Ornamen Header
Miris, 400 Ribu Sarjana TI Per Tahun Tak Memenuhi Kualifikasi Industri
Miris, 400 Ribu Sarjana TI Per Tahun Tak Memenuhi Kualifikasi Industri
Mayoritas lulusan TI di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan kalangan industri yang bergerak pada bidang teknologi informasi. Foto/SINDOnews/Arif Budianto
BANDUNG - Mayoritas lulusan teknik informatika (TI) di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan kalangan industri yang bergerak pada bidang teknologi informasi. Padahal, jumlah lulusan TI setiap tahunnya cukup besar.

CEO Dicoding Indonesia Narenda Wicaksono mengaku, setiap tahunnya Indonesia memiliki lulusan sarjana atau sekolah kejuruan TI tak kurang dari 400.000 orang. Mereka dihasilkan dari ratusan perguruan tinggi serta sekolah kejuruan program studi TI.

Baca juga: Tim Sapuangin ITS Raih Juara di Autonomous Programming SEM Asia 2021

Sayangnya, mayoritas lulusan TI belum memenuhi kualifikasi sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan industri saat ini. "Tapi apakah mereka sudah memenuhi syarat, belum. Hanya sedikit yang memenuhi syarat sebagaimana kebutuhan industri saat ini," kata Narenda.

Padahal, menurut dia, kebutuhan terhadap SDM TI di Indonesia diperkirakan mencapai 200.000 orang per tahun. Jumlah tersebut akan terus bertambah, seiring perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Beberapa yang dibutuhkan misalnya SDM yang mampu menggarap bidang artificial intelligence dan back end developer.



Oleh karenanya, kata dia, berbagai sarana untuk menunjang keahlian lulusan TI sangatlah dibutuhkan. Baik dalam bentuk sarana pelatihan, sertifikasi, atau kegiatan yang mampu mendorong lulusan TI lebih kreatif menyalurkan bakatnya.

Baca juga: UTBK SBMPTN Dimulai 12 April, Cek Daftar 74 Pusat UTBK

Sementara itu, untuk mendorong lahirnya SDM kreatif di bidang IT, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar event Baparekraf Developer Day (BDD) pada 3 April 2021 di Bandung. Event ini digelar untuk mengembangkan ekosistem developer aplikasi yang berkualitas.

BDD merupakan event yang bertujuan mengasah kemampuan teknis pengembang aplikasi di Indonesia. Mempertemukan para pelaku dan praktisi di industri digital kreatif dengan para developer dalam sebuah sesi transfer pengetahuan dengan standar industri.

“Ekonomi digital merupakan salah satu sektor yang bertumbuh di masa pandemi. Makanya kami terus mendorong ekosistem developer lokal, sehingga tercipta sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas developer,” jelas Deputi Bidang Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf/Baparekraf Muhammad Neil El Himam.



Baca juga: Ingin Kuliah di AS, Ini 5 Langkah yang Harus Dilakukan Calon Mahasiswa

Khusus tahun ini, terdapat empat pilihan track yang tersedia, yakni Android Track, Web Track, Machine Learning Track dan Back-End Developer Track. Pada tahun 2020, BDD telah ditonton lebih dari 130 ribu kali melalui kanal youtube Baparekraf Developer Day.

Sementara tahun ini, pihaknya memberikan fasilitasi kepada lebih dari 1.500 developer, untuk dua pilihan track, yakni Android dan Web. Fasilitasi BDT tahun ini fokus untuk memastikan developer mencapai level expert. Para developer dapat mengikuti fasilitasi belajar secara gratis.

Peserta dibekali dengan materi, tutorial, latihan, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan standar global, serta dukungan mentor, fasilitator dan forum diskusi online. Seluruh aktivitas dilakukan secara daring.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!