Guru Besar IPB Jelaskan Fenomena Aphelion dan Pengaruhnya terhadap Batuk Pilek
Jum'at, 25 Februari 2022 - 19:26 WIB
loading...
Prof Husin Alatas, Guru Besar IPB University Bidang Fisika Teori sekaligus pengajar mata kuliah Fisika Sistem Kompleks pada Prodi S1 Fisika. Foto/Dok/IPB
A
A
A
JAKARTA - Aphelion merupakan istilah yang digunakan ketika posisi bumi berada pada titik terjauh dari matahari. Fenomena ini menjadi perhatian sejak beredarnya informasi terkait adanya hubungan fenomena aphelion sebagai penyebab batuk dan pilek.
Prof Husin Alatas, Guru Besar IPB University Bidang Fisika Teori sekaligus pengajar mata kuliah Fisika Sistem Kompleks pada Program Studi Sarjana (S1) Fisika menjelaskan secara ilmiah untuk memverifikasi berita yang beredar.
Baca juga: Beasiswa LPDP 2022 Resmi Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Prof Husin Alatas menjelaskan, setiap tahun posisi aphelion bumi berlangsung pada kisaran awal Juli, dan tahun 2022 ini diperkirakan akan jatuh pada 4 Juli. Sementara, katanya, titik perihelion dicapai bumi pada tanggal 4 Januari 2022 yang lalu. Apabila dibandingkan dengan rata-rata jarak antara bumi dengan matahari, maka penyimpangan titik aphelion hanya 1.68 persen, demikian juga dengan titik perihelion. Hal ini bersesuaian dengan nilai eksentrisitas orbit bumi yang bernilai 0.01671 atau dengan kata lain orbit bumi pada hakikatnya hampir berupa lingkaran.
Prof Husin melanjutkan, apabila efek yang ditimbulkan oleh kemiringan poros rotasi bumi dibandingkan terhadap bidang orbit sebesar 23 derajat yang menimbulkan perbedaan musim antara bumi bagian utara dan selatan, maka efek dari aphelion dan perihelion praktis relatif sangat kecil terhadap cuaca di bumi.
"Oleh karena itu, cuaca ekstrim yang dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan seperti munculnya gejala batuk dan pilek, kecil kemungkinannya disebabkan oleh kedua posisi bumi dari matahari tersebut," kata Prof Husin Alatas, Sekretaris Eksekutif Center for Tranadisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University ini.
Baca juga: Dirikan Prodi Kedokteran, IPB University Berguru ke Unpad
Prof Husin Alatas, Guru Besar IPB University Bidang Fisika Teori sekaligus pengajar mata kuliah Fisika Sistem Kompleks pada Program Studi Sarjana (S1) Fisika menjelaskan secara ilmiah untuk memverifikasi berita yang beredar.
Baca juga: Beasiswa LPDP 2022 Resmi Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Prof Husin Alatas menjelaskan, setiap tahun posisi aphelion bumi berlangsung pada kisaran awal Juli, dan tahun 2022 ini diperkirakan akan jatuh pada 4 Juli. Sementara, katanya, titik perihelion dicapai bumi pada tanggal 4 Januari 2022 yang lalu. Apabila dibandingkan dengan rata-rata jarak antara bumi dengan matahari, maka penyimpangan titik aphelion hanya 1.68 persen, demikian juga dengan titik perihelion. Hal ini bersesuaian dengan nilai eksentrisitas orbit bumi yang bernilai 0.01671 atau dengan kata lain orbit bumi pada hakikatnya hampir berupa lingkaran.
Prof Husin melanjutkan, apabila efek yang ditimbulkan oleh kemiringan poros rotasi bumi dibandingkan terhadap bidang orbit sebesar 23 derajat yang menimbulkan perbedaan musim antara bumi bagian utara dan selatan, maka efek dari aphelion dan perihelion praktis relatif sangat kecil terhadap cuaca di bumi.
"Oleh karena itu, cuaca ekstrim yang dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan seperti munculnya gejala batuk dan pilek, kecil kemungkinannya disebabkan oleh kedua posisi bumi dari matahari tersebut," kata Prof Husin Alatas, Sekretaris Eksekutif Center for Tranadisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University ini.
Baca juga: Dirikan Prodi Kedokteran, IPB University Berguru ke Unpad
Lihat Juga :