Universitas Pertamina Susun Kajian Rekomendasi Ekspansi Bisnis Internasional Pertamina
Minggu, 15 Agustus 2021 - 22:15 WIB
loading...
Penyerahan Kajian Rekomendasi dari CARE Universitas Pertamina kepada PT Pertamina (Persero). Foto/Dok/Humas UP
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memprediksikan pada tahun 2025 mendatang permintaan energi nasional akan semakin meningkat. Sektor transportasi masih mendominasi permintaan dengan proporsi sebesar 35 persen. Untuk menopang kebutuhan tersebut, pemerintah melakukan berbagai upaya, seperti peningkatan ketahanan pasokan, promosi investasi, capacity building, dan transfer teknologi.
Upaya lain yang juga kini tengah digalakan adalah membangun ketahanan energi nasional melalui kerja sama internasional, baik dengan negara lain maupun dengan lembaga internasional. Disampaikan Kementerian ESDM dalam Singapore International Energy Week 2020, penting untuk melakukan kerja sama internasional dalam rangka mendukung pengembangan energi. Mengingat kompleksnya tantangan, setiap negara tak dapat berjalan sendiri.
Baca juga: Kemendikbudristek Luncurkan Program Sertifikasi Dosen 2021, Cek Infonya
Disebutkan Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UP), Dr. Indra Kusumawardhana, M Hub. Int, kerja sama energi antar negara tersebut tidak hanya akan berpotensi diimplementasikan di level negara (G to G), tetapi juga di level antar bisnis (B to B).
“Sejalan dengan tujuan PT Pertamina (Persero) untuk melakukan ekspansi pasar internasional, tim peneliti UP memberikan kajian rekomendasi untuk menjalin kerja sama B to B dengan delapan negara potensial yakni Filipina, Bangladesh, Vietnam, Arab Saudi, Turki, Azerbaijan, Iran, dan Nigeria,” ungkap Indra dalam keterangan pers, Sabtu (14/8/2021).
Kerja sama energi B to B sebagaimana direkomendasikan, akan menjadi bidang kerja sama yang strategis dan penting terutama dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya migas untuk ketahanan energi di masing-masing negara. “Kerja sama ini juga merepresentasikan kepentingan nasional Indonesia,” lanjut Indra.
Baca juga: Peringatan Hakteknas, Mendikbudristek: Kolaborasi akan Tingkatkan Mutu Inovasi
Upaya lain yang juga kini tengah digalakan adalah membangun ketahanan energi nasional melalui kerja sama internasional, baik dengan negara lain maupun dengan lembaga internasional. Disampaikan Kementerian ESDM dalam Singapore International Energy Week 2020, penting untuk melakukan kerja sama internasional dalam rangka mendukung pengembangan energi. Mengingat kompleksnya tantangan, setiap negara tak dapat berjalan sendiri.
Baca juga: Kemendikbudristek Luncurkan Program Sertifikasi Dosen 2021, Cek Infonya
Disebutkan Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UP), Dr. Indra Kusumawardhana, M Hub. Int, kerja sama energi antar negara tersebut tidak hanya akan berpotensi diimplementasikan di level negara (G to G), tetapi juga di level antar bisnis (B to B).
“Sejalan dengan tujuan PT Pertamina (Persero) untuk melakukan ekspansi pasar internasional, tim peneliti UP memberikan kajian rekomendasi untuk menjalin kerja sama B to B dengan delapan negara potensial yakni Filipina, Bangladesh, Vietnam, Arab Saudi, Turki, Azerbaijan, Iran, dan Nigeria,” ungkap Indra dalam keterangan pers, Sabtu (14/8/2021).
Kerja sama energi B to B sebagaimana direkomendasikan, akan menjadi bidang kerja sama yang strategis dan penting terutama dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya migas untuk ketahanan energi di masing-masing negara. “Kerja sama ini juga merepresentasikan kepentingan nasional Indonesia,” lanjut Indra.
Baca juga: Peringatan Hakteknas, Mendikbudristek: Kolaborasi akan Tingkatkan Mutu Inovasi
Lihat Juga :