Guru Besar UGM dan 28 Ilmuwan Internasional Jadi Mentor Peneliti Muda Indonesia
Selasa, 16 Agustus 2022 - 12:16 WIB
loading...
A
A
A
“Bagi saya, hal ini sebagai ajang sharing pengalaman dan juga wahana belajar dari ilmuwan lain. Mudah-mudahan pengalaman saya yang sedikit sebagai peneliti di bidang administrasi publik di Fisipol Universitas Gadjah Mada, sebagai praktisi di bidang sumber daya manusia birokrasi di Komisi Aparatur Sipil Negara dan sebagai ketua Indonesian Association for Public Administration, bisa saya bagikan buat ilmuwan muda yang lain,” katanya, dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (16/8/2022).
Pada peneliti muda Indonesia, kata Agus Pramusinto, diharuskan memiliki semangat dan konsistensi dalam bidang ilmu yang mereka geluti. Namun, yang tidak kalah penting menurutnya adalah tidak mudah berputus asa dalam memublikasikan tulisan hasil riset mereka masing-masing di berbagai jurnal internasional.
“Kita harus memiliki passion di bidang yang kita geluti. Kita harus mencintai bidang yang menjadi denyut nadi hidup kita sehari-hari. Dalam dunia penulisan, kita harus tahan banting ketika tulisan kita dikembalikan untuk diperbaiki. Masih banyak peneliti kita yang merasa bahwa sekali menulis harus langsung publikasi. Ketika diminta memperbaikinya, banyak yang menyerah dan tidak mau melanjutkan untuk memperbaiki dan mempublikasikan,” ungkapnya.
Meski demikian, peneliti muda Indonesia menurutnya perlu menekankan pentingnya kolaborasi dalam memecahkan persoalan sosial di masyarakat. “Riset multidisiplin sangat diperlukan dan harus didorong terus-menerus. Karya publikasi harus diikuti dengan perubahan sistem penilaian yang tidak hanya menekankan linearitas seperti sekarang ini,” jelasnya.
Baca juga: Kemenkominfo-GNLD Siberkreasi Luncurkan 58 Buku Kolaborasi Seri Literasi Digital
Pada peneliti muda Indonesia, kata Agus Pramusinto, diharuskan memiliki semangat dan konsistensi dalam bidang ilmu yang mereka geluti. Namun, yang tidak kalah penting menurutnya adalah tidak mudah berputus asa dalam memublikasikan tulisan hasil riset mereka masing-masing di berbagai jurnal internasional.
“Kita harus memiliki passion di bidang yang kita geluti. Kita harus mencintai bidang yang menjadi denyut nadi hidup kita sehari-hari. Dalam dunia penulisan, kita harus tahan banting ketika tulisan kita dikembalikan untuk diperbaiki. Masih banyak peneliti kita yang merasa bahwa sekali menulis harus langsung publikasi. Ketika diminta memperbaikinya, banyak yang menyerah dan tidak mau melanjutkan untuk memperbaiki dan mempublikasikan,” ungkapnya.
Meski demikian, peneliti muda Indonesia menurutnya perlu menekankan pentingnya kolaborasi dalam memecahkan persoalan sosial di masyarakat. “Riset multidisiplin sangat diperlukan dan harus didorong terus-menerus. Karya publikasi harus diikuti dengan perubahan sistem penilaian yang tidak hanya menekankan linearitas seperti sekarang ini,” jelasnya.
Baca juga: Kemenkominfo-GNLD Siberkreasi Luncurkan 58 Buku Kolaborasi Seri Literasi Digital
Lihat Juga :