UIN Sunan Kalijaga Yogya Tuan Rumah Kompetisi Keilmuan PTKIN Se-Jawa Madura 2021
Selasa, 22 Juni 2021 - 08:12 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mengenal Aprillia, Siswi Madrasah Peraih Nilai Sempurna UTBK SBMPTN 2021
Menurutnya perguruan tinggi mempunya andil besar utuk pengembangan SDM yang berkualitas. Sehingga di tahun 2030 generasi milenial yang punya keilmuan tinggi dan karakter yang baik dapat lahir dan itu diawali sejak saat ini.
“Perguruan Tinggi dapat mengembangkan bakat dan nikmat mahasiswa saat ini,” paparnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin mengatakan PTKIN dan perguruan tinggi di Indonesia saatnya memajukan olahraga dan seni. Tidak hanya terpaku pada SKS dan matakuliah formal di kampus, yang cenderung menghafal dan mendogma, kurang mengajak mahasiswa berfikir analitis dan luas serta dalam, kreatif dan inventori (menemukan).
“Kita kalah dengan bangsa tetangga, seperti Singapora, Malaysia, Filipina, dan Thailand, saya kira karena kurikulum kita yang monoton dan itu-itu saja. Berfikir analitik dan empiric sangat kurang diajarkan. Berfikir hafalan dan mengulang-ulang terlalu banyak.” jelasnya.
Dogma dan doktrin terlalu banyak dalam pendidikan tinggi Berfikir observatory dan inventory, menemukan dan kreatif masih lemah sekali. Sehingga semua ilmu dan produk import dari Barat atau Timur Tengah, China, Jepang, Thailand.
Menurutnya perguruan tinggi mempunya andil besar utuk pengembangan SDM yang berkualitas. Sehingga di tahun 2030 generasi milenial yang punya keilmuan tinggi dan karakter yang baik dapat lahir dan itu diawali sejak saat ini.
“Perguruan Tinggi dapat mengembangkan bakat dan nikmat mahasiswa saat ini,” paparnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin mengatakan PTKIN dan perguruan tinggi di Indonesia saatnya memajukan olahraga dan seni. Tidak hanya terpaku pada SKS dan matakuliah formal di kampus, yang cenderung menghafal dan mendogma, kurang mengajak mahasiswa berfikir analitis dan luas serta dalam, kreatif dan inventori (menemukan).
“Kita kalah dengan bangsa tetangga, seperti Singapora, Malaysia, Filipina, dan Thailand, saya kira karena kurikulum kita yang monoton dan itu-itu saja. Berfikir analitik dan empiric sangat kurang diajarkan. Berfikir hafalan dan mengulang-ulang terlalu banyak.” jelasnya.
Dogma dan doktrin terlalu banyak dalam pendidikan tinggi Berfikir observatory dan inventory, menemukan dan kreatif masih lemah sekali. Sehingga semua ilmu dan produk import dari Barat atau Timur Tengah, China, Jepang, Thailand.
Lihat Juga :