji, penelitian ini mendapati bahwa superkapasitor memiliki daya respon yang sangat baik dan cepat dalam interval waktu yang singkat. Dalam waktu 5 detik, dengan daya turbin angin yang sangat fluktuatif, superkapasitor dapat menangkap secara optimal.

Apabila daya melebihi beban, daya akan disimpan seluruhnya. Sebaliknya, ketika daya masuk kurang dari beban, cadangan daya akan disuplai untuk menyetabilkan daya yang dihasilkan oleh turbin angin.

“Meskipun harganya sedikit lebih mahal, lifetime superkapasitor tiga kali lebih lama dari baterai, dan kami percaya, tidak menutup kemungkinan di masa mendatang harga superkapasitor mampu bersaing dengan penyimpan energi lainnya,” tandasnya yakin.
(mpw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
President University...
President University Cetak 359 Inovasi Mahasiswa Lewat Economic Survival Exhibition 2026
2.468 Peserta SNBT 2026...
2.468 Peserta SNBT 2026 Diterima di ITS, Cek Jadwal Daftar Ulangnya
PTN Favorit dengan Pendaftar...
PTN Favorit dengan Pendaftar UTBK SNBT Terbanyak 3 Tahun Terakhir
Perjuangan Teuku Feroz...
Perjuangan Teuku Feroz Bantu Anak Aceh Tembus Kampus Top Nasional
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan ITSafe, Peta Digital Area Rawan Pelecehan dan Catcalling
SMMPTN Barat 2026 Diikuti...
SMMPTN Barat 2026 Diikuti 27 PTN, Cek Daftar Kampus dan Materi Tesnya
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Waspada Hantavirus,...
Waspada Hantavirus, Kenali Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya
Marak Pelecehan Seksual...
Marak Pelecehan Seksual di Kampus, MUI: Perlu Dikuatkan Lagi Pembinaan Mental dan Spiritual
Rekomendasi
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Kejagung: Sony Sanjaya...
Kejagung: Sony Sanjaya Tak Bisa Jadi Justice Collaborator Jika Menjadi Pelaku Utama
Aktivis Muda Nasional:...
Aktivis Muda Nasional: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
Berita Terkini
Cerita Davi, Mahasiswa...
Cerita Davi, Mahasiswa Kedokteran Unair yang Raih Medali Emas ONMIPA-PT 2026 Bidang Biologi
Pertamina Hulu Rokan...
Pertamina Hulu Rokan Buka Magang Kerja 2026 untuk Lulusan D3-S1, Cek Syaratnya
Hasil ONMIPA-PT 2026:...
Hasil ONMIPA-PT 2026: ITB Raih Juara Umum, Ini Daftar Lengkap Peraih Medali
Kemenag Buka Beasiswa...
Kemenag Buka Beasiswa INSIGHT Scholarship bagi Mahasiswa Internasional yang Ingin Kuliah di PTKIN
4.480 Calon Mahasiswa...
4.480 Calon Mahasiswa Diterima di UM UGM CBT 2026, Kedokteran Paling Ketat
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
Infografis
Kartu Jakarta Mahasiswa...
Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul Tak Terdampak Efisiensi Anggaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved