Guru Penggerak, Membuka Ruang Inovasi melalui Fleksibilitas Pembelajaran
Senin, 22 Juni 2020 - 13:21 WIB
loading...
Program Guru Penggerak akan menyeleksi dan membuat program untuk peningkatan kualitas guru.
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menerus memperbaiki sistem pedidikan guna mewujudkan pendidikan terbaik bagi seluruh siswa. Salah satunya membuat Program Guru Penggerak.
Program Guru Penggerak akan menyeleksi dan membuat program untuk peningkatan kualitas guru. Seleksi guru penggerak berasal dari eksternal maupun internal, Guru penggerak mengajar di Center of Excellence (CoE) dan PPG.
Program Guru Penggerak sudah digaungkan dalam pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim saat peringatan Hari Guru Nasional pada November 2019 terasa relevan ketika dihadapkan dengan situasi wabah Covid-19, di mana pembelajaran harus bisa dilakukan secara lentur atau fleksibel. Tak harus kaku di dalam kelas. Program ini merupakan ejawantah dari konsep merdeka belajar. Semangat dari Program Organisasi Penggerak adalah bahwa unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif.
Program Guru Penggerak dengan demikian akan memecah kebekuan dan membuka ruang seluas-luasnya untuk inovasi. Guru Penggerak diharapkan mampu mengambil tindakan yang muaranya memberikan hal yang terbaik untuk peserta didik. Program Guru Penggerak mengutamakan murid dari apa pun, bahkan dari kariernya, mengutamakan murid dan pembelajaran murid. “Karena itu mengambil tindakan-tindakan tanpa disuruh, diperintah, untuk melakukan yang terbaik. Ada juga yang namanaya orang tua penggerak. Falsafahnya sama, semua yang terbaik untuk anak,” terang Nadiem.
“Saya masih belum tahu jumlahnya berapa untuk guru penggerak. Tergantung siapa yang siap maju dan bergerak. Kalau di tiap sekolah ada paling tidak satu, harapannya minimal jumlah sekolah ya, 250.000 sampai 300.000, itu bisa kita dapatkan dalam 5 tahun ke depan. Itu bukan sesuatu yang cepat, sesuatu yang langsung dapat. Pertama, mereka harus menyadari apa sih perannya dan kita membantu untuk mereka bergerak. Kedua, dari sisi regulasi dan birokrasi kita harus bantu guru. PR kita banyak, regulasi dan kebijakan yang mungkin tidak memberikan mereka ruang inovasi,”terang Mendikbud Nadiem dalam laman Kemendikbud.go.id
“Untuk tahun 2020 mencari sebanyak mungkin guru-guru penggerak, untuk menjadi gurunya guru. Itu dulu. Proses identifikasi yang tersulit, secara skala nasional. Masalahnya guru yang terbaik untuk ngajar guru lain biasanya berasal dari daerah yang sama. Karena ada berbagai macam adat dan asas-asas yang menjadikan relasi itu lebih enak,” jelas Nadiem.
Guru penggerak yang ‘diproduksi’ Program Organisasi Penggerak diharapkan menginisiasi lahirnya Sekolah Penggerak. Kemudian Sekolah Penggerak akan menggerakkan sekolah lain di dalam ekosistemnya sehingga menjadi penggerak selanjutnya.
Program Guru Penggerak akan menyeleksi dan membuat program untuk peningkatan kualitas guru. Seleksi guru penggerak berasal dari eksternal maupun internal, Guru penggerak mengajar di Center of Excellence (CoE) dan PPG.
Program Guru Penggerak sudah digaungkan dalam pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim saat peringatan Hari Guru Nasional pada November 2019 terasa relevan ketika dihadapkan dengan situasi wabah Covid-19, di mana pembelajaran harus bisa dilakukan secara lentur atau fleksibel. Tak harus kaku di dalam kelas. Program ini merupakan ejawantah dari konsep merdeka belajar. Semangat dari Program Organisasi Penggerak adalah bahwa unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif.
Program Guru Penggerak dengan demikian akan memecah kebekuan dan membuka ruang seluas-luasnya untuk inovasi. Guru Penggerak diharapkan mampu mengambil tindakan yang muaranya memberikan hal yang terbaik untuk peserta didik. Program Guru Penggerak mengutamakan murid dari apa pun, bahkan dari kariernya, mengutamakan murid dan pembelajaran murid. “Karena itu mengambil tindakan-tindakan tanpa disuruh, diperintah, untuk melakukan yang terbaik. Ada juga yang namanaya orang tua penggerak. Falsafahnya sama, semua yang terbaik untuk anak,” terang Nadiem.
“Saya masih belum tahu jumlahnya berapa untuk guru penggerak. Tergantung siapa yang siap maju dan bergerak. Kalau di tiap sekolah ada paling tidak satu, harapannya minimal jumlah sekolah ya, 250.000 sampai 300.000, itu bisa kita dapatkan dalam 5 tahun ke depan. Itu bukan sesuatu yang cepat, sesuatu yang langsung dapat. Pertama, mereka harus menyadari apa sih perannya dan kita membantu untuk mereka bergerak. Kedua, dari sisi regulasi dan birokrasi kita harus bantu guru. PR kita banyak, regulasi dan kebijakan yang mungkin tidak memberikan mereka ruang inovasi,”terang Mendikbud Nadiem dalam laman Kemendikbud.go.id
“Untuk tahun 2020 mencari sebanyak mungkin guru-guru penggerak, untuk menjadi gurunya guru. Itu dulu. Proses identifikasi yang tersulit, secara skala nasional. Masalahnya guru yang terbaik untuk ngajar guru lain biasanya berasal dari daerah yang sama. Karena ada berbagai macam adat dan asas-asas yang menjadikan relasi itu lebih enak,” jelas Nadiem.
Guru penggerak yang ‘diproduksi’ Program Organisasi Penggerak diharapkan menginisiasi lahirnya Sekolah Penggerak. Kemudian Sekolah Penggerak akan menggerakkan sekolah lain di dalam ekosistemnya sehingga menjadi penggerak selanjutnya.