Untar Luluskan Grace Kurniadi, Lulusan Psikologi Klinis Tuli Pertama di Indonesia
Minggu, 14 Februari 2021 - 10:18 WIB
loading...
Grace Kurniadi, Lulusan Psikologi Klinis Tuli Pertama di Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Universitas Tarumanagara (Untar) berkomitmen memberi kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun, termasuk bagi orang dengan kebutuhan khusus. Hal ini dibuktikan dengan lulusnya Psikolog Tuli dari Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, yaitu Grace Kurniadi. Tercatat Grace Kurniadi sebagai Psikolog tuli pertama di Indonesia.
Grace menuturkan awal mula memilih profesi psikolog. “Saya memilih pendidikan sebagai psikolog berawal dari usulan orang tua. Mereka melihat saya sering menjadi tempat bercerita bagi teman-teman di masa SMP dan SMA. Saya juga senang untuk mengamati hubungan antarmanusia,” katanya.
Jurusan pilihan Grace adalah Pendidikan Profesi Psikolog yang merupakan salah satu jurusan unggulan di Universitas Tarumanagara. “Jurusan tersebut hanya tersedia di Universitas Tarumanagara dan berada di area yang paling dekat dengan Jakarta. Selain itu, karena akses transportasi lebih mudah, dan juga ada satu mata kuliah yang jarang ada di kampus lain seperti art therapy, yang menurut saya menjadi nilai tambah dari Pendidikan Profesi Psikolog di Universitas Tarumanagara,”jelasnya.
Sebagai seorang tuli tentu perkuliahan dilalui dengan penuh perjuangan yang tidaklah mudah. Namun, berbagai kendala yang ada dilewati tanpa mengeluh. “Kendala yang saya alami dengan adanya ketulian dalam proses belajar, yaitu sulitnya menangkap gerakan bibir jika: orang yang berbicara membelakangi saya, senang berjalan-jalan, berbicara terlalu cepat/ berkumur-kumur gerakan bibirnya, ataupun artikulasinya tidak jelas. Hal lainnya, saya kurang bisa menanggapi dengan cepat jika masuk ke dalam kelompok lebih dari empat orang,” terangnya.
Namun demikian, Grace selalu berusaha mengatasinya dengan berkomunikasi yang baik dengan dosen khususnya terkait perkuliahan yang ia ambil seperti berkomunikasi untuk menjelaskan kondisinya serta meminta dosen tersebut untuk berbicara lebih perlahan agar mudah dipahami serta merekam proses perkuliahan untuk bisa diputar ulang kembali di rumah untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Grace menuturkan awal mula memilih profesi psikolog. “Saya memilih pendidikan sebagai psikolog berawal dari usulan orang tua. Mereka melihat saya sering menjadi tempat bercerita bagi teman-teman di masa SMP dan SMA. Saya juga senang untuk mengamati hubungan antarmanusia,” katanya.
Jurusan pilihan Grace adalah Pendidikan Profesi Psikolog yang merupakan salah satu jurusan unggulan di Universitas Tarumanagara. “Jurusan tersebut hanya tersedia di Universitas Tarumanagara dan berada di area yang paling dekat dengan Jakarta. Selain itu, karena akses transportasi lebih mudah, dan juga ada satu mata kuliah yang jarang ada di kampus lain seperti art therapy, yang menurut saya menjadi nilai tambah dari Pendidikan Profesi Psikolog di Universitas Tarumanagara,”jelasnya.
Sebagai seorang tuli tentu perkuliahan dilalui dengan penuh perjuangan yang tidaklah mudah. Namun, berbagai kendala yang ada dilewati tanpa mengeluh. “Kendala yang saya alami dengan adanya ketulian dalam proses belajar, yaitu sulitnya menangkap gerakan bibir jika: orang yang berbicara membelakangi saya, senang berjalan-jalan, berbicara terlalu cepat/ berkumur-kumur gerakan bibirnya, ataupun artikulasinya tidak jelas. Hal lainnya, saya kurang bisa menanggapi dengan cepat jika masuk ke dalam kelompok lebih dari empat orang,” terangnya.
Namun demikian, Grace selalu berusaha mengatasinya dengan berkomunikasi yang baik dengan dosen khususnya terkait perkuliahan yang ia ambil seperti berkomunikasi untuk menjelaskan kondisinya serta meminta dosen tersebut untuk berbicara lebih perlahan agar mudah dipahami serta merekam proses perkuliahan untuk bisa diputar ulang kembali di rumah untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Lihat Juga :